Married With The Devil

Married With The Devil
Jebakan


__ADS_3

Jimmy melangkah memasuki De-Holy Sunset hotel dengan santai. Setelah memastikan keadaan sekitarnya, ia segera berjalan menuju ruang CCTV yang terletak di lantai tiga puluh—lantai paling atas yang hanya terdapat tiga ruangan. Satu gudang, satu ruangan untuk memonitor seluruh cctv dan satu lagi ruangan sang pemilik hotel.


“Siapa kau?” Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun yang sedang berjaga tersentak kaget ketika Jimmy tiba-tiba saja masuk. Ruangan tersebut tidak dikunci sehingga lebih memudahkan Jimmy.


“Cepat tunjukkan padaku rekaman cctv tiga hari yang lalu.”


“Keluar!” Pria tadi berteriak marah seraya menatap Jimmy tajam. Dengan sigap, ia segera meraih gagang telepon. Berniat untuk menghubungi security.


Dengan cepat, Jimmy segera menghampirinya lalu memukul tangannya yang sedang memegang gagang telepon. Mencegahnya untuk memanggil staf keamanan.


“Cepat tunjukan padaku jika kau memang masih ingin selamat.” Jimmy berucap dengan nada mengancam. Sama seperti Alan, saat ini juga ia sedang dalam kondisi tidak baik. Pikirannya kacau. Ia hanya berharap jika istri tuannya dalam keadaan baik.


“Aku tidak takut sama sekal—” Sang pria sontak terdiam ketika Jimmy menunjukkan sebuah kartu padanya. Matanya membulat tak percaya. Dikartu berwarna hitam tersebut, tertulis ”Drax Coorporation,” bersama fotonya yang berukuran sedang. Ia memang bisa saja tak percaya. Tapi kartu yang Jimmy perlihatkan padanya adalah kartu limited yang hanya dimiliki oleh petinggi perusahaan tersebut. Dan menurut berita yang beredar, kartu tersebut tidak bisa dipalsukan. Hanya lima orang yang memilikinya. Termasuk Alan dan Jimmy, selebihnya adalah pemegang saham dalam jumlah kecil.


“Ini, Tuan.” Pria tadi berucap dengan kepala tertunduk. Berurusan dengan Drax adalah hal terakhir yang tidak pernah diinginkannya. Bahkan jika ia tak salah ingat, Alan Drax juga menjadi pemegang saham di hotel tempatnya bekerja.


“Nona.” Lirih Jimmy. Matanya memerhatikan layar monitor lekat serta jarinya dengan cekatan menekan tombol keyboard. Jimmy mempercepat rekaman cctv tersebut ke waktu di mana ia dan Alan masih menghadiri rapat bisnis.


Dapat!


Jimmy menatap sosok Bianca yang berjalan keluar dari ruangan pesta ulang tahun untuk menuju toilet. Jimmy menunggu beberapa menit, tapi Bianca masih belum juga keluar. Padahal suasana sduah mulai sepi.


Tak berselang lama, Jimmy melihat seorang gadis juga memasuki toilet tersebut, disusul dengan seorang lelaki. Jimmy tak bisa melihat dengan jelas wajahnya, karena mereka berdua dengan sengaja tak menatap cctv.


“Brengsek!” Jimmy mengumpat marah ketika ia melihat dua orang tadi keluar dari dalam toilet bersama dengan Bianca. Sang pria terlihat menggendong Bianca di punggungnya. Jimmy kembali tak bisa melihat wajahnya karena mereka berdua menunduk. Apalagi sang pria memakai topi.


Dengan cepat, Jimmy berlari keluar. Ia bersumpah akan segera mencari dan menemukan Bianca. Dengan cara apapun. Bahkan jika sampai harus membunuh sekalipun.


***


Cathy duduk seraya menyilangkan kakinya. Matanya menatap Alan yang sedang terlihat kacau. Saat ini ia sedang mengunjungi pria itu di kantornya. Dan Cathy merasa beruntung karena tak menemukan keberadaan Jimmy.


“Kau sakit?” Cathy bertanya dengan nada lembut yang dibuat-buat. Tapi tak mendapatkan balasan apapun dari Alan. Pria itu tengah sibuk menatap layar ponselnya.


Cathy tak menyerah. Ia kembali mencoba untuk menarik perhatian Alan.


“Alan, di mana Jimmy?”


“Tak ada urusannya denganmu.” Ketus Alan.


“Aku juga tidak melihat wanita itu. Di mana dia?” Cathy berucap dengan nada tak suka dan sukses membuat Alan mendongak namun tak mengucapkan apapun.


