Married With The Devil

Married With The Devil
Kehangatan Yang Dirindukan


__ADS_3

Alan meletakkan ponselnya secara kasar pada dashboard mobil. Ia sudah mencoba berkali-kali untuk menghubungi Bianca dan tak mendapatkan jawaban walau hanya sekali. Bukan hanya itu, terkadang, Bianca secara sengaja menolak panggilannya. Alan tak punya petunjuk perihal keberadaan Bianca. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah mendatangi sekolah Bianca. Dengan harapan, ia bisa bertemu dengan wanita itu.


“Alan.” Lily yang berniat melangkah pulang, tersentak kaget saat melihat Alan berada di halaman sekolahnya. Dengan cepat, ia segera bersembuyi di dekat tembok.


Tak jauh darinya, Lily melihat Alan sedang berbicara pada beberapa siswa. Ia yakin jika pria itu tengah menanyakan keberadaan Bianca. Sayangnya, hari ini Bianca memutuskan untuk tak masuk sekolah. Selain karena Bianca tak membawa seragam, wanita itu juga sudah menduga jika Alan pasti akan datang ke sekolah untuk mencarinya. Dan ternayat benar.


“Bagaimana ini?” Guman Lily seraya menatap Alan. Bianca adalah sahabatnya dan ia akan mendukung apa pun pilihan wanita itu. Tapi di sisi lain, Lily juga tak tega membiarkan Alan bertanya kesana-kemari. Apalagi kantung mata Alan terlihat mengerikan.


“Mr. Drax.” Panggil Lily seraya menghampiri Alan. Ia sudah membuat keputusan


Bianca, maafkan aku.


“Ms. Chasel.” Alan menatap Lily penuh harap. Sudah sedari tadi ia bertanya namun tak ada satu pun yang melihat Bianca.


“Apa kau tahu Bianca ada di mana?” Ada nada putus asa di dalam suara Alan. Bianca benar-benar berhasil membuatnya menjadi pria lemah.


“Untuk apa kau mencarinya?” Lily bertanya dengan sedikit rasa takut. Tapi ia ingin memastikan lebih dulu tujuan Alan. Ia takut membuat keputusan yang salah yang justru membuat Bianca semakin tersakiti.


“Aku ingin bertemu dengannya. Aku juga ingin memohon maaf dan menceritakan semuanya pada Bianca.” Alan berucap jujur seraya menatap Lily lekat. Semalam, ia sudah memutuskan untuk mengatakan semuanya pada Bianca. Alan ingin Bianca tahu semua tentang dirinya.


“Bianca … ada di rumahku.” Ucap Lily pelan.


“Biarkan aku mengantarmu.” Alan dengan cepat melangkah menuju mobilnya, diikuti dengan Lily. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan wanitanya. Membuat Bianca kembali berada di dalam pelukannya adalah satu-satunya hal yang ia inginkan saat ini.


“Mr. Drax.” Panggil Lily.


Alan tak menjawab. Ia tengan fokus mengemudikan mobilnya menuju rumah Lily sesuai dengan petunjuk dari gadis itu.


“Bisakah aku meminta satu hal padamu?” Tanya Lily seraya menatap Alan sekilas. Lalu kembali menatap jalanan di hadapannya.


“Tolong, jangan menyakitinya lagi. Bianca sudah terlalu banyak menderita.” Lily berujar dengan suara pelan. Ia menyayangi Bianca dan tak ingin melihat sahabatnya itu menderita lebih banyak lagi. Bianca pantas untuk bahagia.


Alan masih setia menutup rapat mulutnya. Tapi tangannya memegang kemudi mobil dengan kuat ketika mendengar ucapan Lily. Ia sadar jika telah bersikap bodoh. Mengaku mencintai Bianca namun nyatanya justru menyakiti wanita itu. Ia bahkan telah berjanji.

__ADS_1


***


Bianca yang baru saja selesai mandi, melangkah menuju pintu ketika mendengar suara bel. Yakin jika Lily yang pulang. Sebab, kedua orang tua gadis itu sedang bekerja dan akan pulang pukul tujuh malam nanti.


“Lily.” Panggil Bianca setelah ia membuka pintu dan balas tersenyum pada Lily. Masih tak menyadari keberadaan Alan yang berada di dekat pintu.


“Siapa?” Lily menatap sosok yang berada di belakang Bianca dengan mata membulat. Adik laki-lakinya, yang masih duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah pertama, berada di belakang tubuh Bianca tanpa memakai baju. Hanya boxer pendek di atas lutut.


Bianca mengernyit bingung. Merasa aneh akan sikap Lily.


“Lily, kau kena—”


Bianca tak melanjutkan ucapannya ketika Alan secara tiba-tiba berada berdiri di hadapannya. Menatapnya tajam dengan mata memicing.


“Brian, cepat masuk!” Teriak Lily seraya melangkah masuk ke dalam rumah. Dengan cepat, ia mendorong tubuh tinggi saudaranya untuk meninggalkan Alan dan juga Bianca.


“Lily, ada apa deng—” Lily langsung membungkam mulut saudaranya saat melayangkan protes padanya. Adik bodohnya itu benar-benar tak mengerti situasi.


