
Alan yang baru saja selesai membeli beberapa barang yang Bianca inginkan di salah satu supermarket yang berada tak jauh dari rumahnya, tersentak kaget saat berpapasan dengan Rebecca di pintu masuk. Tanpa melirik wanita itu, Alan berjalan dengan tak acuh melewatinya. Tak berniat sama sekali untuk menyapa wanita itu.
“Alan.” Rebecca dengan cepat menahan tangan Alan ketika melihat pria itu tak mempedulikannya. Menegur pun tidak.
“Ada apa?” Ucap Alan malas seraya melepaskan secara kasar pegangan Rebecca pada tangannya. Merasa jengkel karena wanita itu secara lancang menyentuhnya.
“Apa kau bisa menemaniku sebentar?” Rebecca menatap Alan memohon. Berharap pria itu bersedia menemaninya. Sekalipun tahu Alan telah menikah, Rebecca masih tetap tak rela untuk melepaskannya begitu saja. Walau tahu jika dari awal mereka tak pernah memiliki hubungan spesial.
“Sayangnya tidak bisa. Istriku sedang menunggu di rumah.”
Tanpa memedulikan ucapan Alan, Rebecca kembali menggenggam erat tangan pria itu. Memaksa Alan untuk melangkah menuju mobil putihnya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Alan yang sudah tak bisa lagi menahan kekesalannya, menghentakkan secara kasar tangannya yang digenggam erat oleh wanita itu. Ia tak punya lagi hasrat untuk bermain-main dengan wanita lain. Secantik dan semenggoda apa pun mereka.
“Istrimu tak akan tahu.” Rebecca berucap tak suka seraya menatap Alan jengkel. Padahal ia dengan sengaja sering berkunjung ke supermarket tersebut dengan harapan bisa bertemu Alan. Dan sekarang, pria itu justru menolak serta mengabaikannya.
“Tapi aku tak ingin menyakitinya.”
Rebecca sontak mengepalkan tangannya ketika mendengar ucapan pria itu. Saat bersamanya dulu, tak pernah sekalipun Alan memperlakukannya dengan manis. Pria itu bahkan tanpa ragu pergi meninggalkan dirinya disaat keinginannya telah terpenuhi.
“Aku sungguh tak menyangka kau berubah menjadi pria bodoh seperti sekarang ini.”
“Rebecca, jujur saja, aku tak punya banyak waktu untuk meladenimu. Menemani istriku di dirumah jauh lebih penting untukku.”
Seusai berucap, Alan segera menghampiri mobil sport hitam miliknya. Meninggalkan Rebecca yang hanya bisa terdiam dengan wajah memerah menahan amarah. Ia tak terima Alan memperlakukannya dengan begitu buruk.
“Brengsek!” Umpat Rebecca. Kebencian semakin terpancar jelas dari kedua matanya saat mengingat sosok Bianca.
***
“Sayang.” Alan yang baru saja tiba di kamarnya, segera menghampiri Bianca yang duduk santai di dekat jendela. Wanita itu sedang menikmati segelas teh hijau hangat yang Sofie buatkan untuknya.
__ADS_1
“Apa kau sudah membeli semuanya?” Tanya Bianca setelah Alan mengecup keningnya sekilas. Pria itu mengangguk pelan seraya menyerahkan struk belanjaan padanya.
“Aku menyuruh Sofie untuk menyimpan semuanya.”
“I love you.” Ucap Bianca seraya tersenyum senang. Ia memang dengan sengaja menyuruh Alan pergi membelikannya beberapa body lotion, pelembab wajah serta masker pengeluaran terbaru dari salah satu merk yang sering dipakainya. Bukan karena Bianca membutuhkannya. Ia hanya menginginkannya saja. Apalagi saat melihat kemasannya yang begitu lucu.
“Bianca, tadi aku bertemu dengan Rebecca.”
Senyuman yang tadi menghiasi bibir Bianca, perlahan menghilang. Digantikan dengan raut wajah tak suka.
“Dia memintaku untuk menemaninya sebentar tapi aku menolaknya.” Alan kembali melanjutkan ucapannya saat mendapati Bianca menatapnya datar. Berharap wanita itu tak marah padanya.
Bianca mengangguk mengerti. Ia percaya pada suaminya. Melebihi apa pun. Hanya saja, ia tak pernah suka ketika kembali teringat akan sosok wanita itu. Beruntung Alan tak menggubrisnya. Bianca hanya takut jika wanita itu sedang merencanakan sesuatu yang buruk dan berakhir dengan menghancurkan kebahagiaan mereka berdua.
