
Setelah hampir satu minggu berada di rumah sakit, Bianca akhirnya pulang ke rumah. Awalnya, dokter memperbolehkannya untuk pulang lebih cepat, hanya saja, Alan menolak dengan alasan, pria itu ingin memastikan kondisi istri serta kedua bayi kembarnya dalam keadaan yang sehat dan baik-baik saja.
Posesif seperti biasanya.
“Alan, kita mau ke mana?” Tanya Bianca seraya menatap Alan heran. Pasalnya, pria itu melajukan mobilnya melewati jalan yang berbeda. Bukan mengarah ke rumah mereka.
“Pulang.” Jawab Alan sekilas.
Di kursi belakang, Sofie hanya terdiam. Sesekali, ibu jarinya mengelus lembut pipi Beatrice yang sedang berada di dalam gendongannya karena Bianca sedang menggendong Alex.“Pulang ke mana?”
“Ke rumah kita.”
“Rumah? Bukankah rumah kit—” Bianca yang melihat Alan tersenyum lebar dari samping, tanpa sadar menutup mulutnya dan menatap pria itu tak percaya.
Sekarang ia baru paham akan maksud ucapan suaminya.
“Alan, jangan bilang rumah kita itu....”
“Sayang, kita sudah sampai.” Ucap Alan setelah menghentikan laju mobilnya.
Dengan cepat, Bianca mengikuti arah pandang Alan yang menatap lekat sebuah rumah berpagar besi dan beton berwarna hitam-keabu-abuan. Bahkan hanya dengan melihat pagar tinggi yang berdiri kokoh tersebut, Bianca sudah bisa langsung tahu seberapa mewah rumah yang berada di dalamnya.
“Alan, ini—”
“Rumah kita.” Jawab Alan. Ia menatap Bianca lekat seraya tersenyum simpul.
Di tengah keterkejutannya, Bianca melihat Alan menyentuh sesuatu pada layar ponselnya. Tak lama berselang, Bianca menatap dua pagar yang tertutup rapat tersebut perlahan terbuka. Memperlihatkan beberapa jenis tanaman hias tertata rapi pada sebuah halaman luas berumput hijau.
Terdapat satu jalanan panjang dan lebar yang tak dihiasi oleh rumput. Yang memang dibuat secara khusus sebagai akses kendaraan untuk tiba pada rumah utama.
Tepat setelah mobil Alan melewati pagar besi yang terbuka lebar tersebut, lampu-lampu taman berwarna putih-kebiruan menyala secara otomatis. Menyambut mereka yang memang pulang menjelang matahari terbenam.
“Alan.” Ucap Bianca tak percaya. Seakan belum cukup, mobil Alan yang berhenti di depan sebuah rumah super mewah berlantai tiga bergaya Eropa sukses membuat Bianca tak bisa lagi berkata-kata.
Bukan hanya luas dan mewah, tapi rumah mereka bak istana kerajaan yang ditopang oleh pilar-pilar besar nan tinggi. Yang menurutnya, merupakan hasil perpaduan dari mansion dan kastil.
“Tunggu aku.” Ucap Alan sembari membuka sabuk pengaman miliknya. Ia segera beranjak dari belakang kemudi untuk membantu Bianca dan Sofie keluar dari dalam mobil karena sedang menggendong.
Tepat setelah pintu utama rumah tersebut terbuka, Bianca langsung disambut oleh ruang tamu luas bergaya Victoria-Modern. Lengkap dengan tiga lampu kristal berbentuk bunga yang berjejer rapi dan menggantung indah di atas plafon berwarna putih gading.
“Sayang, ayo.” Seru Alan seraya melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Bianca. Mengajak wanita itu untuk melangkah masuk bersama.
