Married With The Devil

Married With The Devil
Rencana


__ADS_3

Setelah menghubungi Wilson, Cathy berjalan santai memasuki lift yang akan membawanya menuju ruangan pria itu. Saat ini ia tengah berada di perusahaan milik Wilson dan berpura-pura menjadi pegawai perusahaan kecil yang ingin mengajak pria itu bekerjasama. Sebab, Wilson tidak ingin ada satupun orang yang tahu perihal hubungan yang mereka jalani.


“Mr. Benjamin.” Sekretaris Wilson—Anne, memanggil pria itu ketika Cathy baru saja memasuki ruangannya.


“Anne, tinggalkan kami berdua.” Anne mengangguk mengerti seraya melangkah keluar lalu menutup pintu.


Setelah kepergian Anne, Wilson sontak menatap Cathy dengan wajah sumringah.


“Dear.” Panggil Wilson seraya berdiri untuk menghampiri wanita itu. Memeluknya mesra lalu mendaratkan ciuman di bibir.


“Aku merindukanmu.” Ucap Cathy manja. Dengan jari yang saling bertaut, Wilson mengajak Cathy menuju sofa.


Wilson tahu jika kedatangan Cathy bukan tanpa alasan. Wanita itu pasti ingin meminta sesuatu darinya.


“Katakan padaku apa yang kau inginkan.” Ujar Wilson.


Wajah Cathy berubah sumringah. Dengan cepat, ia mengecup bibir Wilson.


“Beberapa hari yang lalu, Alan mengajakku makan malam bersama.”


“Hanya berdua?” Tanya Wilson seraya mengelus pipi Cathy.


“Tidak. Dia juga mengajak kekasih bodohnya itu.” Cathy tanpa sadar berucap dengan nada kesal. Beruntung Wilson tidak menyadarinya.


Cathy sontak meletakkan kedua kakinya di atas paha Wilson. Lalu kembali berucap.


“Kekasih bodohnya itu merendahkan dan mengataiku karena pakaian yang kukenakan jauh lebih murah dari harga gaunnya.” Cathy sengaja berujar dengan nada sedih. Mengatakan sesuatu yang tak pernah terjadi dan berbohong pada Wilson adalah hal yang sering dilakukannya. Dan anehnya, pria tua itu selalu percaya.


“Gunakan sesukamu.” Seru Wilson seraya menyodorkan sebuah kartu kredit berwarna silver tanpa batas miliknya pada Cathy. Yang disambut wanita itu dengan pekikan senang.


“Wilson, kurasa, kau harus segera menemui Alan. Sepertinya, wanita bodoh itu akan mewarisi separuh dari harta kekayaannya.” Cathy berucap dengan nada serius. Berharap Wilson benar-benar mempercayai ucapannya.


“Apa maksudmu?” Wilson bertanya seraya menatap Cathy tak mengerti.


“Kau tahu, Alan menghabiskan banyak uang hanya untuk membelikan kekasihnya baju. Dan aku yakin, setelahnya, dia juga akan memberikan mobil, rumah dan asetnya pada wanita itu.” Cathy tahu betul jika sejak dulu Wilson menginginkan sebagian harta dari keluarga Drax. Sama seperti dirinya.


“Aku yang lebih berhak mendapatkannya.” Ucap Wilson tak terima. Wajahnya terlihat kesal. Menurutnya, Jasmine—istrinya, meninggal disaat yang tidak tepat. Seharusnya wanita itu mati ketika ia telah mendapatkan sebagian harta dari Alan.


Tanpa Wilson sadari, senyuman licik tercetak di bibir Cathy.


Cathy segera memeluk tubuh Wilson sembari menatap pria itu dengan mata menggoda.

__ADS_1


Wilson tertawa kecil. Dengan cepat, ia membungkam bibir Cathy. Tahu arti dari tatapan wanita itu.


