Married With The Devil

Married With The Devil
Air Mata Kebahagiaan


__ADS_3

Setelah kembali memastikan jika Alan masih tertidur lelap, Bianca segera melangkah menuju kamar mandi dengan gerakan pelan agar tak sampai mengganggu suaminya. Tak lupa, ia membawa serta pouch bag berwarna pink marble miliknya.


“Hah.” Sesampainya di dalam kamar mandi, Bianca sontak menghela napas dalam. Jantungnya berdegup kencang di dalam sana, seolah, ia telah melakukan kesalahan besar dan sedang melarikan diri dari Alan saat ini.


Bianca tanpa sadar menggigit bibir bawahnya seraya menatap sebuah dus kecil berbentuk persegi panjang berwarna biru yang berada di tangannya. Yang baru saja ia ambil dari dalam pouchnya.


“Ya Tuhan.” Setelah meyakinkan dirinya sendiri, Bianca dengan cepat membuka penutup dus tersebut dan mengeluarkan sebuah benda dari dalam sana: test pack.


Kemarin, Alan menyuruh Jimmy untuk mengantarnya pulang karena pria itu masih harus tinggal sedikit lama di kantor. Merasa mendapatkan kesempatan, Bianca meminta Jimmy untuk mengantarnya lebih dulu ke apotik, dengan alasan, ia ingin membeli produk kecantikan. Dan beruntung, Jimmy percaya padanya.


“I–ini.” Tubuh Bianca mendadak menegang dengan mata membulat tak percaya. Test pack tersebut telah menunjukkan hasil dengan memberikannya sebuah jawaban bertulisakan kata “Yes.”


Tanpa sadar, setetes cairan bening jatuh dari membasahi kedua pipinya. Hamil? Benarkah ia benar-benar hamil? Benarkah ia tengah mengandung anak dari Alan? Bianca tak bisa lagi mengungkapkan seperti apa bahagianya ia saat ini. Namun Bianca memilih untuk tak memberitahu Alan dulu. Masih ada satu hal lagi yang harus ia lakukan untuk memastikan jika hasil dari test pack tersebut benar-benar akurat.


“Bianca.” Mendengar namanya dipanggil, Bianca dengan cepat memasukkan alas tes kehamilan tersebut kembali ke dalam pouch bagnya. Lalu segera membasuh wajahnya dengan air agar Alan tak curiga.


“Alan.” Ucap Bianca setelah ia keluar dari dalam kamar mandi. Tak jauh darinya, ia mendapati pria itu tengah melambai padanya—memberinya isyarat agar ia kembali naik ke atas tempat tidur. Tas kecilnya telah ia letakkan kembali di dalam lemari dan pria itu tak curiga sama sekali.


Tak lama setelah Bianca berada di sebelahnya, Alan dengan cepat memeluk erat wanita itu seraya mengecup pucuk kepalanya.


“Sayang.” Alan dengan tak sabaran mengecup bibir Bianca. Semalam, ia tak bisa bermesraan dengan istrinya karena tertidur akibat kelelahan. Dan sekarang, ia ingin menggunaan kesempatan yang ada untuk balas dendam.


“Alan, kita harus ke—”


“Ini tak akan lama.” Seru Alan cepat seraya memposisikan membuat Bianca menatapnya. Sebelah sudut bibirnya menyeringai penuh arti. Jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi dan ia masih punya banyak waktu untuk menyentuh setiap inci dari tubuh Bianca.


“Al—” Terlambat. Bianca tak bisa lagi mengelak. Alan telah lebih dulu menahan kedua tangannya seraya ******* bibirnya lembut. Dan ketika lidah Alan telah mengekspos seluruh bagian dalam mulutnya, maka pria itu tak bisa lagi di hentikan.


***


Alan dan Jimmy sama-sama fokus pada pekerjaan mereka masing-masing. Sementara Bianca tengah sibuk menatap layar ponselnya. Ia sedang mencari dokter kandungan terbaik untuk dikunjunginya. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk melakukan USG dan memastikan perihal kehamilannya. Yang jadi masalahnya adalah, ia yang harus mencari alasan agar Alan membiarkannya pulang seorang diri.