Alan memang telah memutuskan untuk menjadikan rumah baru mereka sebagai hadiah untuk Bianca. Juga bagi kedua bayi kembar mereka. Hanya saja, ia dengan sengaja tak memberitahu wanita itu. Hanya Jimmy dan rekan-rekannya yang bekerja dibidang arsitek, yang waktu itu ia percayakan untuk mengurus semuanya yang tahu perihal rencananya. Pun ikut membantu memindahkan beberapa barang-barang penting mereka berdua dari rumah yang dulu.
“Sofie, ayo.” Bianca segera menoleh ke belakang untuk menatap Sofie yang masih terdiam mematung. Menatap tak percaya rumah mewah tersebut.
Sofie juga tak tahu perihal rencana Alan. Sebab, pria itu hanya memintanya untuk mengemasi seluruh pakaiannya.
“Nyonya, tapi aku—”
“Sofie, rumah ini juga akan menjadi rumahmu dan aku ingin kau tinggal di sini. Menemaniku merawat Alex dan Beatrice.”
Sofie kembali meneteskan air mata. Bukan hanya tak percaya, ia juga masih tak menyangka jika Alan dan Bianca memperbolehkannya untuk tinggal di rumah tersebut.
“Terima kasih.” Ucap Sofie seraya tersenyum bahagia.
“Bianca, kita langsung ke kamar, okay? Kalian pasti lelah menggendong Alex dan Beatrice.
“Tidak.” Jawab Bianca dan Sofie kompak.
Alan tersenyum. Ia kembali mengajak dua wanita itu untuk melangkah masuk. Melewati ruang tamu lalu berbelok ke kiri menuju ruang tengah. Juga tempat tangga besar dan tinggi berada. Yang bisa mereka gunakan menuju lantai dua.
Selain menggunakan material terbaik dikelasnya, Alan juga memakai teknologi super canggih dan terkini pada rumahnya.
Bahkan seluruh lampu kristal dan led yang tertanam di plafon juga menggunakan sensor. Yang akan menyala secara otomatis saat merasakan suhu tubuh seseorang. Tak lupa dengan beberapa CCTV yang terdapat pada setiap ruangan.
“Lift?” Tanya Bianca tak percaya. Selama ini, ia hanya mengira jika rumah yang benar-benar mempunyai lift hanya ada di dalam TV saja. Namun sekarang, ia bisa melihatnya secara langsung.
“Ya. Agar kalian tak lelah jika harus menaiki tangga terus.”
Setelah berada di dalam lift, Alan segera menekan angka 2. Tak lama kemudian, mereka telah berada di lantai dua dan kembali disuguhkan oleh pemandangan super mewah, elegan dan juga modern.
Bianca bahkan baru tersadar jika setiap ruangan yang dilihatnya memiliki desain yang tak sama. Akan selalu ada hal yang membuatnya terkejut.
“Alan.”
“Sayang, aku akan mengajakmu berkeliling nanti. Sekarang, kalian harus beristirahat lebih dulu.”
Bianca mengangguk mengerti. Sekalipun sangat ingin berkeliling untuk melihat setiap sudut rumah baru mereka, rasa lelah kembali menghampirinya.
“Sofie, apa kau bisa menyiapkan makan malam?” Tanya Alan seraya menatap Sofie.
“Tentu saja, Tuan.” Jawab Sofie sembari tersenyum hangat.
Seusai membaringkan tubuh kecil Beatrice di atas tempat tidur, Sofie segera melangkah pergi. Berniat untuk menyiapkan makan malam demi orang-orang yang ia sayangi layaknya keluarga.
“Tempat tidur?” Alan menatap Bianca penuh tanya.
“Ya. Aku ingin kita berempat tidur bersama.” Bianca balas menatap Alan seraya tersenyum simpul. Ia ingin mereka berempat tidur bersama dihari pertama menempati rumah baru tersebut.
Selama berada di rumah sakit, Alan pasti akan tidur di Sofa sedangkan Alex dan Beatrice berada di box bayi saat malam hari.
