Married With The Devil

Married With The Devil
Cemburu


__ADS_3

Alan dan Bianca yang baru saja tiba di kediaman Robin guna memenuhi undangan makam malam pria itu, langsung disambut hangat oleh sang tuan rumah. Robin segera memeluk Alan sekilas. Diikuti oleh istrinya. Mereka berdua juga melakukan hal yang sama pada Bianca. Pria tua itu sudah tak lagi terobsesi untuk menjadikan Alan sebagai menantunya.


“Alan!” Kate yang baru saja melihat kedatangan Alan, dengan cepat menghampiri pria itu lalu memeluknya sekilas. Satu kecupan singkat ia layangkan pada pipi Alan.


“Kau bisa membuat suamimu salah paham.” Ucap Alan seraya menatap suami Kate—Thomas sekilas. Pria berdarah Turki itu tersenyum ramah seraya mengulurkan tangannya pada Alan.


“Mr. Drax.” Sapa Thomas. Pandangannya segera beralih pada Bianca dan mendapati wanita itu tengah tersenyum simpul padanya.


“Bianca.” Panggil Kate seraya memeluk Bianca sekilas.


Malam ini, wanita yang dulu diakui Alan sebagai kekasih dan ternyata adalah istrinya, tampil cantik dan anggun dalam balutan side slit mermaid long dress maroon; off shoulder, berbelahan panjang hingga satu jengkal di atas lutut. Sepatu hak berwarna hitam setinggi 12cm. Wajahnya dipoles dengan make up natural sehingga terlihat begitu pas dengan busana yang dikenakannya. Tak lupa tas pesta kecil berwarna gold. Sementara suaminya—Alan, juga memakai setelan jas berwarna senada dengan wanita itu. Mereka berdua memang selalu kompak.


“Aku akan segera punya cucu lagi.” Seru Robin seraya tertawa senang. Anak satu-satunya—Kate, baru saja memberitahunya jika ia tengah hamil lagi. Maka dari itulah, Robin langsung mengadakan pesta makan malam untuk merayakan kebahagiaan yang mereka rasakan.


“Baru dua bulan.” Ucap Kate malu. Ia juga tak menyangka jika ayahnya akan langsung mengadakan pesta makan malam seperti sekarang ini.


“Wow.” Alan berujar tanpa minat. Pria tua itu tetap saja sama—suka pamer. Namun Alan tak peduli. Ia juga tak merasa cemburu perihal kehamilan Kate untuk yang kedua kalinya. Selama Bianca bahagia, maka ia juga bahagia.


“Selamat, Kate.” Ucap Bianca tulus. Ia menatap sekilas pada perut Kate lalu beralih untuk mengelus pipi anak Kate yang berada di dalam gendongan Thomas. Lexa—anak perempuan berusia satu tahun yang memiliki mata bulat serta bulu mata lentik. Dan juga berpipi chubby.


Tapi, belum sempat Bianca menyentuh pipi Lexa, ia sontak dikejutkan dengan seorang pria yang tiba-tiba saja mencium gemas pipi anak perempuan itu. Lalu setelahnya menatap mereka semua seraya tersenyum lebar.


“Daniel.” Ucap Thomas setelah melihat sang pelaku seraya menghela napas lega. Jujur saja, ia merasa begitu kaget ketika pipi anaknya dicium secara tiba-tiba dari arah samping tanpa melihat siapa yang melakukannya.


“Maaf, aku datang terlambat.” Seru pria itu—Daniel, seraya menunduk sedikit. Sebagai tanda permohonan maaf sekaligus rasa hormat kepada sang pemilik acara.


“Dia adikku.” Ujar Thomas seraya menyerahkan Lexa pada Kate. Anak perempuannya sudah mulai gelisah.


Daniel yang baru saja menatap Bianca yang berada di depannya, segera membungkukkan sedikit badannya seraya mengulurkan tangannya. Ia ingin berkenalan dengan wanita itu. Bahkan kalau bisa, juga mengajaknya berdansa.