“Bianca.” Panggil Alan seraya menatap Bianca yang sedang duduk di sofa, di hadapan Jimmy.


“Kemarilah.” Ucap Alan seraya mengulurkan tangannya.


“Apa kau lelah?” Tanya Bianca seraya mengelus lembut pipi prianya. Beruntung Jimmy sedang fokus.


“Aku tak pernah merasa lelah.” Jawab Alan seraya tersenyum penuh arti. Pagi tadi, ia berhasil meninggalkan beberapa jejak kepemilikan pada tubuh wanitanya.


Bianca sontak memutar bola mata malas saat mendengar jawaban pria itu. Ia akui, Alan memang tak pernah sedikitpun merasa lelah jika menyangkut “urusan ranjang.”


“Apa kau bisa pulang seorang diri?” Tanya Alan seraya mendaratkan kecupan yang cukup lama pada telapak tangan Bianca.


“Bagaimana denganmu?”


“Aku harus bertemu dengan Aideen sore nanti.”


“Aku bisa iku—”


“Tidak!” Tolak Alan tegas. Ia tak akan lagi pernah membiarkan Bianca bertemu dengan Aideen. Pria itu pasti akan kembali melihat istrinya dengan tatapan mesum.


“Jimmy yang akan mengantarmu pulang.”


“Baiklah.” Ucap Bianca. Dalam hati, ia tak henti-hentinya bersyukur. Setelah Jimmy mengantarnya pulang, ia akan mandi sebentar lalu mendatangi sebuah rumah sakit terpercaya pilihannya untuk melakukan USG.


“Jimmy.”


“Ya, Tuan.” Jawab Jimmy cepat seraya mengalihkan perhatiannya pada Alan.


“Setelah selesai, kau bisa pulang. Tapi kau harus mengantar Bianca lebih dulu.” Ucap Alan seraya menatap Jimmy lekat. Sebuah senyuman simpul terukir di bibirnya. Hal yang sontak membuat Jimmy menunduk malu.


“Baik.” Seru Jimmy cepat lalu kembali fokus pada beberapa berkas di hadapannya.


***


Fiona tersenyum senang ketika masakannya hampir selesai. Hari ini, Jimmy pulang lebih cepat dari biasanya. Dan secara tiba-tiba, pria itu juga mengajaknya pergi berbelanja bersama dan memintanya untuk menyiapkan makan malam yang berbeda dari biasanya.


Mendadak, ingatannya kembali melayang pada perbincangannya dengan Jimmy ketika mereka telah selesai berbelanja.


“Apa kita sedang merayakan sesuatu?” Tanya Fiona tepat setelah ia mendudukkan dirinya di sebelah Jimmy. Saat ini, mereka telah berada di dalam mobil dan sedang menuju perjalanan pulang setelah membeli beberapa kebutuhan dapur.


“Tidak.” Jawab Jimmy singkat. Ia tengah fokus mengemudi.


“Lalu?” Tanya Fiona lagi. Ia masih penasaran. Tak biasanya pria itu meminta dirinya menyiapkan makan malam yang cukup banyak dan juga spesial.


“Selama ini, aku belum pernah sekalipun mengajak Jane makan malam bersama di luar.” Ucap Jimmy seraya tersenyum sedih. Ia menatap Fiona sekilas lalu kembali mengalihkan perhatiaannya pada jalanan.

__ADS_1


Fiona sontak terdiam. Ia tahu betul bagaimana perasaan pria itu. Dengan kondisi Jane yang seperti sekarang ini, Jimmy tak akan mungkin mengajak Jane keluar untuk makan malam bersama dan membuat wanita itu menjadi bahan tertawaan orang lain. Jimmy hanya tak ingin keluarga satu-satunya yang ia miliki, tersakiti lebih dalam lagi.


“Jimmy.”


