Married With The Devil

Married With The Devil
Perubahan Jane


__ADS_3

Alan tersenyum senang saat melihat Bianca menandaskan satu gelas susu coklat khusus untuk ibu hamil yang ia buatkan untuknya. Sejak tadi pagi, sudah lebih dari lima kali Bianca keluar masuk kamar mandi karena mual. Pun semua makanan yang Bianca makan—risotto serta buah yang ia siapkan, berakhir di dalam kloset.


“Kau tak pergi bekerja?” Tanya Bianca seraya menatap Alan. Ia tengah bersandar pada kepala tempat tidur.


“Dan meninggalkanmu seorang diri?” Seru Alan dengan sedikit jengkel. Ia kembali mengelus peluh pada kening Bianca.


“Aku baik-baik saj—”


“Tidak! Aku sudah menghubungi Jimmy tadi dan pria itu tak keberatan sama sekali bekerja tanpaku. Masih ada Lucy yang bisa membantunya.” Ucap Alan pada akhirnya. Ia sudah memutuskan jika hari ini, ia hanya akan tinggal di rumah sembari menemani Bianca. Pergi bekerja pun tak ada gunanya jika pikirannya terus berpusat pada wanita itu.


Bianca tersenyum senang. Ia menggenggam tangan Alan lalu mengecupnya lama. Bersyukur karena pria itu selalu berada di sisinya.


“Sayang.” Panggil Alan. Bianca membuka matanya yang terpejam sekilas untuk menatap pria itu. Tak lama, senyumnya merekah ketika mendapati Alan mengarahkan kamera polaroid hitamnya untuk memotretnya.


Semenjak tahu perihal kehamilannya, Alan langsung membeli sebuah kamera polaroid serta album yang cukup tebal. Pria itu mengatakan padanya jika ia ingin mengabadikan semua momen ketika Bianca hamil. Pun setelah wanita itu melahirkan. Bukan hanya ketika Bianca sedang tersenyum, bahkan saat sedang terlelap atau pun terbaring lemas karena terus saja merasa mual, Alan juga tak lupa memotretnya. Alan hanya ingin, anaknya kelak tahu seperti apa penderitaan ibunya saat mengandungnya.


“Bianca.” Panggil Alan lembut. Ia telah meletakkan kameranya kembali di atas nakas serta menyimpan hasil fotonya di dalam album. Tak lupa, Alan juga menuliskan tanggal serta hari di bagian belakang foto Bianca yang baru saja ia ambil.


“Ya.” Jawab Bianca singkat. Tubuhnya telah ia rebahkan di atas tempat tidur. Disusul oleh Alan. Setelah kandungannya memasuki usia tiga bulan, Bianca merasa jika tubuhnya semakin mudah lelah. Ditambah dengan *morning*sickness yang semakin menjadi.


“Apa sebaiknya kau berhenti bekerja saja?” Tanya Alan sembari memiringkan posisinya. Ia menatap Bianca lekat dengan tangan yang mengelus lembut perut wanita itu


“Alan, aku masih sanggup bekerja. Aku hanya butuh sedikit istirahat.” Bianca sontak meletakkan tangannya di atas tangan Alan yang masih memegangi perutnya. Ia tersenyum simpul sembari mendaratkan satu kecupan singkat pada pipi pria itu. Apalagi saat Alan menatapnya penuh cinta.


“Dua hari.” Ucap Alan singkat. Kini ia beralih untuk mengusap sudut bibir Bianca.


“Apa?” Bianca menatap Alan tak mengerti.


“Aku baru mengizinkanmu bekerja dua hari lagi.” Jawab Alan. Ia menatap Bianca lekat, seakan memberitahu wanita itu jika ucapannya barusan tak menerima kalimat bantahan. Bianca menyerah—lebih tepatnya, memilih untuk menuruti semua perkataan pria itu.


Bianca sadar betul jika Alan melakukan semuanya untuk kebaikan dirinya serta anak mereka.


“Terima kasih.” Bisik Bianca seraya mengecup singkat bibir Alan. Sebelah tangannya ia letakkan pada pinggang pria itu.