“Aku jadi tak bisa memelukmu.” Gurau Alan. Ia mengecup gemas pipi Alex dan sukses membuat kening bayi lucu itu mengerut sejenak. Seakan tak suka akan tindakan Ayahnya.
“Kau masih harus menunggu selama empat puluh hari.”
Bianca tak kuasa menahan tawa gelinya saat melihat wajah kaget suaminya. Sebab, pria itu masih belum tahu jika mereka berdua tak akan bisa saling “menyentuh” dalam waktu yang cukup lama.
“Selama itu? Sayang, kau ingin menyiksaku?” Alan yang sedang berada di sisi Alex, segera bangkit dari atas tempat tidur. Melangkah cepat memutari tempat tidur besar mereka untuk berdiri di dekat Bianca.
“Alan, maksudku—”
Sebelum Bianca sempat menyelesaikan ucapannya, Alan telah lebih dulu membungkam bibirnya. Mengecupnya lembut diselingi dengan beberapa ******* kecil.
“Aku tahu.” Bisik Alan seraya menyeringai kecil. Pria itu paham betul maksud ucapan istrinya. Sekalipun tak bisa menyentuh Bianca secara intens, mereka berdua masih bisa melakukan beberapa hal yang menyenangkan.
Bahkan hanya dengan membayangkannya saja, Alan merasa jika tubuhnya sudah bereaksi lebih dulu.
“Bianca.” Panggil Alan. Ia menatap Bianca tajam dengan mata berkilat aneh.
Melihat tatapan suaminya, Bianca hanya bisa menggeleng pelan. Bukan karena ia tak mau. Bianca hanya tak ingin mengganggu tidur nyenyak kedua malaikat kecilnya.
“Alan—”
Terlambat. Alan sudah lebih dulu mengulum kedua bibirnya. Dan Bianca tak tahu lagi apa yang akan terjadi setelahnya.
***
Jane yang sedang berada di dalam kamarnya, segera menoleh ke arah pintu dan mendapati James tersenyum simpul. Bukan hanya kaget, ia juga tak menyangka jika pria itu akan datang tanpa memberitahunya sama sekali. Biasanya, James akan menghubungi Jimmy atau Fiona lebih dulu karena ia memang tak memiliki ponsel. Lebih tepatnya, masih belum ingin.
“James.” Seru Jane senang. Ia segera melangkah menghampiri pria itu lalu menariknya untuk berdiri di dekat jendela.
“Jimmy menyuruhku untuk langsung menemuimu di kamar.” Ucap James. Ia mengelus lembut pipi wanita itu. Jujur saja, ia sangat merindukan Jane. Tiga hari tak bertemu dengannya benar-benar membuatnya tak bisa fokus bekerja.
“Aku merindukanmu.” Bisik James. Ia mengecup kening Jane lalu memeluk wanita itu erat. Melampiaskan seluruh perasaan rindunya.
Jane tersenyum. Balas memeluk pria yang dicintainya.
__ADS_1
“Bagaimana dengan Bianca?” Tanya James setelah melepas pelukan mereka.
“Bayinya kembar. Alex dan Beatrice.” Jawab Jane penuh semangat. Kembali membayangkan wajah lucu kedua bayi itu.
“Apa kau juga menginginkan bayi kembar?” Pertanyaan tak terduga James sontak membuat Jane menatapnya tak percaya. Perlahan, wajah wanita itu berubah menjadi merah. Dan sukses membuat James tertawa lepas.
Merasa senang karena berhasil menggoda wanitanya.
“James!”
“Maafkan aku.” Bisik James. Ia kembali menarik Jane ke dalam dekapannya. Mengecup sekilas pucuk kepala wanita itu.
“Aku mau.” Ucap Jane seraya menatap James. Kedua tangannya ia lingkarkan pada pinggang pria itu.
James tersenyum. Merasa sangat bahagia karena Jane sudah lebih terbuka padanya.
“Jane.” Lirih James. Ia secara perlahan mengikis jarak di antara mereka.