“Bukankah aku sudah memperingatkanmu?” Ucap Alan dingin. Matanya menatap Cathy tajam.


“Sejujurnya aku berharap wanita itu menghilang dari keh—”


“Tutup mulutmu!” Alan berteriak marah seraya menatap Cathy dengan mata menyala. Iris hitamnya semakin terlihat gelap.

__ADS_1


Cathy menatap Alan takut namun tak mengurungkan niatnya untuk menghina Bianca di depan pria itu.


“Apa? Aku hanya berkata jujur.” Seru Cathy tak acuh. Bibirnya tersenyum licik.


“Seharusnya kau bersyukur karena selama ini aku sudah berusaha bersikap baik padamu.” Alan masih menatap Cathy tajam.


“Wajar aku melakukannya, aku ini anak dari saudara ibu—”


“Aku tak memiliki ibu. Katakan sekali lagi dan aku tak akan segan menyeretmu keluar.” Cathy menatap Alan tak percaya. Tangannya mengepal. Ia sudah tak tahan lagi.


“Alan, sadarlah. Wanita miskin itu hanya ingin memanfaatkanmu. Yang dia inginkan hanyalah hartamu!”


“Dia tak sama sepertimu. Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan dibelakangku selama ini?” Salah satu sudut bibir Alan menyunggingkan seringaian mengerikan. Tubuh Cathy mendadak bergetar takut.


“Ap–apa maksudmu?” Tanya Cathy bingung.


“Kau pikir aku tidak tahu perihal hubungan gilamu dengan Wilson? Bahkan sebelum tanah kuburan Jasmine mengering kalian sudah berada di atas ranjang.”


Cathy sontak menatap Alan tak percaya. Rasa takut langsung menyelubungi dirinya. Bagaimana mungkin Alan bisa tahu padahal ia dan Wilson sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikannya.


“Alan, kau–dari man—”


“Dari mana aku tahu? Tak sulit bagiku. Kau pikir uang yang aku berikan padamu setiap bulannya cukup untuk membeli semua barang-barang mewah yang sering kau pakai? Kedua orang tuamu hanya bekerja sebagai pelayan restoran.”


Cathy masih terdiam dengan bibir yang tertutup rapat.


“Alan, aku–aku bisa menjelaskan semuanya padamu.” Cathy berteriak panik seraya menghampiri Alan.


“Katakan pada Wilson, jika kalian berdua, tidak akan mendapatkan sepeser pun.” Alan tahu jika Cathy dan Wilson bersekongkol untuk mendapatkan hartanya. Namun ia bukan pria bodoh. Julukan Jimmy sebagai tangan kanannya pun juga bukan hanya gelar semata.


Dengan wajah pucat, Cathy segera melangkah keluar. Ia harus memastikan jika Wilson tidak mengetahui apa yang baru saja terjadi. Ia bukan hanya akan kehilangan uang, tapi Cathy yakin jika Wilson pasti akan menyakitinya.


***


Jimmy masih setia berada di dalam mobilnya yang terparkir di depan gedung sekolah Bianca. Hari ini ia lebih memilih untuk memakai mobilnya sendiri seraya berpakaian kasual. Matanya menatap lekat setiap siswa yang berjalan keluar berhubung sekarang adalah jam pulang sekolah.


Pandangan Jimmy sontak tertuju pada seorang gadis yang memakai rok sekolah mini. Bentuk tubuh dan warna rambutnya sama persis dengan yang terlihat di cctv kemarin. Dengan cepat, Jimmy segera keluar dari dalam mobilnya ketika melihat gadis itu berjalan menuju gerbang sekolah.


Mata Stacy langsung tertuju pada Jimmy yang baru saja keluar dari dalam mobil. Wajah tampan serta mata berwarna biru laut pria itu benar-benar menarik perhatiannya. Insting wanitanya dengan cepat bekerja. Ia bahkan tanpa ragu berjalan menghampiri Jimmy.


“Hai.” Sapa Stacy ramah seraya tersenyum lebar. Sementara Jimmy balas tersenyum. Yang tentu saja membuat Stacy menjerit senang dalam hati.


“Bisakah kau menolongku?” Jimmy bertanya dengan ekspresi bingung. Berpura-pura meminta tolong adalah hal yang tepat.


“Dengan senang hati aku akan menolongmu.”


“Aku sedang mencari sebuah toko aksesoris. Adikku bilang tempatnya berada tak jauh dari sini.”