“Untuk apa kau datang ke sini? Bukankah kau sendiri yang meminta waktu untuk menyendiri?” Bianca berucap ketus seraya menyilangkan kedua tangan di dada.


“Maafkan aku.” Lirih Alan. Iris hitamnya menatap Bianca penuh kerinduan.


Bianca masih bergeming. Walau tak dipungkiri, ia juga merindukan pria itu.


“Pulanglah. Kau bisa menikmati waktu menyendirimu dengan bebas.” Alan segera menarik Bianca ke dalam pelukannya. Ia merengkuh wanita itu erat seraya mengecup pucuk kepalanya lama. Hatinya berdenyut sakit ketika Bianca bersikap dingin padanya. Dibanding dengannya, apa yang dirasakan Bianca mungkin jauh lebih buruk lagi.


“Lepaskan aku!” Desis Bianca seraya meronta di dalam dekapan Alan.


“Maafkan aku.” Alan kembali berbisik seraya memohon maaf. Ia tak sanggup jika harus berpisah lebih lama lagi dengan wanitanya.


Bianca terdiam. Ia tak lagi meronta namun hatinya belum bisa memaafkan Alan begitu saja.


“Alan, jika janjimu padaku waktu itu membuatmu merasa terbebani, kau bisa melupakannya.” Ucap Bianca.

__ADS_1


“Tidak! Bianca, aku datang ke sini untuk mengajakmu pulang. Aku tak ingin masalah ini terus berlarut. Aku sadar jika aku yang salah.” Alan berucap frustasi seraya menatap Bianca intens. Pikirannya benar-benar kacau saat ini. Alan tak tahu lagi harus melakukan apa jika Bianca masih menolak untuk memaafkannya dan pulang bersama.


Bianca masih menutup rapat mulutnya. Setelah melepaskan pelukan Alan, ia segera berbalik dan melangkah masuk.


“Bianca!” Panggil Alan. Wajahnya terlihat kacau.


“Aku ingin mengambil tas dan ponselku.” Jawab Bianca. Dengan cepat, ia melangkah menuju kamar Lily untuk mengambil semua barangnya.


“Lily, terima kasih.” Ucap Bianca seraya memeluk Lily sekilas. Gadis itu tetap bersikeras untuk mengantarnya sampai ke pintu. Di sebelahnya, Brian tengah menatap Alan lekat—yang juga memaksa untuk mengantar Bianca.


“Apa kau kekasihnya?” Brian bertanya dengan nada tak bersahabat pada Alan. Sehingga membuat Lily dengan cepat menginjak kakinya.


“Brian, aku pulang dulu.” Seru Bianca seraya mengacak sekilas rambut Brian. Alan memberengut. Dengan cepat, ia menarik tangan Bianca dan menggenggamnya erat.


“Ayo.” Ucap Alan seraya menarik tangan Bianca untuk melangkah pergi. Ia tak suka melihat wanita itu menyentuh pria lain. Tadi, ketika melihat adik laki-laki Lily yang bertelanjang dada sedang bersama Bianca, Alan berusaha keras untuk menahan dirinya agar tak memaki anak laki-laki itu. Tubuhnya memang cukup tinggi. Tapi wajahya masih seperti anak kecil. Tsk!


***


Setibanya di rumah, Bianca segera membuka pintu mobil tanpa mau menunggu Alan. Ia juga langsung masuk ke dalam rumah dan melangkah menuju lantai dua. Lancang? Terserah Alan mau menganggapnya seperti apa.


“Bianca.” Alan memanggil Bianca dengan suara pelan seraya menatap wanita itu yang tengah duduk di pinggir tempat tidur. Perlahan, Alan mendekat dan duduk di hadapan Bianca dengan menjadikan kedua lututnya sebagai tumpuan. Kepalanya mendongak untuk menatap iris coklat wanita itu.


“Alan, ada apa sebenarnya denganmu?” Bianca berucap dengan suara parau seraya balas menatap Alan. Wajah pria itu terlihat kacau. Ditambah kantung mata yang sedikit menghitam.


Alan tak menjawab. Ia lebih memilih untuk mengangkat sebelah tangan Bianca lalu meletakkannya pada pipi sebelah kanannya. Kedua mata Alan terpejam. Kehangatan yang dirindukannya, kini telah ia rasakan kembali.


Bianca tak sanggup lagi menahan tangisannya ketika melihat keadaan Alan. Pria yang saat ini berada di hadapannya, berbeda jauh dengan pria yang dulu ditemuinya untuk pertama kali. Tak ada lagi wajah datar, tatapan tajam atau pun seringaian nakal yang biasa pria itu tunjukkan padanya. Semuanya menghilang dan digantikan dengan kesedihan yang mendalam.


“Bianca, mau mendengar ceritaku?” Tanya Alan dengan suara lirih.


Bianca mengangguk pelan seraya memegang kedua pipi Alan. Bibirnya tersenyum simpul.


Satu kecupan ia daratkan pada bibir Alan. Lalu berpindah pada kedua matanya. Dan terakhir, Bianca mengecup lama kening Alan. Berharap, perasaannya pada pria itu tersampaikan tanpa harus ia ungkapkan.

__ADS_1


__ADS_2