
Bianca yang masih menikmati tidur nyenyaknya, sontak mengerutkan kening ketika mendengar beberapa suara yang cukup mengganggu di sekitarnya. Semalam, ia baru bisa tertidur ketika jam telah menunjukkan pukul dua pagi. Selain karena perutnya beberapa kali kram walaupun tak terlalu sakit, ia juga tak henti-hentinya keluar masuk kamar mandi untuk buang air kecil.
“Sayang.” Bisik Alan seraya duduk di dekat Bianca. Ia mengelus lembut pipi Bianca lalu mendaratkan kecupan sayang pada keningnya.
“Bianca.” Panggil Alan sekali lagi. Bibirnya mengukir senyuman simpul saat melihat Bianca mengerutkan keningnya dengan cukup dalam. Iris hitamnya menatap lekat wajah wanita itu. Perlahan, Alan menarik turun selimut yang masih menutupi tubuh Bianca lalu mengelus pelan perut wanita itu yang tertutupi gaun tidur berwarna hijau.
Satu kecupan yang cukup lama Alan daratkan pada perut Bianca yang masih datar.
Bianca yang merasakan sesuatu menyentuh perutnya walau secara tak langsung, secara perlahan membuka kedua matanya. Setelah mengerjap beberapa kali, ia mendapati Alan tengah menatap perutnya dengan binar bahagia.
“Alan.” Mendengar namanya dipanggil, Alan kembali mendekatkan dirinya di sisi Bianca.
“Kau lapar?” Tanya Alan seraya menyerahkan segelas air mineral pada Bianca. Pagi ini, ia telah menyiapkan sesuatu yang spesial untuk istrinya.
Mendengar pertanyaan Alan, Bianca tanpa sadar terkekeh geli. Biasanya, setiap kali mereka berdua membuka mata di pagi hari, hal pertama yang Alan lakukan adalah tetap mengurung dirinya di dalam kamar agar pria itu bisa leluasa menyentuhnya. Tapi sekarang, Alan bangun lebih cepat dari dirinya.
“Terima kasih.” Ucap Bianca seraya mengecup lama bibir Alan. Ia merasa begitu bahagia. Dan Bianca pun yakin jika Alan merasakan hal yang sama sepertinya.
“Kau mau ke mana?” Tanya Alan heran saat melihat Bianca bergerak turun dari atas tempat tidur.
“Mandi.” Jawab Bianca singkat. Dengan cepat, Alan menahan tangan Bianca dan membuat wanita itu menatapnya.
“Kurasa, sebaiknya kau cuti kerja.” Ucapan Alan barusan sontak membuat Bianca menatapnya dengan mata membulat tak percaya. Tak lama, Bianca menangkupkan kedua tangannya pada pipi Alan lalu mengecup singkat hidung pria itu.
“Alan, percayalah, aku dan anak kita akan selalu baik-baik saja.” Bisik Bianca. Ia tahu jika apa yang Alan katakan barusan adalah bentuk kekhawatiran pria itu kepada dirinya serta janin yang berada di dalam kandungannya. Namun Bianca juga merasa jika ia masih mampu bekerja. Asalkan ia tetap memperhatikan kesehatan tubuhnya.
“Tapi—”
“Asalkan kau tetap berada di sisiku. Kami berdua memiliki pria hebat sepertimu.” Ucap Bianca lagi. Perlahan, raut wajah Alan berubah ceria. Ia mengangguk mantap seraya meletakkan sebelah tangannya pada pinggang Bianca. Sedangkan tangan yang satunya lagi, ia selipkan ke dalam rambut wanitanya.
“Bianca, aku mencintaimu.” Bisik Alan. Ia segera menutup kedua matanya ketika bibir mereka baru saja bertemu. Dengan gerakan lembut, Alan memberikan lumatan-lumatan kecil pada bibir Bianca. Lalu secara perlahan meloloskan lidahnya memasuki mulut wanita itu. Menyentuh setiap bagian di dalamnya. Sesekali, Alan dan Bianca saling melilitkan lidah. Menikmati pertukaran saliva yang terjadi di dalam mulut Bianca.
“Alan.” Lirih Bianca seraya menatap Alan lekat. Kedua tangannya segera ia kalungkan pada leher pria itu.
Satu seringaian tercertak di sudut bibir Alan. Dengan gerakan pelan, ia membuat Bianca berada di dalam gendongannya lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Tatapan Bianca tadi adalah sebuah isyarat jika wanita itu menginginkannya, sama seperti dirinya. Dan Alan, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
***
Sofie yang baru saja tiba di meja makan, tersenyum lembut saat melihat Alan dan Bianca. Pagi ini, pasangan suami istri itu terlihat begitu kompak. Sama seperti biasanya. Bianca mengenakan dress pendek navy di atas lutut berlengan panjang. Pantofel wedges hitam sebagai alas kakinya serta flap bag berwarna senada. Sementara Alan, selalu memakai setelan jas berwarna senada dengan pakaian yang Bianca kenakan.