“Aku hanya berharap, suatu saat nanti, Jane bisa menikmati semua kerja keras yang sudah kulakukan sampai saat ini. Dia sudah terlalu banyak berkorban untukku.” Jimmy sontak menghela napas dalam. Dadanya kembali berdenyut sakit ketika memikirkan Jane. Apalagi saat mengingat semua pengorbanan yang wanita itu lakukan untuknya.


“Aku yakin, Jane pasti akan sangat menyukainya.” Ucap Fiona seraya menatap Jimmy lekat. Ia mengelus pipi pria bermata biru itu dengan lembut. Sehingga membuat Jimmy dengan cepat menarik tangannya lalu mendaratkan satu kecupan singkat pada punggung tangannya.


“Fiona.” Gumam Jimmy ketika melihat wanita itu tengah sibuk menata berbagai jenis makanan di atas meja makan. Dengan langkah pelan, ia segera menghampiri Fiona lalu menghadiahinya satu pelukan erat dari arah belakang.


“Jimmy!” Seru Fiona kaget. Beruntung piring yang ia pegang tak jatuh. Tanpa ia sadari, Jimmy menatap intens bahunya yang sedikit terekspos sekaligus memamerkan sebuah tanda kemerahan di sana.


“Hanya sebentar.” Bisik Jimmy seraya semakin mengeratkan pelukannya. Satu kecupan lembut ia layangkan pada bahu Fiona.


Fiona tersenyum simpul. Dengan gerakan pelan, ia menolehkan sedikit kepalanya ke samping dengan sebelah tangan yang terangkat ke atas untuk memegang bagian belakang kepala Jimmy.


Jimmy yang mengerti maksud wanita itu, dengan cepat memajukan kepalanya lalu mempertemukan bibir mereka. Keduanya berciuman dengan lembut. Sesekali, Fiona menyapukan lidahnya pada bibir pria itu. Seolah tak ingin kalah, Jimmy membalas perbuatan Fiona dengan cara mengulum bibir wanita itu secara bergantian. Dan yang terakhir, ia mengecup lama leher Fiona sembari menyesapnya sebentar.


“Kau harus menemani Jane.” Ucap Fiona setelah tautan bibir mereka terputus. Napas keduanya memburu dengan mata yang masih terpejam. Tak lama, Jimmy segera melepaskan pelukannya lalu melangkah menuju kamar Jane.


***


Bianca kembali menghela napas lega tatkala ia telah sampai di rumah. Perkiraannya salah. Awalnya, ia menyangka jika tak akan lama ketika memutuskan untuk pergi ke rumah sakit guna melakukan USG. Namun ternyata, ia harus mengantri. Beruntung Alan masih belum pulang.


“Alan.” Lirih Bianca. Ia baru saja mendengar suara deru mesin mobil saat memutuskan untuk turun ke lantai satu. Dengan cepat, Bianca kembali masuk ke dalam kamar lalu menuju kamar mandi guna menormalkan detak jantungnya.


“Sayang.” Alan yang baru saja tiba di kamar, dengan tak sabaran mencari keberadaan istrinya. Ia sudah sangat merindukan Bianca dan berharap bisa segera merengkuh tubuh wanita itu.


Dengan langkah pelan serta raut wajah santai, Bianca melangkah keluar dari dalam kamar mandi.


“Alan.” Panggil Bianca. Alan yang sedang duduk di tepi tempat tidur, dengan cepat berbalik dan menemukan wanita itu tengah tersenyum padanya.


“Aku merindukanmu.” Ucap Alan setelah Bianca berdiri di hadapannya. Ia segera memeluk pinggang wanita itu seraya menenggelamkan wajanya pada perut Bianca yang tertutupi tank top hitam.


Bianca kembali tersenyum simpul. Kedua tangannya ia letakkan pada pipi Alan seraya meminta pria itu untuk mendongak menatapnya.


Perlahan, Bianca menunduk sembari mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir Alan. Ia juga merindukan prianya.


“Aku punya sesuatu untukmu.” Bisik Bianca setelah melepaskan tautan bibir mereka. Padahal Alan baru berniat untuk memperdalam ciuman mereka.


