
Jimmy menghela napas lega saat Jane membaik lebih cepat dari dugaannya. Biasanya, butuh waktu satu minggu sampai Jane benar-benar tenang dan bisa kembali ia tinggal seorang diri. Jimmy tak tahu apakah ada pengaruhnya atau tidak, tapi setiap kali ia menyuapi Jane dengan cheese cake yang Bianca berikan, wanita itu langsung tenang dengan pandangan menerawang ke luar jendela.
“Jimmy!” Bianca berserung senang saat ia baru saja berniat menelfon Alan untuk menjemputnya dan mendapat mobil yang biasa Jimmy pakai sudah terparkir rapi di depan sekolahnya. Dengan cepat, ia berlari menghampiri pria itu.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Bianca.
“Ya?” Jimmy menatap Bianca bingung. Tak paham maksud ucapan wanita itu.
“Maksudku—apa kakakmu baik-baik saja? Alan bilang, dia sedang sakit.” Jawab Bianca seraya menatap Jimmy lekat.
Jimmy tak menjawab. Ia justru menatap Bianca dengan ekspresi sedih.
“Ya. Dia baik-baik saja.” Ucap Jimmy pelan. Satu senyuman sedih terukir di bibirnya. Beruntung Bianca tak melihatnya karena sedang melambai pada Lily.
“Apa kita harus menjempu Alan?”
“Tidak. Tuan akan pulang sendiri.” Jawab Jimmy. Ia segera membukakan pintu mobil untuk Bianca. Sekalipun wanita itu sudah melarangnya, Jimmy tetap tidak bisa. Ia sudah menganggap Bianca sama seperti Alan.
***
Alan yang baru saja pulang dan masuk ke dalam rumah ketika hari mulai gelap, menatap kaget pada Jimmy. Seingatnya, ia menyuruh pria itu untuk langsung pulang.
“Jimmy.” Panggil Alan yang membuat Jimmy berbalik untuk menatapnya. Ia sedang menunggu Bianca yang masih mandi.
“Ya, Tuan.” Jawab Jimmy singkat.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Alan seraya menatap tangan kanan Jimmy yang sedang memegang sesuatu. Sebuah plastik bening yang di dalamnya terdapat cup holder.
“Aku sedang menunggu nona Bianca.” Jawab Jimmy. Ia masih betah berdiri dan bukannya memilih untuk duduk.
Tak lama, Bianca turun dari lantai dua dengan rambut yang masih setengah basah. Tubuhnya tertutupi baju kaos berlengan pendek warna coklat tua yang dipadukan dengan celana kain sebatas paha.
__ADS_1
“Nona.” Jimmy segera menghampiri Bianca seraya menyodorkan plastik bening yang ia bawa. Sehingga membuat Bianca menatapnya dengan kening berkerut.
“Apa ini?” Tanya Bianca tak mengerti. Alan sudah berdiri di sebelahnya seraya memeluk pinggangnya posesif.
“Ucapan terima kasihku untuk waktu itu.” Setelah terdiam sebentar, Bianca sontak tersenyum simpul. Dengan senang, ia menerima pemberian dari Jimmy. Pria itu memberikannya dua gelas milkshake—rasa coklat dan juga stroberi.
“Terima kasih, Jimmy.” Seru Bianca senang. Di sebelahnya, Alan masih setia menutup mulut karena tak mengerti apa yang sedang terjadi.
“Aku pulang dulu.” Ucap Jimmy seraya menunduk sekilas. Dengan cepat, ia berbalik untuk melangkah pulang. Malam nanti, ia berencana untuk kembali menemui Fiona. Jimmy ingin mengajak wanita itu berbicara lebih lama. Bukan hanya menatapnya dari jauh seperti yang sering ia lakukan.
“Waktu itu?” Alan bertanya dengan nada menyindir.
“Aku memberikannya cheese cake.” Jawab Bianca santai. Ia segera melangkah menuju dapur untuk menyimpan milkshake rasa coklat miliknya. Sekarang, ia ingin meminum yang rasa strobery lebih dulu.
“Dan kau tak memberikannya untuku?” Tanya Alan tak percaya.
“Bukankah kue yang waktu itu kau lihat di atas tempat tidur, berakhir dengan cara yang tak biasa?” Bianca berucap jengkel seraya menatap Alan sekilas. Ia bahkan melangkah menuju lantai dua tanpa menunggu pria itu. Bianca tak akan lagi pernah mau membelikan Alan kue. Sebab, pria itu pasti akan menggunakannya untuk hal lain. Misalnya, bercinta sembari memakan kue tersebut. Memikirkannya saja sudah sukses membuat wajah Bianca merona. Setelahnya, Bianca tak tahu lagi akan bereaksi seperti apa jika di hadapannya tersaji sepotong tiramisu.
“Bianca.” Bisik Alan yang tengah berada di belakang Bianca. Mereka berdua memang telah berada di dalam kamar dengan Bianca yang memunggunginya karena sibuk meminum milkshake miliknya.