“Sofie, selamat pagi.” Sapa Bianca hangat. Mendadak, perhatiannya tertuju pada sarapan yang berada di atas meja makan. Biasanya, Sofie hanya menyediakan dua piring sarapan serta segelas susu untuknya dan segelas kopi untuk Alan. Tapi kali ini, ia menemukan semangkuk kecil salad sayur, beberapa potongan buah serta dua piring penuh sandwich dengan isi telur setengah matang dan daging panggang.
__ADS_1
“Tuan Alan yang menyiapkan semuanya.” Ucap Sofie. Tadi pagi, ketika baru saja tiba dan berniat untuk membuat sarapan, Sofie dikejutkan dengan kehadiran Alan di dapur. Pria itu tampak antusias serta serius dalam menyiapkan sarapan. Bahkan ketika sofie ingin membantunya, Alan justru menolak dan memintanya untuk duduk tenang.
“Sofie!” Sofie sotak menatap Alan ketika mendengar pria itu memanggil namanya. Tak lama, kepalanya menunduk. Ia takut jika ucapannya barusan ternyata membuat tuannya marah.
Alan yang telah duduk di meja makan bersama Bianca, masih setia menatap Sofie tajam. Dan membuat Bianca yang melihatnya hanya bisa menghela napas dalam.
“Alan, kau—”
“Aku akan menjadi seorang ayah.” Ucap Alan senang seraya menatap Sofie lekat. Ia juga menunjukkan hasil USG yang Bianca berikan pada Sofie. Wajahnya terlihat begitu bahagia.
“Nyonya.” Sofie yang mendengar ucapan Alan barusan segera menghampiri Bianca lalu memeluk wanita itu. Setetes cairan hangat membasahi sudut mata Sofie. Ia ikut merasakan kebahagiaan tuannya.
Selama bekerja dengan Alan, Sofie sudah mengira jika sampai kapan pun, pria itu hanya akan tinggal seorang diri tanpa kehadiran seorang istri apalagi anak. Tapi sekarang, kehidupan tuannya telah berubah. Bukan hanya memiliki Bianca di sisinya, tapi Tuhan juga menganugerahkan sesuatu yang lebih lagi.
“Sofie.” Ucap Bianca lembut seraya mengelus tangan Sofie. Mendadak, perasaannya berubah menjadi hangat saat wanita paruh baya itu memeluknya. Tak bisa dipungkiri, Bianca juga merindukan kehadiran seorang ibu di sisinya.
“Katakan padaku jika Nyonya Bianca membutuhkan sesuatu. Apa pun itu.” Ucap Sofie mantap setelah melepaskan pelukannya. Ia juga harus selalu memastikan kondisi Bianca selalu dalam keadaan yang baik-baik saja. Mengingat usianya yang masih muda.
“Bianca.” Panggil Alan seraya menggenggam tangan Bianca. Ia menatap wanita itu penuh cinta.
“Apa aku harus membangunkan satu kamar sementara untukmu di lantai satu?” Bianca tanpa sadar menjatuhkan garpu yang dipegangnya. Ucapan Alan barusan sukses membuatnya mematung.
“A–Apa?” Tanya Bianca tak percaya.
Rumah baru mereka memang telah selesai dan hanya menunggu untuk segera ditempati. Namun Bianca memutuskan untuk pindah ketika mereka telah memiliki anak. Dan setelah Alan bertanya kembali, Bianca mengatakan padanya setelah melahirkan nanti, mereka bertiga akan pindah dan tinggal secara bersamaan.
“Bukankah sudah kukatakan jika kami berdua memilik pria hebat sepertimu?” Alan tak kuasa menahan senyuman bahagianya setelah mendengar ucapan Bianca. Dengan lembut, ia mengecup punggung tangan wanita itu.
Tanpa Alan sadari, Bianca tertawa tanpa suara melihatnya. Ia merasa telah menemukan kata ajaib untuk meluluhkan pria itu tanpa harus mengorbankan “tubuhnya.”
***
Jimmy yang telah lebih dulu berada di dalam ruangan Alan, sontak berdiri dari duduknya untuk menyapa Alan ketika baru saja tiba. Tak lupa dengan menggenggam tangan istrinya.
