
Fiona menghela napas lega seraya menghapus jejak cairan bening pada sudut matanya. Ibunya yang tak sadarkan diri selama satu hari, akhirnya membuka kedua matanya. Walaupun masih dengan kondisi yang sangat lemah.
“Mom.” Fiona segera menggenggam lembut tangan ibunya. Matanya menatap wajah wanita itu lekat. Di sebelahnya, Jimmy dengan setia menemani setelah sebelumnya ia pulang terlebih dahulu untuk mengurus Jane serta berganti pakaian.
“Fiona.” Ucap Christine lemah. Ia melirik sekilas pada Jimmy yang tersenyum simpul. Mata biru pria itu menatapnya hangat.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Fiona. Dokter sudah memberitahunya perihal keadaan ibunya yang semakin memburuk. Namun ia tak ingin menyerah. Fiona yakin, selama mereka tetap berusaha, ibunya pasti bisa disembuhkan.
“Ya. Bagaimana denganmu?” Christine tersenyum kecil seraya menatap wajah Fiona. Hatinya mendadak sesak ketika mendapati kantung mata berwarna hitam menghiasi wajah cantik anaknya.
“Aku–aku baik-baik saja.” Jawab Fiona seraya tersenyum senang. Ia tak ingin membuat ibunya khawatir.
Christine kembali menatap Jimmy. Tapi kali ini, sedikit lebih lama sehingga membuat Fiona tersadar dan ikut menatap pria itu. Jimmy tertegun. Ditatap oleh dua orang wanita secara langsung membuatnya gugup. Terutama Fiona. Mata hazel wanita itu menatapnya hangat.
“Mom, perkenalkan, dia Jimmy.” Ucap Fiona seraya memperkenalkan Jimmy pada ibunya. Christine sontak tersenyum lembut. Ia yakin jika yang membuat anaknya sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih semangat adalah pria itu.
“Dan dia juga yang membawamu kemari.” Sambung Fiona. Setelah tersenyum sekilas pada Jimmy, ia kembali mengalihkan perhatiannya pada ibunya.
“Maafkan aku karena sudah merepotkanmu.” Ujar christine. Ia merasa tak enak karena telah menyusahkan orang lain.
“Tidak. Tidak sama sekali. Aku justru senang karena bisa membantu.” Seru Jimmy tulus. Tak pernah sekalipun ia merasa terbebani. Ia justru merasa senang karena bisa membantu dan berada di sisi Fiona ketika wanita itu membutuhkan bantuan.
Kembali, Christine menatap Fiona dan Jimmy secara bergantian. Ia merasa bahagia karena saat ini, telah ada seseorang yang berada di sisi anaknya. Dan ia yakin jika Jimmy adalah pria yang baik. Yang tak akan pernah menyaliti anaknya. Raut wajah serta tatapan mata pria itu telah membuktikannya.
“Jimmy, tolong jaga Fiona baik-baik.” Ucap Christine seraya menatap Jimmy lekat. Fiona yang mendengarnya, sontak menatap ibunya kaget dan mendapati wanita yang telah melahirkannya itu, tersenyum penuh kebahagiaan padanya.
“Mom, jangan berkata yang tidak-tidak.” Seru Fiona dengan wajah takut. Ia tak ingin memikirkan hal yang buruk. Ibunya pasti akan sembuh.
Di dalam lubuk hatinya, Christine merasa sangat bahagia. Anaknya telah bertemu seseorang yang ia yakini memang ditakdirkan untuknya. Setelah selama ini hanya bisa menjadi beban untuk Fiona, ia akhirnya bisa melepas anak satu-satunya yang ia miliki dengan hati lega.
“Aku mencintaimu.” Lirih Christine seraya mengelus lembut pipi Fiona. Setelah ini, ia bisa memejamkan kedua matanya dengan tenang.
__ADS_1
***
Bianca yang masih berada di dalam kamar mandi karena tengah mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer, kembali menatap bahunya melalui cermin besar yang berada di hadapannya. Bekas gigitan Alan tercetak dengan sangat jelas pada salah satu bahunya. Ditemani dengan beberapa kissmark. Yang juga terdapat pada beberapa anggota tubuhnya yang lain.
Pria itu
Mendadak, wajah Bianca kembali bersemu merah. Ia segera menunduk karena tak berani menatap wajahnya sendiri. Tanpa ia sadari, Alan yang sedari tadi mencarinya, melangkah pelan untuk menghampirinya.
“Apa yang kau lakukan?” Ucap Alan seraya melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Bianca dari arah belakang.
“Alan!” Bianca yang tersentak kaget, segera mendongakkan kepalanya dan mendapati pria itu tengah menyeringai puas melalui pantulan cermin di depannya.
Dengan masih memeluk Bianca, Alan segera mengarahkan hidungnya pada kepala wanita itu. Menghirup aroma segar dan juga menenangkan yang menguar dari rambutnya.
“Kau mau apa?” Tanya Bianca seraya menatap Alan dengan mata memicing. Alan menurunkan sedikit salah satu sisi jubah mandi yang dikenakannya.
“Aku hanya ingin melihat ini.” Jawab Alan seraya mengelus bekas gigitannya pada bahu Bianca. Seraya tersenyum senang, ia mendaratkan kecupan singkat di sana. Lalu beralih untuk menciumi leher Bianca.