Dengan cepat, Bianca melangkah menghampir hand bag hitamnya yang berada di atas meja dan mengambil sesuatu dari dalam sana.


“Tadi aku ke rumah sakit.” Jawab Bianca lirih. Mendadak, tatapan mata Alan berubah tajam. Pikiran-pikiran buruk sontak berputar di dalam kepalanya.


“Kau … sakit?” Alan kembali bertanya. Namun kali ini, ekspresi wajahnya berubah takut. Sungguh, ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada wanita yang sangat di cintainya.


Bianca tak menjawab. Ia lebih memilih diam seraya memberi isyarat pada Alan untuk segera membuka amplop tersebut.


“Bianca, apa ini?” Alan menatap Bianca tak mengerti ketika baru saja membuka amplop putih tersebut dan hanya menemukan dua lembar foto berwarna hitam putih.


“Lima minggu.” Jawab Bianca singkat. Ia masih tetap memasang wajah datar. Apalagi saat raut wajah Alan semakin terlihat bingung.


“Apa maks—” Ucapan Alan sontak terhenti setelah ia melihat senyuman lebar Bianca. Sebelah tangannya yang memegang foto tersebut bergetar. Tak lama kemudian, ia menunduk lalu dengan cepat memeluk Bianca dengan masih tetap duduk di tepi tempat tidur.


“Alan.” Panggil Bianca lembut seraya mengecup pucuk kepala suaminya lama. Alan masih senantiasa terdiam. Dan Bianca yakin jika pria itu masih mencerna semuanya.


“… sih.” Gumam Alan dengan suara pelan.


“Terima kasih.” Alan berucap pelan seraya menangis dalam diam. Ia tak kuasa lagi menahan laju air matanya saat tersadar jika Bianca tengah mengandung anaknya. Darah dagingnya. Buah cinta mereka.


Alan yang selama ini tak pernah sedikitpun memikirkan tentang pernikahan apalagi sampai membayangkan memiliki sebuah keluarga, kembali mendapatkan hadiah terindah dalam hidupnya. Setelah semua rasa sakit serta kenangan buruk yang didapatkannya sewaktu kecil, ia jadi tak pernah berani untuk membayangkan masa depannya akan seperti apa. Alan bahkan rela jika sampai akhir hidupnya, ia tetap tinggal seorang diri—tanpa memiliki seorang istri ataupun anak.


Namun sekarang, satu per satu kebahagiaan datang menghampirinya. Hal yang dulu menjadi mustahil, bahkan dalam angan-angannya sekalipun, perlahan berubah menjadi kenyataan. Dan semuanya bermula semenjak Bianca hadir di dalam kehidupannya.


“I Love You.” Bisik Bianca seraya memeluk pundak suaminya. Secara tiba-tiba, Alan melepaskan pelukannya lalu berjalan cepat keluar kamar.


“SOFIE! SOFIE!” Teriak Alan dari ujung tangga lantai dua. Tak lama, Sofie muncul dari arah dapur dengan berlari. Kaget mendengar teriakan memekik Alan.


“Ya, Tuan.” Jawab sofie dengan suara terengah.


“Cepat panggil Harry. Istriku–istriku—”


“Baik!” Tanpa mendengar Alan menyelesaikan ucapannya, Sofie dengan sigap melangkah pergi untuk menghubungi dokter Harry dan meminta pria itu agar segera datang. Keadaan istri tuannya pasti sedang tak baik-baik saja.


“Alan, aku baik-baik sa—”


“Tidak! Aku harus kembali memastikan jika kau dan anak kita benar-benar dalam kondisi yang baik dan juga sehat. Aku juga harus menghubungi Jimmy dan meminta pria itu untuk membatalkan semua jadwalku. Tugasku sekarang hanyalah untuk menemanimu dan memastikan jika kau—”

__ADS_1


Bianca kembali memenjara bibir Alan saat mendengar ucapan panik serta tak masuk akal pria itu. Ia tahu jika ini adalah yang pertama untuk mereka berdua. Dan ia juga tahu seberapa besarnya kebahagiaan yang Alan rasakan saat ini. Sama seperti dirinya.