“Alan!” Pekik Bianca kaget. Beruntung minuman yang ia pegang tak jatuh.
“Aku juga mau meminumnya.” Ucap Alan seraya menatap Bianca lekat.
“Kau bisa minum sendiri.” Jawab Bianca seraya menyodorkan gelas milkshake tersebut pada Alan. Pria itu menggeleng pelan dengan sebuah senyuman misterius. Bulu kuduk Bianca bergidik. Ia yakin jika pria itu tengah merencanakan sesuatu yang buruk.
“Pakai mulut.” Bisik Alan seraya memegang bibir bawah Bianca lembut. Satu kecupan berhasil ia daratkan.
Kedua mata Bianca membulat. Dugaannya benar. Pria itu selalu saja punya cara untuk memanfaatkan segala hal yang berada di sekitarnya.
“Tidak.” Tolak Bianca. Matanya menatap Alan menantang.
__ADS_1
Alan tersenyum. Tubuhnya langsung bereaksi hebat ketika melihat wajah Bianca.
***
Sepuluh menit berlalu dan Jimmy belum juga membuka suara. Padahal ia sudah bersusah payah mengajak Fiona agar mau bertemu. Saat ini, mereka sedang berada di bagian belakang bar tempat Fiona bekerja—tempat yang sama ketika wanita itu ingin pergi membuang sampah.
“Kau memintaku datang hanya untuk melihatmu diam?” Ketus Fiona. Waktunya terbuang sia-sia. Beruntung Mr. Scott memperbolehkannya saat tahu ia ingin menemui Jimmy.
“Fiona.” Ucap Jimmy membuka suara. Ia menatap wanita itu lekat di tengah temaramnya cahaya lampu. Namun Jimmy masih bisa melihat dengan jelas mata hazel wanita itu menatapnya tak sabaran.
“Aku tak punya banyak waktu.” Ujar Fiona dengan suara pelan. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa.
Secara tiba-tiba, Jimmy melangkah maju untuk lebih dekat dengan wanita itu. Pandangannya tak pernah lepas. Mata birunya semakin bersinar di bawah cahaya lampu.
“Aku–hanya ingin berbicara denganmu.” Jimmy tak tahu mengapa ia berubah menjadi tak berdaya seperti ini. Padahal biasanya, ia selalu bersikap tegas dan juga dingin. Apalagi saat berada di sisi Alan.
“Bukankah kita sudah berbicara sebentar? Aku pergi.” Fiona yang baru saja berbalik dan hendak melangkah pergi, tersentak kaget ketika Jimmy menahan pergelangan tangannya dengan lembut. Tubuhnya kembali merasakan sensasi aneh. Tatkala kulit mereka bersentuhan secara langsung.
Dengan pelan, Jimmy menarik tangan Fiona agar kembali berbalik untuk menatapnya. Tubuh Fiona menegang. Tanpa sadar, ia menahan napasnya sendiri saat jantungnya tengah melompat-lompat bodoh di dalam sana.
“A–Apa?” Fiona berucap gugup. Tak bisa ia pungkiri, menatap wajah tampan pria itu bukanlah hal yang mudah untuk ditolak.
“Aku—” Jimmy tak melanjutkan ucapannya. Ia justru semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Fiona. Jimmy juga pernah berpacaran dua kali. Bahkan berciuman dan juga tidur bersama. Namun setelah Jane sakit, Jimmy tak pernah peduli lagi. Bekerja dan mengumpulkan banyak uang menjadi tujuan utamanya. Ia ingin menyembuhkan kakaknya. Namun, setelah menerima bantuan dari Alan pun, Jane tak juga menunjukkan hasil yang baik. Bukan karena Jane yang tak bisa diobati. Tapi, sepertinya, wanita itu sendiri yang menolak untuk sembuh.
“Jimmy.” Panggil Fiona dengan suara lirih. Wajah pria itu semakin mendekat padanya.
“Apa yang kau lak—” Fiona tak lagi melanjutkan ucapannya karena Jimmy baru saja mendaratkan satu kecupan singkat pada keningnya. Ia hanya mampu terdiam mematung dengan mata membulat—kaget.
Di depannya, Jimmy sudah menjauhkan tubuhnya seraya menunduk. Baru kali ini Jimmy merasakan ketertarikan yang begitu besar. Ia tak tahu apakah Fiona yang menjeratnya pertama kali atau justru ia sendiri yang telah jatuh lebih dulu dalam pesona wanita itu. Bahkan tanpa disadarinya.
“Maaf, aku tak bisa mengantarmu pulang.” Ucap Jimmy cepat seraya melangkah pergi. Ia tak ingin terlihat bodoh di depan wanita yang disukainya.
__ADS_1
Sementara Fiona, kembali terdiam seraya menatap pria itu tak percaya. Tak lama, wajahnya terasa panas dan bersemu merah. Ditambah dengan jantungnya yang kembali melompat lebih kencang di dalam sana.
Pria itu ….