“Aku percaya padamu, Alan.”
Alan tersenyum lega seraya menggenggam tangan Bianca. Mengajak wanita itu melangkah menuju tempat tidur. Hari ini Alan kembali memutuskan untuk tak datang ke kantor dan memilih menyelesaikan beberapa pekerjaannya dari rumah. Sebenarnya, ia bisa saja melakukannya sejak pertama kali tak masuk bekerja, hanya saja, Alan tak pernah bisa tenang setiap kali meninggalkan Bianca seorang diri disaat tubuhnya masih sering merasa lelah atau pusing secara tiba-tiba.
Bianca yang mendengar ucapan menggelitik Alan, sontak menggigit gemas lengan pria itu yang memeluknya dari arah belakang.
Alan tak mau kalah, ia balas menggigit bahu Bianca pelan. Lalu memajukan sedikit wajahnya untuk menggapai bibir wanita itu.
Keduanya kembali berciuman lembut. Sebisa mungkin, Alan tak mengubah pergerakan bibirnya menjadi sedikit menggebu. Ia ingin menikmati tautan bibir mereka berdua secara perlahan.
***
Jimmy yang baru saja tiba di rumah menjelang jam makan malam, segera melangkah menuju kamarnya lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur bersprei krem miliknya. Baru kali ini ia merasa sangat lelah. Pekerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya. Sekalipun Lucy ikut membantunya, tetap saja ia yang memiliki peran penting.
“Jimmy.” Panggil Fiona seraya menyembulkan sedikit tubuhnya dari balik pintu. Ia menatap Jimmy heran.
“Fiona, kemarilah.” Ucap Jimmy. Pria itu masih memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
“Apa kau ingin langsung beristrirahat?”
Jimmy tak menjawab. Pria itu justru menatap Fiona lekat sembari memintanya untuk mendekat. Dengan satu kali gerakan, Jimmy berhasil menarik tengkuk Fiona agar memudahkannya untuk mengulum bibir menggoda wanita itu.
“Aku jauh lebih menginginkanmu.” Bisik Jimmy. Pria itu tersenyum menggoda lalu beralih mengecup leher Fiona.
“Jimmy, ak—”
Terlambat. Fiona sudah tak bisa melarikan diri lagi. Di matanya, Jimmy terlihat seperti seekor binatang buas yang sedang kelaparan. Yang siap menerkamnya hidup-hidup dari arah manapun yang tak ia sangka-sangka.
Jimmy tersenyum simpul. Sebelah tangannya telah mengelus salah satu tubuh bagian atas Fiona. Tak lama lagi, rasa lelahnya akan segera tergantikan oleh kenikmatan yang mendambakan.
***
Rebecca yang baru saja sampai disebuah hotel ternama, segera melangkah memasuki lift yang sedang kosong. Malam ini, ia memiliki satu janji bertemu dengan seorang pria yang belum lama dikenalnya.
“Martin.” Ucap Rebecca setelah memasuki sebuah kamar hotel bernomor 2086. Tak jauh darinya, seorang pria berkulit putih dengan sedikit bintik-bintik kecoklatan pada wajahnya menyambut wanita itu hangat.
Satu kecupan berhasil ia daratkan pada bibir Rebecca.
“Aku sangat merindukanmu.” Bisik Martin. Pria itu secara sengaja menggigit daun telinga Rebecca.
Rebecca menyeringai kecil. Martin adalah pria yang dikenalnya saat berada di club langganannya. Menurutnya, pria itu mempunyai bentuk tubuh yang menyerupai Alan. Pun model rambut mereka. Setidaknya, Rebecca bisa bersenang-senang dengan pria yang memiliki kesamaan dengan Alan. Sekalipun tak bisa memiliki orangnya secara langsung.
“Sungguh? Aku ragu kau hanya mengatakanya padaku saja.” Goda Martin. Kedua tangannya telah berada pada pinggang Rebecca yang tertutupi long dress hitam seksi.
“Oh, Martin. Kau tahu betul jika aku hanya memilikimu seorang.” Rebecca dengan sengaja mendaratkan satu kecupan mesra pada dada kiri pria itu yang hanya tertutupi jubah mandi.
Martin tertawa kecil. Secara tak sabaran, ia mencium bibir Rebecca. Menyudutkan wanita itu ke tembok seraya menarik pelan tali pengikat gaunnya yang berada di bagian belakang.
Bersama Martin, Rebecca bisa membayangkan jika Alan lah yang sedang bercinta dengannya.
__ADS_1