
Kedatangan mendadak Alan di perusahaan Wilson sontak membuat seluruh karyawan yang berada di sana menatapnya kaget. Mereka tahu betul siapa sosok pria yang saat ini tengah melangkah angkuh menuju lift itu. Alan terus saja berjalan santai tanpa mau merepotkan dirinya untuk menyapa ataupun tersenyum pada setiap orang yang dilihatnya. Tujuan kedatangannya hanyalah satu: menyapa paman tersayangnya.
“Mr. Drax.” Anne—sekretaris Wilson, yang baru saja melihat Alan, berucap panik seraya bangkit dari duduknya. Apalagi ketika melihat Alan berniat untuk memasuki ruangan bosnya.
“Minggir.” Desis Alan seraya menatap Anne tajam. Wanita itu secara tiba-tiba menghadangnya dengan raut wajah pucat.
“Maafkan aku, tapi Mr. Benjamin sedang ada tamu penting.” Alan sontak menyeringai kecil tatkala mendengar ucapan Anne barusan. Tamu penting? Ia tak peduli sama sekali.
Setelah berhasil membuat sekretaris Wilson menyingkiri dari depan pintu, Alan sontak menerobos masuk dengan kasar. Hingga membuat bunyi dentuman pada pintu. Rusak sekalipun ia juga tak peduli.
“Bukankah sudah kubilang untuk tak—” Ucapan Wilson sontak terhenti ketika baru saja melihat siapa yang dengan berani memasuki ruangannya. Tak jauh darinya, ia mendapati Alan tengah berdiri santai dengan tangan yang terlipat di dada.
“Apakah ini tamu penting yang sekretarismu maksud?” Tanya Alan santai. Saat ini, seorang wanita dengan tubuh setengah telanjang sedang berada di atas pangkuan pria tua itu.
Wilson masih setia terdiam. Tak lama, ia segera menyuruh wanita yang sedang bersamanya untuk pergi. Lalu memperbaiki penampilannya sendiri.
“Ada apa?” Tanya Wilson. Ia segera bangkit dari duduknya di atas sofa dan beralih untuk melangkah menuju meja kerjanya. Lengkap dengan gaya angkuh. Yang sayangnya, justru terlihat begitu menyedihkan di mata Alan.
“Tak ada apa-apa. Aku hanya sedang merindukanmu.” Jawab Alan sembari tersenyum simpul. Perlahan, ia melangkah pelan menuju lemari pendingin yang berada di dalam ruangan Wilson. Dan mengambil sekaleng bir dari dalam sana. Matahari sudah sejak tadi bersinar dengan terik, jadi tak ada salahnya jika ia minum sedikit.
Wilson berdecih sembari menatap Alan tak suka.
Setelah menandaskan setengah dari isi kaleng bir tersebut, Alan segera mengayunkan kakinya menuju sofa. Duduk santai tanpa mau repot-repot meminta persetujuan dari Wilson.
“Aku sedang sibuk.” Seru Wilson dengan nada tak bersahabat. Walau pada kenyataannya, jantungnya di dalam sana tengah berdegup kencang.
Alan tertawa sejenak. Tak lama, iris hitamnya menatap Wilson lekat.
“Aku hanya ingin memberitahumu, jika tikus kecil suruhanmu sudah berada di dalam penjara.” Tubuh Wilson sontak menegang setelah mendengar ucapan Alan barusan. Raut wajahnya pun berubah menjadi pucat. Ia sungguh tak menyangka jika Alan akan secepat ini mengetahui semuanya.
“Aku tak paham sama sekali akan maksud ucapanmu.” Kilah Wilson. Ia tetap berusaha untuk terlihat tenang di hadapan Alan.
“Paman, hanya kau satu-satunya yang akan memilih cara kotor untuk menjatuhkanku.” Alan berucap tanpa beban seraya kembali menenguk isi kaleng bir yang berada di dalam genggamannya. Ia masih tak habis pikir akan cara yang Wilson pilih untuk mengusiknya. Padahal pria tua itu jelas-jelas tahu jika ia bukanlah seseorang yang mudah untuk dijatuhkan.
__ADS_1
“Berikan hak Jasmine, dan aku akan membiarkanmu hidup tenang.” Ucap Wilson dengan nada mengancam. Ia seolah lupa jika pria yang saat ini sedang bersamanya adalah seorang “Drax.”
Perlahan, Alan bangkit dari duduknya untuk menghampiri Wilson. Ia berdiri tenang di depan pria itu. Namun kedua iris hitamnya menatap Wilson tajam dan tak bersahabat.
“Bukankah kau menjanjikan saham pada Edric jika dia berhasil melakukan perintahmu?”
“Dan kau percaya begitu saja pada pria bodoh itu?” Wilson tanpa sadar berucap jengkel. Setelahnya, ia menatap Alan dengan ekspresi kaget.
“Dengarkan aku baik-baik,” ucap Alan. Ia kembali menghabiskan tegukan terakhir bir yang dipegangnya.
“Kau menjual seluruh perusahaanmu pun, tak akan mampu untuk membeli satu anak perusahaanku, Paman.” Lanjut Alan penuh percaya diri. Jika memang perusahaan Wilson lebih baik darinya, pria itu pasti tak akan mau melakukan cara kotor hanya untuk mengemis saham padanya.
“Kau mengancamku?” Tanya Wilson tak percaya. Kedua tangannya yang berada di atas meja terkepal kuat.
“Tidak. Aku hanya memberitahumu saja.” Jawab Alan santai.