__ADS_1


“Aku tahu. Apa kau ingin aku mengantarmu?” Stacy berujar cepat. Kesempatan yang ia dapatkan saat ini tak akan ia sia-siakan begitu saja. Berhubung Rico sedang tidak ada, mencari pria lain tak ada masalahnya.


“Tentu saja.” Jimmy dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Stacy, tepat di sebelahnya.


“Aku Stacy, Stacy Thompson.” Ucap Stacy memperkenalkan diri pada Jimmy yang sedang melajukan mobilnya menuju toko aksesoris yang ia arahkan.


“Apa kau anak dari Dr. Thompson?” Tanya Jimmy.


“Kau kenal dengan Ayahku?” Stacy menatap Jimmy tak percaya. Ayahnya benar-benar terkenal.


“Tentu saja. Siapa yang tidak mengenalnya? Dia adalah salah satu dokter bedah terbaik di Ohio.” Seru Jimmy dengan nada memuji.


Stacy mengangguk girang seraya tersenyum lebar.


“Apa kau pernah bertemu dengannya?” Stacy bertanya penuh semangat. Matanya berbinar senang.


“Hanya sekali. Kudengar dia hanya memiliki satu anak?” Jimmy kembali bertanya seraya menatap Stacy sekilas.


“Aku anak satu-satunya. Bisa dibilang, Dad sangat sayang padaku.” Seru Stacy bangga.


Jimmy secara tiba-tiba menepikan mobilnya di jalanan yang sepi. Kini, ia memiringkan sedikit posisi duduknya untuk menatap stacy.


“Apa aku boleh bertanya satu hal padamu?” Jimmy bertanya seraya menatap Stacy lekat. Mata birunya menyelami tatapan gadis itu.


“Kau boleh bertanya sebanyak apa pun.” Stacy berucap tanpa bisa mengalihkan sedikitpun perhatiannya dari Jimmy. Ingin rasanya ia memeluk dan mencium pria itu.


“Di mana Bianca?” Sorot mata Jimmy berubah menjadi tajam. Seiiring dengan raut wajah Stacy yang berubah kaget.


“Bianca? Aku tak tahu apa maksudmu.” Stacy berusaha berbicara setenang mungkin. Ia tak boleh panik. Seraya memandang sekitar, Stacy berharap ada orang yang lewat jadi ia bisa berteriak.


“Aku tidak akan melarangmu berteriak.” Ucap Jimmy santai. Ia bahkan segera membuka kaca jendela mobilnya. Seolah mempersilahkan Stacy.


Stacy menatap Jimmy tak percaya. Pria di hadapannya ini bukanlah pria sembarangan.


“Aku sungguh tak tah—”


“Coba pikirkan, apa yang akan dikatakan oleh orang-orang, saat tahu jika putri tunggal seorang dokter bedah ternama terlibat kasus kriminal?” Jimmy menatap Stacy tajam dengan wajah datar. Menakuti gadis belia sepertinya bukanlah hal sulit. Apalagi sejak pertama kali melihat gadis itu, Jimmy tahu jika Stacy adalah gadis manja yang hidup dengan limpahan kemewahan.


“Ap–apa?” Stacy sontak menatap Jimmy dengan wajah pucat.


“Apa kau sanggup kehilangan semuanya? Aku yakin, setelah beritanya tersebar, karir ayahmu akan langsung hancur. Saat ini, kau hanya punya satu pilihan.” Stacy bisa merasakan hawa dingin dalam setiap untaian kalimat yang terlontar dari bibir Jimmy. Pria itu tidak sedang bercanda.


“Aku–aku akan menunjukkan padamu di mana Bianca berada. Tapi kumohon, jangan katakan apapun pada ayahku.” Stacy berucap dengan tubuh bergetar ketakutan. Memikirkan akan seperti apa nasibnya jika berita tentang dirinya sampai tersebar. Bukan hanya ayahnya yang akan kehilangan karir tapi ia juga yang akan kehilangan semuanya. Stacy tak sanggup jika harus melepaskan semua kemewahan yang dirasakannya dan hidup miskin. Tidak. Ia tidak bisa!


“Tergantung seperti apa kondisi Bianca.” Jimmy kembali melajukan mobilnya membelah jalanan yang sedang sepi. Sesekali, ia menatap Stacy yang tengah tertunduk takut.


“Rico.” Lirih Stacy. Ia tak henti-hentinya berdoa seraya berharap jika Rico tidak melakukan hal buruk pada Bianca. Hidupnya tergantung dengan kondisi gadis itu. Terluka sedikit saja, maka ia akan berakhir di jalanan.

__ADS_1


__ADS_2