“Jimmy!” Sapa Bianca ramah. Ia segera melangkah menghampiri Jimmy dan mendudukkan dirinya tak jauh dari pria itu. Tas hitamnya telah ia letakkan di atas meja. Sementara Alan telah menempati kursi kerjanya.
“Bagaimana keadaan Jane?” Tanya Bianca seraya menatap Jimmy. Perlahan, raut wajah Jimmy berubah menjadi lebih ceria dari biasanya.
“Nona.” Ucap Jimmy. Ia dengan cepat mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celananya. Berniat untuk membuka galeri dan menunjukkan foto Jane.
“Jane.” Gumam Bianca. Wanita yang memiliki warna mata senada dengan Jimmy itu, terlihat begitu cantik dalam balutan mini dress yang merupakan hadiah darinya. Dan Bianca merasa jika ia akan lebih sering memberikan Jane hadiah lagi.
Secara tiba-tiba, Jimmy bangkit dari duduknya sehingga membuat Bianca mendongak untuk menatapnya.
__ADS_1
Beberapakali, Jimmy menghela napas sembari mencuri pandang pada Alan yang tengah menunduk membaca laporan dari Lucy.
“Tuan.”
“Jimmy.”
Alan dan Jimmy berucap secara bersamaan. Mereka bahkan saling berpandangan. Dan sukses membuat Bianca tersenyum geli melihatnya. Setelah meyakinkan dirinya, Jimmy melangkah pelan menghampiri Alan. Berdiri di hadapan pria itu dengan raut wajah serius.
“Ada apa?” Alan menatap Jimmy heran. Tak biasanya pria itu memasang ekspresi serius seperti sekarang ini.
“Aku akan segera menikah.” Jawab Jimmy tanpa keraguan. Alan masih terdiam. Tak lama, ia menyeringai puas.
Dengan gerakan pelan, Alan bangkit dari duduknya untuk menghampiri Jimmy. Dan ketika ia telah berada di dekat pria itu, Alan menghadiahi Jimmy satu pelukan singkat.
“Tu–Tuan.” Jimmy berucap terbata seraya menatap Alan dengan wajah memerah—menahan malu. Apalagi ini kali pertama Alan melakukan hal tersebut.
“Jimmy, se—” Bianca yang baru saja berniat memegang tangan Jimmy sebagai bentuk ucapan selamatnya, telah lebih dulu dicegat oleh Alan. Pria itu dengan cepat menarik tangan Bianca lalu memeluk pinggangnya posesif.
“Jimmy, aku akan menjadi seorang ayah.” Alan kembali menunjukkan hasil USG Bianca pada Jimmy dengan wajah senang. Foto tersebut selalu ia simpan serta jaga dengan sebaik mungkin. Hari ini, Alan dengan sengaja membawanya agar bisa ia pamerkan pada Jimmy. Ia bahkan berniat untuk meletakkannya di dalam bingkai.
“Nona—”
“Jimmy!” Seru Alan cepat saat melihat Jimmy ingin memeluk istrinya. Ia sontak menatap pria itu tajam.
“Tuan, aku—”
“Berhubung aku sedang bahagia, jadi kali ini aku akan membiarkanmu.” Ucap Alan seraya tersenyum senang. Jimmy dengan cepat memeluk Bianca seraya mengucapkan kalimat selamat.
Kebahagiaan silih berganti menghampiri hidupnya, dan baik Alan maupun Jimmy, tak pernah menyangka jika kehidupan mereka akan berubah drastis seperti sekarang ini.
Hati mereka yang dulunya dipenuhi dengan kegelapan, kini telah menemukan cahayanya kembali. Alan dan Jimmy telah sama-sama bertemu dengan cinta mereka masing-masing.
“Thanks, Jimmy.” Bianca tersenyum simpul ketika Jimmy kembali memberinya selamat.
Hanya satu orang lagi yang belum Bianca beritahu: Lily. Ia memang dengan sengaja melakukannya karena sudah hampir dua minggu Lily belum menghubunginya. Bahkan membalas pesan singkatnya pun tidak. Setelah ini, Bianca akan memikirkan cara agar ia dan Lily bisa bertemu.
“Sayang.” Alan segera menarik Bianca ke dalam pelukannya. Tak masalah sekalipun karena Jimmy masih bersama mereka. Pria bermata biru itu bahkan tersenyum simpul melihat Bianca dan Alan. Seakan tak merasa terganggu sama sekali.
“Jimmy, apa aku boleh datang menemui Jane?” Tanya Bianca setelah berhasil lepas dari pelukan posesif Alan.
“Tentu saja.” Jawab Jimmy seraya tersenyum.
Sesampainya di rumah nanti, ia akan memberitahu Jane juga Fiona perihal kehamilan Bianca.
__ADS_1