“Hanya itu?” Alan menyeringai kecil dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Bianca. Tubuhnya semakin ia dekatkan pada wanita itu.


Bianca tertawa kecil. Lalu kembali mengecup bibir Alan dengan cukup lama. Disertai dengan lumatan singkat.


“Alan!” Bianca memekik pelan ketika Alan beralih mengecup lehernya. Disusul dengan gigitan-gigitan ringan pada bahunya.


“Bianca.” Lirih Alan. Ia menatap Bianca dengan mata berkabut—penuh gairah. Kedua bibirnya kembali ia letakkan pada leher Bianca sembari menyesapnya kuat. Alan dengan sengaja menginggalkan beberapa jejak kemerahan di sana.


“Sayang.” Alan yang tengah fokus bermain-main pada leher Bianca, sontak mendongak saat wanita itu membisikkan kalimat sayang pada telinganya. Bibirnya kembali menyeringai nakal.


Perlahan, Alan mendekatkan wajahnya untuk menjangkau bibir Bianca. Sebelah tangannya ia letakkan pada tengkuk wanita itu. Bianca tersenyum, dengan cepat, ia membuka mulutnya untuk mempersilahkan Alan menjelajah bagian dalamnya.


***


Jimmy yang baru saja pulang menjelang jam makan malam, dibuat kaget saat baru saja melangkah masuk dan mendapati Jane keluar dari kamarnya seorang diri, tanpa bantuan dari Fiona. Dengan tak sabaran, Jimmy berlari kecil untuk menghampiri kakaknya.

__ADS_1


“Jane!” Seru Jimmy tak percaya. Bahkan sampai membuat Fiona yang sedang berada di dapur, berlari menuju asal suara.


“Jimmy—Jane! Ya Tuhan.” Sama seperti Jimmy, Fiona juga tak kuasa menahan pekikan kagetnya.


Jane memilih untuk diam. Bukan karena ia tak ingin berbicara, tapi lidahnya terasa begitu susah untuk digerakkan. Ia hanya bisa menatap Jimmy serta Fiona secara bergantian lalu tersenyum simpul.


“Aku harus menelfon dokter James .” Jimmy dengan cepat meraih saku celananya untuk mengambil ponsel hitammya dari dalam sana. Ibu jarinya bergerak lincah di atas layar ponsel sembari terus mencari nama dokter yang ia percayakan untuk merawat Jane dulu.


Dapat!


Dengan cepat, Jimmy langsung menelfon dokter itu. Tak peduli sekalipun jika ia mungkin saja mengganggunya. Keadaan Jane lebih penting untuknya dibanding apa pun saat ini.


“Mr. Davis.” Seru dokter James kaget dari seberang sana. Sudah cukup lama Jimmy baru menghubunginya lagi.


“Dokter, aku membutuhkanmu sekarang.” Ucap Jimmy singkat. Yakin betul jika dokter itu paham akan maksud perkataannya.


“Dua puluh menit lagi aku tiba di sana.” Jawab  dokter James. Setelah memutuskan sambungan telfonnya, Jimmy segera mengajak Jane menuju ruang tengah dan meminta Fiona untuk membawakannya segelas air dingin.


***


Belum tepat dua puluh menit, dokter James telah tiba. Jimmy yang sudah sedari tadi menunggu, langsung mengajaknya menuju kamar Jane. Wanita itu telah berbaring di atas tempat tidur sembari menatap keluar jendela.


“Hai, Jane.” Sapa James ramah. Pria yang memiliki usia lebih muda dari Jimmy itu menatap Jane hangat sembari tersenyum lembut.


Jane mengerjap. Merasa tak asing akan wajah yang berada tak jauh darinya. Pria dengan tubuh tinggi, kulit putih—sedikit pucat, rambut berwarna dark brown serta sepasang iris emerald yang menatapnya lekat.


“Bagaimana keadaanmu?” Tanya James. Ia menggenggam lembut tangan Jane dan tersentak kaget ketika wanita itu merespon dengan sebuah senyuman. Apalagi saat sepasang mata biru Jane balas menatapnya lekat.