“Aku dan anak kita akan baik-baik saja.” Ucap Bianca lembut seraya menatap Alan lekat.


“Bianca, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.” Bisik Alan seraya merengkuh tubuh istrinya. Ia mengecup penuh sayang surai hitam Bianca.


Alan merasa semuanya sudah lengkap. Seiring berjalannya waktu, keluarga mereka akan dipenuhi oleh suara tawa serta tangisan anak kecil. Dan Alan akan melakukan apa pun untuk memastikan kondisi istri serta anaknya selalu dalam keadaan sehat. Pun melindungi mereka berdua.


***


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Jimmy melangkah pelan untuk menghampiri Jane yang duduk tak jauh darinya. Ketika ia telah berada di sisi Jane, Jimmy terlihat sedang mengambil sesuatu dari saku celananya—sebuah kotak hitam berukuran sedikit besar.


“Jane.” Panggil Jimmy lembut. Jane yang masih menikmati makanannya, segera beralih menatap Jimmy lekat.


“Aku punya sesuatu untukmu.” Ucap Jimmy seraya tersenyum simpul. Perlahan, ia membuka kotak hitam tersebut lalu mengambil sebuah gelang yang berada di dalamnya.


Dengan penuh kehati-hatian, Jimmy memasangkan sebuah gelang silver yang bertaburkan beberapa buah batu safir biru di bagian luarnya pada pergelangan tangan kiri Jane. Perhiasan pertama yang ia berikan pada wanita itu menggunakan uang hasil kerja kerasnya.


“Kau suka?” Tanya Jimmy seraya menatap Jane lekat. Di sebelah Jane, Fiona duduk dalam diam seraya tersenyum. Ia begitu senang melihat interaksi Jane dan juga Jimmy yang semakin sering terjadi.


Jane mengedip sekali seraya mengangguk pelan dan membuat Jimmy tersenyum senang melihatnya. Satu kecupan ia daratkan pada kening Jane.


“Sekarang habiskan makananmu.” Seru Fiona seraya tersenyum geli. Ia kembali menyuapi Jane dengan sesendok kecil ice cream waffle sundae buatannya. Bukan hanya menyiapkan makan malam, tapi Fiona juga membuat dessert sebagai pelengkapnya.


“Fiona.” Jimmy memanggil Fiona dengan suara lirih. Tapi masih bisa di dengar oleh wanita itu. Jimmy sedang berdiri di hadapan Fiona yang sedang memunggunginya karena masih menyuapi Jane.


“Ya.” Jawab Fiona singkat. Sebelah tangannya terangkat untuk menghapus noda es krim pada sudut bibir Jane seraya tersenyum simpul. Pemandangan yang selalu berhasil membuat Jimmy tersenyum bahagia.


“Fiona.” Jimmy kembali memanggil Fiona saat wanita itu masih belum mau berbalik untuk menatapnya.


“Ada ap—” Fiona sontak mematung di tempatnya ketika ia berbalik untuk menatap Jimmy dan mendapati pria itu sedang berdiri di depanya seraya memegang sebuah kotak kecil beludru berwarna biru. Di dalamnya, terdapat sebuah cincin emas putih.


“Jimmy, apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Fiona dengan suara nyaris berbisik. Mendadak, jantungnya berdegup kencang.


“Fiona … will you marry me?” Jimmy berucap penuh kesungguhan seraya menatap Fiona lekat. Tak ada sedikitpun keraguan pada wajah atau pun tatapannya.


Fiona masih terdiam seraya mencerna ucapan pria itu. Tak lama, pandangannya mengabur. Dengan cepat, ia bangkit dari duduknya untuk menghampiri Jimmy.


“Yes, I will!” Jawab Fiona mantap. Dengan penuh kelembutan, Jimmy mengangkat tangan kanan Fiona lalu memasangkan sebuah cincin bertahtahkan baru ruby pada jari manis wanita itu. Tak lupa, Jimmy membuka cincin pertunangan mereka yang berada pada jari manis kiri Fiona.