“Hm.” Jawab Alan seraya balas menatap Bianca dari pantulan cermin. Keduanya sama-sama terdiam dengan masih saling berpandangan. Dengan gerakan pelan, Alan meletakkan sebelah tangannya pada pipi Bianca lalu mengarahkannya agar berbalik sedikit ke samping. Tak lama, bibir mereka kembali bertemu. Awalnya, mereka hanya saling mengecup dengan lembut lalu berubah menjadi lumatan-lumatan kecil.
“Di mana Jimmy?” Tanya Bianca ketika ia berhasil menormalkan deru napasnya. Alan sudah tak lagi memeluknya.
“Jimmy masih meminta izin untuk libur.” Jawab Alan. Jimmy baru saja menghubunginya ketika Bianca sedang berada di kamar mandi. Dan pria itu mengatakan padanya untuk izin tak masuk selama beberapa hari.
“Apa kakaknya sakit lagi?” Tanya Bianca seraya menatap Alan lekat.
“Tidak. Dia sedang menemani kekasihnya.” Seru Alan santai. Ia yakin, jika Jimmy mendengar ucapannya barusan, pria itu pasti akan menatapnya protes tanpa mengatakan apa pun. Lalu tertunduk dengan wajah malu.
“Aku ingin bertemu dengannya.”
“Siapa?” Tanya Alan seraya menggenggam tangan Bianca. Mereka melangkah bersama untuk keluar dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
“Kekasihnya.” Jawab Bianca. Ia penasaran pada sosok wanita yang telah berhasil membuat pria berwajah datar itu—Jimmy, luluh.
Alan tersenyum simpul. Ia juga penasaran akan sosok wanita yang telah berhasil membuat Jimmy menatap ponselnya gelisah. Pun meluluhkan dinding es yang pria itu bangun.
***
Setelah mengantar Fiona pulang terlebih dahulu untuk mengambil pakaiannya, Jimmy kembali melajukan mobilnya menuju tempat tinggalnya. Malam ini, ia berhasil membujuk Fiona agar mau menginap di rumahnya. Tadi, dokter yang menangani ibunya menyuruh mereka untuk pulang beristirahat dan kembali esok hari. Awalnya, Fiona menolak. Namun karena dokter Adam berjanji akan langsung menghubunginya jika terjadi sesuatu pada ibunya, Fiona akhirnya menyerah.
“Istirahatlah.” Ucap Jimmy lembut. Ia mengantar Fiona pada salah satu kamar kosong di rumahnya. Bersebelahan dengan milik Jane.
“Aku ingin bertemu Jane dulu.” Jawab Fiona. Ia menatap Jimmy memohon. Tubuh dan pikirannya memang lelah, tapi ia juga ingin melihat dan memastikan keadaan Jane. Ia sudah menganggap wanita itu seperti teman bahkan saudaranya sendiri.
“Ayo.” Jimmy segera menggenggam tangan Fiona dan melangkah memasuki kamar Jane. Wanita cantik itu sudah tertidur lelap setelah tadi Jimmy pulang sebentar untuk menyuapinya makan.
Dengan hati-hati, Fiona mendudukkan dirinya di dekat Jane. Ia menatap wajah wanita itu lekat. Dengan tulus, ia berharap, agar suatu saat nanti, Jane bisa benar-benar sembuh dan kembali menjadi dirinya sendiri. Dan mereka bisa menjadi teman akrab.
“Besok aku akan mengantarmu ke rumah sakit.” Ucap Jimmy setelah mereka berada di luar kamar Jane. Mata birunya menatap intens Fiona.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu? Aku bisa pergi sendiri.” Balas Fiona cepat. Ia merasa tak enak karena sudah terlalu banyak merepotkan Jimmy.
“Aku sudah meminta izin. Dan tuanku, tak keberatan sama sekali.” Jawab Jimmy seraya tersenyum. Ia memang telah memberitahu semuanya pada Alan. Pria itu bahkan menawarkannya bantuan. Namun Jimmy menolak dengan halus. Untuk yang satu ini, ia ingin melakukannya dengan caranya sendiri. Dan tak terlalu bergantung pada Alan.
“Jimmy, terima kasih banyak karena sudah mau menolong ibuku.” Lirih Fiona. Ia benar-benar merasa beruntung karena telah bertemu pria itu. Jika saja ia menolak tawaran Jimmy waktu itu, Fiona tak tahu apa yang akan terjadi padanya saat ini.
Jimmy tak menjawab. Ia justru fokus menatap Fiona. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya. Dan ketika Fiona merespon tindakannya dengan cara menutup kedua matanya secara perlahan, Jimmy segera menempelkan bibir mereka berdua. Di tengah kesunyian, deru napas pelan bahkan detak jantung keduanya bisa terdengar jelas.
Fiona segera memegang tangan Jimmy yang terangkat untuk menyentuh pipinya. Pria itu ******* bibirnya dengan lembut secara bergantian.
“Istirahatlah.” Bisik Jimmy. Fiona mengangguk pelan lalu melangkah menuju kamar yang akan ditempatinya. Jantungnya masih berdetak kencang di dalam sana. Ia bukannya tak mengingat keadaan ibunya saat ini. Hanya saja, ciuman Jimmy selalu membuatnya merasa tenang.
Di sisi lain, Jimmy juga melangkah menuju kamarnya dengan degup jantung yang tak menentu. Jika bisa, ia ingin terus menyentuh bibir Fiona. Pun membuat wanita itu tetap berada di dekatnya. Namun Jimmy sadar, mereka masih berada di tahap awal. Sekalipun Fiona tak mengatakannya secara langsung, tapi ia yakin jika wanita itu juga merasakan hal yang sama dengannya.
__ADS_1