***


Alan yang tengah fokus pada pekerjaannya, mengerutkan dahi tak suka ketika mendengar suara gaduh dari arah luar ruangannya. Padahal ia sudah memberitahu Lucy agar tak menerima tamu dari perusahaan manapun. Saat ini ia dan juga Jimmy sedang berdiskusi untuk kembali membuka cabang pembuatan suku cadang mobil di New Orleans.


“Jimmy, cepat periksa apa yang—”


“Mr. Benjamin, Anda tak boleh masuk.” Alan dan Jimmy tersentak kaget ketika pintu kantornya terbuka secara paksa seraya mendengar suara Lucy. Dan mendapati Wilson tengah melangkah masuk dengan santai.


“Lucy!” Bentak Alan.


“Mr. Drax, maafkan aku. Aku sudah berusaha untuk mencegahnya masuk tapi Mr. Wilson tetap memaksa.” Lucy berucap takut dengan tangan yang saling bertautan. Kepalanya menunduk. Tidak berani menatap mata Alan secara langsung.


“Keluar lah.” Ucap Alan datar.


Dengan sigap, Lucy melangkah keluar secepat yang ia bisa. Keringat dingin sudah terlanjur membasahi tubuhnya. Ia hanya bisa berdoa dari dalam hati, agar setelah ini, Alan tak akan memecatnya. Menjadi salah satu bagian dari perusahaan pria itu adalah keinginannya sejak dulu. Yang baru bisa terwujud selama tiga bulan ini.


Alan menatap Wilson dengan mata memicing ketika pria tua itu dengan lancang duduk di sofanya. Dengan masih tetap duduk di kursi kekuasaannya, Alan membuka suara.


“Kunjungan tak terduga.” Seru Alan dengan nada menyindir. Kini ia kembali fokus pada pekerjaannya.


Wilson tertawa kecil seraya menatap Alan lekat.


Alan segera mengangkat sebelah tangannya dan memberi isyarat pada Jimmy untuk mengambil beer dan memberikannya pada Wilson.


Jimmy mengangguk mengerti lalu melangkah menuju kulkas. Mengambil sekaleng bir dan meletakkan di atas meja, di depan Wilson.


“Kau tak ingin menemani Pamanmu?” Wilson kembali bertanya seraya meneguk isi kaleng tersebut. Mata abu-abunya masih setia menatap Alan lekat. Sehingga membuat pria itu terpaksa bangkit dari kursinya dan melangkah menghampiri Wilson. Dengan posisi duduk saling berhadapan.


“Ada apa?” Tanya Alan singkat.


“Kudengar, kau memiliki kekasih.” Ucap Wilson.


Alan tak menjawab. Wajahnya pun juga tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Ia sudah memprediksi jika cepat atau lambat, Wilson pasti akan tahu dan datang menemuinya. Segala sesuatu tentang dirinya memang selalu menarik perhatian pria tua itu.


“Apa aku harus minta izin lebih dulu padamu?” Alan bertanya dengan nada dingin. Sebelah sudut bibirnya menyeringai licik.


“Aku hanya tak ingin kau berhubungan dengan wanita yang tidak jelas.” Jimmy yang mendengar ucapan Wilson sontak menatap pria itu tak suka. Mata birunya tiba-tiba saja berkilat marah. Selain Alan, ia juga tidak suka pada siapapun yang berkata buruk tentang Bianca.


“Jelas atau tidaknya, tetap saja tidak ada hubungannya denganmu.” Ujar Alan tak acuh. Punggungnya ia sandarkan pada sofa seraya menyilangkan kaki.

__ADS_1


“Tentu saja ada. Aku tak ingin jika wanita tidak jelas sepertinya mendapatkan sebagian dari hartamu yang seharusnya menjadi milik Jasmine.”


Setelah mendengar ucapan Wilson, Alan tak kuasa menahan tawanya. Pria tua itu benar-benar sudah gila. Bertambah lagi satu orang yang memiliki obsesi berlebih pada dirinya.


“Paman.” Panggil Alan seraya menatap Wilson tajam.