“Tapi, aku tak pernah suka jika kau sampai mengusikku dengan cara kotor.” Desis Alan tajam. Ia sontak meremas kuat kaleng bir yang masih berada di dalam genggamannya hingga penyok tak berbentuk.
“Setelah ini, kau hanya perlu menunggu hadiah balasan dariku.” Ucap Alan sembari tersenyum simpul. Ia segera meletakkan keleng bir yang penyok tersebut di atas meja kerja Wilson. Lalu berbalik dan melangkah pergi. Meninggalkan Wilson seorang diri yang masih setia duduk mematung.
“Brengsek!” Teriak Wilson tak terima. Ia segera menghempaskan ke lantai kaleng bir yang Alan tinggalkan. Dadanya naik turun seiring dengan kemarahannya.
Ia tak bisa menebak apa yang akan Alan lakukan padanya. Dan itu benar-benar membuatnya merasa takut.
***
Bianca yang tengah fokus memeriksa laporan yang baru saja Lucy berikan, tak menyadari sama sekali kehadiran Alan. Sesekali, kepalanya mengangguk kecil ketika membaca tulisan yang tertera pada kertas putih tersebut. Atau tak jarang, bibirnya bergumam tak jelas.
“Hei.” Sapa Alan sembari memeluk Bianca dari arah belakang. Yang tentu saja membuat wanita itu berjengit kaget.
“Alan!” Pekik Bianca seraya menatap Alan kesal. Yang justru dibalas pria itu dengan kecupan lembut pada pipi kirinya.
“Di mana Jimmy?” Tanya Alan setelah mendudukkan dirinya di sofa. Di sebelah Bianca.
__ADS_1
“Keluar.” Jawab Bianca singkat. Ia kembali fokus menatap kertas putih yang berada di depannya.
“Bianca.” Bisik Alan. Setelah meletakkan tangannya pada dagu Bianca, ia memaksa wanita itu untuk segera menatapnya.
“Ap—” Tepat setelah Bianca berbalik untuk menatapnya, Alan dengan cepat menyambar bibir Bianca. Mengulumnya pelan seraya meletakkan sebelah tangannya pada pinggang wanita itu.
Beruntung Jimmy sedang tak ada, jadi Alan bisa berbuat sesukanya.
Kedua mata Bianca ikut terpejam. Ia juga balas mengikuti setiap pergerakan bibir Alan.
Sengatan yang menyenangkan langsung mengaliri seluruh tubuh Bianca ketika Alan beralih untuk mengelus lembut pahanya yang tertutupi stocking tipis dan transparan berwarna hitam. Bianca memakai rok selutut serta kemeja dan blazer sebagai pakaian kerjanya hari ini.
Bianca segera menjauhkan wajahnya dari Alan ketika mendengar suara ketukan kecil pada pintu. Ia yakin jika itu adalah Jimmy.
“Masuk.” Teriak Alan jengkel karena aktifitasnya bersama Bianca terganggu.
“Nona.” Ucap Jimmy ketika ia baru saja masuk di dalam ruangan Alan. Ia segera meletakkan sebuah paper bag berwarna putih di atas meja, di depan Bianca.
“Thanks, Jimmy.” Seru Bianca senang. Kedua tangannya segera menyambar paper bag tersebut. Lalu mengeluarkan sebuah burger keju berukuran besar dan segelas minuman dingin bersoda.
“Kau belum makan siang?” Tanya Alan. Jam telah menunjukkan pukul tiga sore. Ia memang telah menyuruh Bianca untuk makan siang bersama Jimmy. Karena ia harus menemui seseorang—Wilson dan tak tahu apakah akan pulang cepat atau tidak.
“Sudah. Tapi aku lapar lagi.” Jawab Bianca seraya menyeruput minuman dingin bersoda miliknya. Tadi, ketika melihat Jimmy baru saja selesai berbicara dengan Fiona melalui sambungan telfon, ia segera meminta pria bermata biru itu untuk membelikannya makanan. Awalnya, Jimmy menyarankan Bianca untuk memesan secara delivery agar tak menunggu terlalu lama. Tapi Bianca menolak, dengan alasan, rasanya pasti akan berbeda.
Jimmy tak punya pilihan lain. Ia tak tega. Apalagi saat Bianca memasang wajah memohon. Beruntung tuannya sedang tak ada. Jika Alan melihatnya, pria itu pasti akan menatapnya dengan mata memicing.
“Jimmy.” Panggil Bianca. Satu burger keju berukuran besar baru saja ia tandaskan. Bahkan mampu membuat Alan menatapnya tak percaya.
“Ya, Nona Bianca.”
“Apa aku boleh datang menemui Jane?” Tanya Bianca seraya menatap Jimmy lekat.
“Tentu saja.” Jawab Jimmy seraya tersenyum simpul. Ia tak mampu menutupi perasaan bahagianya ketika Jane juga dikelilingi oleh orang-orang baik. Apalagi Bianca kerap kali membawakan sesuatu untuk Jane ketika datang ke rumahnya. Sekalipun sudah menolak, Bianca tetap tak peduli. Wanita itu sudah menganggap Jane seperti keluarganya sendiri, sama halnya dengan dirinya pun Fiona.
__ADS_1
“Besok. Sebentar malam, kau ada urusan denganku.” Alan yang sedari tadi tetap berada di sisi Bianca seraya menatap layar ponselnya, akhirnya membuka suara. Ia menatap Bianca seraya menyeringai penuh arti.
Tak lama, Bianca menunduk dengan wajah merona setelah sebelumnya menatap Jimmy sekilas. Dan mendapati pria itu tengah tersenyum kecil.