“Jimmy.” Panggil James sembari beralih menatap Jimmy. Ia mengajak pria itu untuk melangkah sedikit menjauh dari Jane.


“Bagaimana keadaannya?” Tanya Jimmy tak sabaran. Saat ini ia dan James telah berada di sudut kamar Jane.


“Apa kau yang merawatnya selama ini? Maksudku—setelah kau memutuskan untuk mengeluarkannya dari pusat rehabilitasi.”


Awalnya, Jimmy memutuskan untuk merawat Jane disebuah rumah sakit khusus penanganan depresi dengan diawasi oleh dokter ahli. Salah satunya James. Selagi ia bekerja, Jimmy mempercayakan James untuk menangani Jane sekaligus menjadi psikiater pribadi wanita itu. Tak peduli sekalipun jika ia harus membayar mahal.


Namun setelah dua tahun menjalani perawatan, Jane tak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda perubahan. Yang akhirnya membuat Jimmy mengambil keputusan untuk merawat Jane seorang diri. Memang tak mudah baginya. Sebab, terkadang Jane tiba-tiba saja mengamuk. Tapi Jimmy tak ingin menyerah, sama seperti Jane yang juga tak pernah menyerah untuk terus berada di sisinya sekalipun keadaan wanita itu jauh dari kata baik-baik saja.


“Ya.” Jawab Jimmy singkat.


“Lalu bagaimana dengan obat-obatnya? Apa kau rutin memberinya?” James masih belum puas akan jawaban yang Jimmy berikan padanya.


“Ya. Tapi sudah hampir satu minggu aku tak pernah memberikannya. Aku hanya merasa jika Jane tak lagi membutuhkannya.”


James tertegun. Bahkan tanpa mengonsumsi obatnya pun, keadaan Jane bisa membaik. Dengan sangat. Tak lama, James tersenyum simpul sembari menatap Jane yang masih setia menatap keluar jendela. Kali ini dengan posisi duduk seraya bersandar pada kepala tempat tidur.


“Bagaimana dengan keadaan di sekitarnya?”


Jimmy tak langsung menjawab. Ia bingung akan pertanyaan yang baru saja dokter itu ajukan padanya. Namun setelahnya, Jimmy tersenyum simpul.

__ADS_1


“Jane dikelilingi oleh orang-orang yang sangat peduli padanya.” Jawab Jimmy tanpa keraguan. Setelah kehadiran Fiona, sedikit demi sedikit, keadaan Jane mulai membaik. Dan ketika Alan serta Bianca datang pertama kali ke rumahnya untuk menemui Jane, wanita itu memberikan respon yang lebih. Bukan hanya mengedipkan mata, tak jarang, Jane senantiasa menyunggingkan senyuman atau mengangguk pelan saat Bianca mengajaknya berbicara. Pun ketika Fiona menanyakan sesuatu padanya.


“Jane bukan satu-satunya pasien yang pernah kutangani. Aku bahkan tak bisa menghitung sudah berapa banyak pasien depresi yang berada di bawah pengawasanku. Kebanyakan dari mereka dibuang begitu saja oleh keluarganya. Atau tak jarang, mereka menyerahkan semuanya kepada dokter tanpa harus mau merepotkan dirinya. Dan satu-satunya yang menjadi alasan mereka adalah karena malu.


Jimmy terdiam. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan pasien-pasien itu. Dibuang dan diabaikan begitu saja. Tanpa satu orangpun keluarga. Hanya karena rasa malu.


“Kau tahu, tak peduli semahal apa pun obatnya. Sebergengsi apa pun rumah sakitnya. Juga seahli apa pun dokter yang menanganinya, tetap tak akan ada yang bisa menggantikan ketulusan serta kehangatan seorang keluarga. Bahkan mereka yang tak memiliki ikatan darah sekalipun, terkadang jauh lebih peduli. Dan aku yakin, itulah yang secara tak langsung memotivasi Jane untuk berubah.”


James tersenyum senang seraya menepuk-nepuk kecil bahu Jimmy. Sejak pertama kali bertemu dengan Jane, James sudah tahu jika wanita itu tak akan bisa disembuhkan oleh obat-obatan. Karena ia tahu, Jane bukanlah wanita gila.