“Satu sen hartaku, tidak ada hubungannya sama sekali denganmu. Jika boleh jujur, kekasihku jauh lebih pantas mendapatkan semuanya. Aku bahkan berniat untuk memberikannya 50% dari total sahamku. Secara keseluruhan. Di setiap perusahaan.


“Kau gila?! Lalu bagamaina dengan Jasmine? Bukankah dia yang jauh lebih berhak?” Wilson berteriak marah seraya menatap Alan tak terima. Napasnya terengah, menandakan jika saat ini amarahnya sedang berada di puncak.


“Bukankah sudah kukatakan padamu? Orang yang sudah mati tidak memiliki hak apapun.” Seru Alan datar.


Wilson sontak melempar kaleng bir yang sedari tadi dipegangnya. Sehingga menumpahkan isinya di atas karpet. Kedua tangannya mengepal kuat.


“Wilson!” Teriak Jimmy. Mata birunya tiba-tiba saja berubah menjadi gelap. Namun baru saja ia ingin menghampiri pria itu, Alan telah lebih dulu mencegahnya. Jika tidak, bisa dipastikan ia sudah menyeret Wilson keluar secara paksa.


“Aku akan tetap menuntut hak Jasmine. Jika kau mau berjanji untuk memberikanku 30% dari sahammu, maka aku tidak akan lagi mengusikmu.”


“Hanya tiga puluh persen? Tak ada masalah. Aku bisa memberikannya sekarang juga kalau kau mau.” Ucap Alan. Wilson yang mendengarnya sontak menatap pria itu tak percaya. Ekspresi wajahnya mendadak sumringah.


“Dengan satu syarat.” Lanjut Alan seraya menyeringai. Iris hitam legamnya menatap Wilson penuh makna.


“Kau harus mendapatkan persetujuan dari Jasmine.” Ucap Alan seraya menyeringai puas. Perlahan, ia bangkit dari sofa lalu melangkah untuk duduk kembali di kursi kerjanya.


Wilson terdiam. Matanya membulat tak percaya. Alan sudah mempermainkannya.


“Alan! Kau pikir apa yang kau lakukan? Brengsek!” Teriak Wilson tak terima. Sementara Alan tetap bergeming dan tak acuh. Bagaimana mungkin ia meminta persetujuan pada tubuh kaku Jasmine yang tak lagi bernyawa.


Wilson yang tidak terima segera melangkah pergi seraya mengeluarkan kalimat umpatan. Ia juga mengutuk kematian Jasmine yang begitu mendadak tanpa meninggalkan apapun padanya. Hanya sebuah villa tua yang kini telah usang karena tidak dirawat dengan baik.


***


Wilson mengemudikan mobilnya dengan membabi buta. Tak jarang, ia hampir menyenggol mobil pengendara yang lain. Yang anehnya, justru ia sendiri yang marah-marah dan mengatai pengendara tersebut. Saat ini, pikirannya sedang kacau. Dan satu-satunya hal yang ingin ia lakukan adalah membasahi tenggorokannya dengan alkohol. Menemui Cathy dan bercinta dengan wanita itu sampi ia puas.


Jika saja Alan tidak menjadi saingannya di dunia bisnis, ia mungkin tidak akan melakukan semua ini. Wilson hanya memiliki satu perusahaan yang memproduksi alat-alat medis. Serta dua cabang kecil yang terletak di Dallas dan Houston.


Yang sialnya, Alan juga memproduksi hal yang sama. Namun kenyataan jika produk dari perusahaan pria itu jauh lebih laris dan terkenal dari miliknya, membuat Wilson tak bisa tinggal diam. Apalagi produk yang Alan jual jauh lebih mahal dari harga yang ia tawarkan dipasaran. Beruntung perusahaannya tidak langsung gulung tikar.


“****!” Teriak Wilson sekali lagi.


Setelah mengirimkan pesan singkat pada Cathy, Wilson segera melajukan mobilnya menuju apartemennya yang selalu menjadi tempat rahasianya ketika bertemu dengan wanita itu.

__ADS_1


Malam ini, ia akan melampiaskan semuanya pada Cathy.


__ADS_2