__ADS_1


Dengan ragu, Bianca mengangkat sebelah tangannya untuk menyambut uluran tangan pria itu setelah menatap Alan. Dan Alan mengangguk pelan sebagai sebuah jawaban.


“Bian—” Tanpa Bianca duga, Daniel justru mengecup sekilas punggung tangannya. Bahkan setelah memperbaiki posisi berdirinya, pria itu tak ada niat sama sekali untuk melepaskannya. Dengan cepat, Robin beserta istrinya dan juga Kate bersama Thomas, kompak menatap Alan lekat. Dan mendapati pria itu telah menatap Daniel tajam dengan raut wajah dingin.


“Bianca.” Panggil Alan tanpa mengalihkan perhatiannya. Dengan cepat, Bianca segera melangkah ke sisi Alan dan memeluk lengan pria itu.


Alan tak terima. Bahkan suami Kate pun tak ia izinkan untuk menyentuh wanitanya. Dengan masih menatap Daniel tajam, Alan segera memiringkan kepalanya untuk menatap Bianca. Satu kecupan berhasil ia daratkan pada bibir wanita itu. Di depan banyak orang.


“Dia milikku!” Desis Alan tajam pada Daniel. Tak lama, ia menggenggam tangan Bianca lalu menarik wanita itu untuk melangkah pulang. Meninggalkan mereka semua yang masih tercengang akan perbuatannya barusan.


***


Fiona yang sedang berada di dapur karena tengah membuat segelas susu coklat hangat, tersentak kaget ketika merasakan pelukan kecil pada tubuhnya dari arah belakang. Satu kecupan mendarat dengan sukses pada pipi kanannya.


“Jimmy.” Seru Fiona. Ia sudah tahu betul siapa pelakunya. Dengan cepat, ia berbalik lalu balas menatap Jimmy lekat. Pria itu baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Hari ini, Jimmy pulang sedikit lebih lama karena harus menggantikan Alan yang pulang cepat.


“Apa Jane sudah tidur?” Tanya Jimmy. Ia tak pernah lupa menanyakan kabar wanita itu pada Fiona. Dan Fiona pun tak pernah merasa kesal atau keberatan. Ia mencintai Jimmy. Juga menerima semua hal yang ada pada diri pria itu. Termasuk Jane.


Ketika melihat segelas susu coklat hangat yang baru saja Fiona buat, Jimmy segera mengambilnya lalu meneguknya sedikit. Sebelah tangannya terangkat ke atas untuk memegang pipi wanita itu sembari memintanya untuk mendongak. Dan tepat ketika Fiona menatapnya, Jimmy segera menggapai bibir wanita itu. Mengecupnya beberapa kali. Seakan ingin berbagi rasa manis yang menempel pada bibirnya.


“Jim—” Jimmy kembali membungkam bibir wanita itu tanpa rasa bosan. Sebelah tangannya semakin memeluk pinggang Fiona posesif. Dengan napas yang sedikit memburu, Jimmy segera memiringkan sedikit kepalanya—mencari posisi terbaik agar mereka berdua sama-sama merasa nyaman.


Dengan sigap, Fiona mencengkeram lengan Jimmy dengan mata yang telah terpejam.


Mereka larut dalam hasrat yang membuncah. Desahan napas memburu keduanya terdengar jelas di tengah kesunyian malam. Dengan bibir yang saling mendominasi dan tak mau kalah, keduanya masih terus berusaha untuk mengambil alih. Menunjukkan siapa yang paling hebat.


Desiran menggelitik namun memabukkan, kembali menghampiri tubuh keduanya. Malam ini, Jimmy dan Fiona kembali menemui kenikmatan itu.


***

__ADS_1


“Cepat cuci tanganmu!” Alan berucap dingin seraya melangkah menuju kamarnya dengan hati berkabut—gelap. Pria yang tak dikenalnya, dengan lancang mencium tangan wanitanya. Ia tak peduli jika itu hanyalah sebuah bentuk formalitas semata.