Seraya terisak kecil, Fiona segera memeluk tubuh Jimmy dengan erat. Dan pria itu pun balas melakukan hal yang sama sembari mendaratkan kecupan bertubi pada pucuk kepalanya.


Kali ini, Fiona kembali meneteskan air mata, tapi bukan air mata kesedihan melainkan air mata penuh kebahagiaan.


“Jane!” Fiona berseru senang setelah melepaskan pelukannya pada Jimmy. Ia beralih untuk menatap Jane dengan tetap berada di sisi Jimmy.


“Lihat ini. Jimmy juga memberikanku sebuah hadiah.” Ucap Fiona seraya mengangkat tangan kanannya. Ia masih tak mampu menahan laju air matanya.


“Tak lama lagi, aku akan menjadi keluarga kalian secara resmi.” Sambung Fiona. Ia kembali memeluk Jimmy erat.


Dalam diamnya, Jane hanya mampu menatap Jimmy dan juga Fiona lekat. Kedua matanya mengedip sekilas. Perlahan, mulutnya terbuka kecil, lalu kembali tertutup.


“Ji–mmy.” Ucap Fiona dengan susah payah. Mendadak, satu tetes cairan bening jatuh membasahi pipinya.


Jimmy dan Fiona yang mendengar suara Jane, sontak terdiam mematung dengan mata membulat tak percaya. Apalagi saat menemukan Jane tengah meneteskan air mata.


“Jane!” Jimmy dengan cepat menghampiri Jane seraya berlutut di hadapan wanita itu. Kedua tangannya menggenggam erat tangan saudaranya dengan tatapan yang tak pernah lepas sedikitpun dari wajah Jane.


“Panggil aku sekali lagi.” Ucap Jimmy memohon. Ada nada penuh harap dalam ucapannya. Semoga saja ia sedang tak bermimpi.


“Jimmy.”


Jimmy tak mampu lagi menahan tangisannya ketika mendengar Jane memanggil namanya. Suara yang sudah lama tak pernah didengarnya, kini perlahan memasuki indra pendengarannya. Menghantarkan perasaan rindu yang begitu membuncah.


Ia terisak di atas pangkuan Jane. Dadanya terasa begitu sesak. Jimmy bahkan tak peduli jika Fiona melihat keadaannya saat ini. Air matanya seolah menolak untuk berhenti menetes.


“Jane, maafkan aku. Maafkan aku.” Racau Jimmy. Ia kembali memohon maaf pada Jane saat sadar jika ia tak mampu melindungi wanita itu.


Perlahan, tangan Jane yang bebas terangkat ke atas. Ia mengelus kepala Jimmy dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Fiona yang sedari tadi masih setia berdiri tanpa suara, sontak menutup mulutnya ketika isakan kecilnya lolos begitu saja. Ia juga menangis dalam diam ketika melihat mereka berdua.


Setelah menatap kepala Jimmy yang masih menunduk dengan cukup lama, Jane secara tiba-tiba mendongak untuk menatap Fiona. Lalu tersenyum penuh ketulusan pada wanita itu.


“Jane.” Lirih Fiona di antara isakannya. Ia lebih memilih untuk tetap berada di posisinya dan membiarkan Jimmy serta Jane menikmati kebersamaan mereka. Ia yakin, jika ada begitu banyak hal yang ingin mereka berdua sampaikan. Dan Fiona tak ingin mengganggunya.


Setelah yakin jika tangisannya sudah mulai mereda, Jimmy sontak mendongak untuk menatap Jane. Sebelah tangannya terangkat ke atas untuk menghapus jejak air mata pada pipi wanita itu. Tak lama, kedua bibirnya mengukir senyum merekah. Sehingga membuat matanya sedikit menyipit.

__ADS_1


“Terima kasih.” Ucap Jimmy seraya mengecup kening Jane lama. Lalu kembali merengkuh tubuh wanita itu.


__ADS_2