Jane menutup rapat hatinya. Serta memaksa salah satu sistem saraf pada tubuhnya—otak, untuk menolak semuanya. Hingga ia tak pernah sama sekali memberi respon pada apa pun yang orang lain katakan padanya.


“Jane.” Gumam Jimmy. Ia tak pernah bisa melupakan saat pertama kali Jane merespon ucapannya dengan cara mengedipkan mata. Tak peduli seperti apa pun keadaan Jane, Jimmy akan tetap berada di sisinya. Ia tak pernah sedikit pun merasa malu. Satu-satunya hal yang menjadi alasannya tak pernah mengajak Jane keluar rumah hanya karena ia tak ingin wanita itu tersakiti. Apalagi sampai mendapatkan kalimat hinaan dari orang-orang yang ditemuinya.


“Jimmy, teruslah berada di sisinya. Jangan pernah lakukan hal-hal yang membuatnya sampai berpikir kau tak lagi menginginkannya.” Jimmy sontak menatap James tak percaya. Bagaimana mungkin ia bisa melakukannya. Jane satu-satunya keluarga yang ia miliki.


“Aku yakin, Jane akan kembali menjadi dirinya sendiri dengan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Jujur saja, aku sudah tak sabar menantinya.” James dan Jimmy sama-sama tersenyum. Mereka berdua kembali menghampiri Jane yang sudah terlelap.


“Jane.” Lirih James. Ia mengangkat sebelah tangannya ke atas untuk mengelus lembut rambut wanita itu. Sudah lama ia tak menatap sepasang mata biru wanita itu. Tak bisa dipungkiri, ia merasa sedikit–yah, sedikit rindu.


Setelah mengucapkan kalimat pamit pada Jane, James dan Jimmy segera melangkah keluar. Tak ingin mengganggu wanita itu lebih lama lagi. Melalui sudut matanya, James kembali mencuri pandang pada Jane sebelum wanita itu benar-benar menghilang dari jarak pandangnya.


***


“Jimmy.” Fiona yang baru saja berganti pakaian di dalam kamar mandi, tersentak kaget ketika ia mendapati Jimmy telah duduk pada tepi tempat tidurnya. Pria itu menatapnya intens.


“Fiona.” Ucap Jimmy. Fiona tersenyum. Dengan langkah pelan, ia menghampiri Jimmy dan berdiri tepat di depan pria itu.


Jimmy mendongak. Mata birunya menatap lekat wajah Fiona. Dengan lembut, ia meletakkan sebelah tangannya pada tengkuk Fiona dan mendorong pelan kepala wanita itu agar sedikit menunduk.


Satu kecupan berhasil ia daratkan pada bibir Fiona.


“Apa Jane baik-baik saja?” Tanya Fiona, ia mengelus lembut rambut Jimmy. Kedua mata Jimmy sontak terpejam. Menikmati setiap sentuhan wanita itu pada rambutnya.


“Sangat baik.” Jawab Jimmy seraya tersenyum simpul.


Ia memberi isyarat pada Fiona agar wanita itu segera duduk di sebelahnya. Sudah sedari tadi ia ingin menguasai bibir wanita itu.


“Jimmy.” Bisik Fiona. Bibirnya telah diambil alih oleh Jimmy.


Pria itu ******* kedua bibirnya secara bergantian. Menyesapnya pelan. Lalu diselingi dengan beberapa gigitan kecil.


Malam ini, akan kembali menjadi malam yang memabukkan untuk Jimmy serta Fiona. Bunyi decakan atau pun desahan tertahan yang lolos dari bibir Fiona menjadi pertanda awal, jika Jimmy tak akan membiarkannya terlelap begitu saja.


 


 


Maaf kalo ada yang salah. Perihal depresi ini saya dapatkan hanya melalui internet dengan info yang terbatas. Jadi kalo mungkin ada yang ahli dibidangnya, silahkan komen dan ngasih masukan, saran atau pun koreksi biar bisa saya perbaiki.

__ADS_1


Makasih~~


__ADS_2