“Lalu bagaimana denganmu? Bukankah Kate juga mencium pipimu?” Balas Bianca dengan tak kalah kesalnya. Ia juga tak suka jika ada wanita lain yang menyentuh suaminya. Kate sekalipun.


Alan sontak menatap Bianca tak percaya ketika wanita itu justru terlihat lebih marah daripada dirinya. Bianca bahkan melangkah masuk ke dalam kamar mandi tanpa melepaskan gaunnya terlebih dulu.


“Aku sudah mencucinya. Sekarang kau puas?!” Ucap Bianca. Tak sampai limat menit, ia sudah keluar  dari dalam kamar mandi. Kedua matanya menatap Alan jengkel. Bianca juga tak tahu. Akhir-akhir ini, ia jadi lebih sering merasa kesal dan sensitif. Padahal tamu bulanannya baru saja usai.


Alan yang baru saja melepaskan jasnya, segera menghampiri Bianca yang sedang berdiri di depan meja rias. Ia menarik tangan wanita itu agar berbalik menatapnya. Tak lama, seringaian kecil terukir pada sudut bibirnya.


“Aku ingin kau yang menghapusnya.” Bisik Alan seraya mengelus bibir bawah Bianca. Dan kembali mengecup bibir wanita itu dengan cukup lama.


Dengan wajah memberengut, Bianca segera mencium pipi Alan—tempat yang sama ketika Kate menciumnya. Lalu setelahnya, ia juga menghadiahi pipi pria itu dengan gigitan kecil.


“Kau menggodaku?” Tanya Alan dengan suara pelan. Bianca tersenyum simpul lalu memeluk pria itu. Secara tiba-tiba, Alan menggendong Bianca dan melangkah menuju tempat tidur. Membaringkan tubuh wanita itu dengan penuh kehati-hatian seraya menatapnya lekat.


“Aku tak suka jika ada pria lain yang menyentuhmu. Kecuali Jimmy.” Ucap Alan dengan berat hati. Jika Jimmy, ia mungkin masih bisa menerimanya. Tapi hanya sekadar bersentuhan tangan sebentar. Tidak lebih.


“Kau pikir aku suka?” Balas Bianca sembari balas menatap Alan. Sebelah tangannya terangkat ke atas untuk memegang pipi pria itu. Yang dibalas Alan dengan mencium penuh sayang telapak tangannya.


Kedunya tersenyum secara bersamaan. Secara perlahan, Alan mendekatkan wajahnya pada Bianca. Kecupan hangat ia berikan pada kening wanita itu. Tak lama, bibirnya beralih untuk memenjara kedua bibir wanitanya.


“Alan, gaunku.” Seru Bianca cepat ketika tangan Alan telah bergerak di atas tubuhnya.


“Aku ingin kau tetap memakainya.” Jawab Alan. Kedua tangannya kembali bergerak setelah sebelumnya terhenti sejenak. Ia juga tak memedulikan tatapan kaget Bianca.


Dengan penuh kelembutan, Alan kembali menyentuh tubuh Bianca. Ia bahkan tak merasa kesulitan sama sekali dengan gaun yang masih menempel sempurna pada tubuh wanita itu. Alan selalu punya cara untuk memanjakan dan menyenangkan Bianca.


Bianca menyerah. Ia tak bisa membantah ucapan pria itu. Alan yang membelikannya gaun tersebut. Jadi pria itu juga yang berhak atasnya.

__ADS_1


“Alan.” Panggil Bianca dengan suara lirih.


Alan kembali menciumnya sekilas. Dan bagian bawah gaunnya yang terangkat naik secara sempurna sampai perut, menjadi awal sentuhan intens mereka berdua. Di mulai dengan bibir pria itu yang menyentuh kulitnya dengan penuh kelembutan.


__ADS_2