James mencium bibir Jane secara lembut. Dengan masih tetap berpelukan.
Ditemani dengan cahaya bulan di atas langit sana, mereka berdua larut dalam tautan bibir penuh kerinduan.
***
Alan yang baru saja masuk ke dalam kamar, tersenyum simpul saat melihat Bianca ikut tertidur sembari memberikan ASI pada Beatrice. Di sebelah putri kecilnya, Alex tertidur begitu lelap. Sesekali, kedua bibir mungilnya bergerak lucu.
“Aku pulang.” Bisik Alan sembari mengecup lama kening Bianca. Hari ini ia memang memutuskan untuk datang sebentar ke kantor, guna mengecek beberapa hal. Dan beruntung Jimmy serta Lucy bisa mengurus semua pekerjaan yang ada.
“Alan.” Ucap Bianca ketika merasakan keberadaan seseorang di dekatnya. Tak jauh darinya, ia melihat Alan sedang mengganti setelan kerjanya dengan pakaian santai.
“Apa aku mengganggumu?” Tanya Alan seraya menatap istrinya lekat.
Bianca menggeleng pelan sebagai jawaban. Tak lama, ia juga bangkit dari atas tempat tidur. Melangkah santai menghampiri Alan yang masih berdiri di dekat lemari.
“Aku merindukanmu.” Bisik Bianca seraya memeluk Alan erat. Menenggelamkan wajahnya di dalam dekapan hangat pria itu sembari menghidu aroma wangi dari tubuhnya.
Sekalipun tidur bersama, Alan dan Bianca tak bisa saling menyentuh secara bebas karena Alex dan Beatrice berada di tengah-tengah mereka.
“Sayang.” Panggil Alan. Ia mengelus lembut pipi Bianca lalu mengecupnya mesra.
Bianca tersenyum. Secepat kilat, ia mengecup bibir Alan lalu melepaskan dekapannya dari tubuh pria itu. Kembali melangkah menuju tempat tidur untuk berada di sisi bayi kembarnya.
“Apa kalian berdua tak merindukanku?” Alan mengecup secara bergantian kedua pipi Alex dan Beatrice. Lalu menatap penuh cinta dan sayang kedua buah hatinya bersama Bianca.
“Bianca, aku masih tak menyangka jika kita akan langsung mendapatkan dua hadiah terindah.”
Alan dan Bianca masih sama-sama tak menyangka jika mereka akan memiliki bayi kembar. Apalagi pada kehamilan pertama istrinya. Namun, mereka berdua tetap bersyukur atas semuanya.
“Kalian bertiga adalah hadiah terindah dan harta paling berharga yang kumiliki di dalam hidupku. Sampai kapanpun.” Ucap Bianca seraya menatap Alan lekat.
Mereka berdua tersenyum secara bersamaan. Lalu beralih untuk menatap kedua malaikat kecilnya penuh kasih.
Perlahan, Alan dan Bianca sama-sama memejamkan mata. Ikut terlelap bersama Alex dan Beatrice menjelang sore hari.
***
Alan yang baru saja membaringkan tubuh kecil Alex di dalam tempat tidur bayi yang berada di kamarnya, segera mengambil ponsel hitamnya yang bergetar di atas meja nakas.
“Ya, Jimmy.” Ucap Alan menjawab panggilan dari pria bermata biru itu.
“Tuan, aku sudah berada di bawah.” Seru Jimmy di seberang sana. Ia memang sudah memberitahu Alan jika akan berkunjung pada malam hari.
“Kau bisa langsung ke lantai dua. Aku akan menunggu kalian di kamar.” Tepat setelah sambungan teleponnya terputus, Alan melihat Bianca baru saja keluar dari kamar mandi.
“Siapa?” Tanya Bianca seraya menatap Alan. Rambut basahnya masih terbungkus oleh handuk putih.
“Apa?!” Bianca yang mendengar jawaban suaminya, segera melangkah menuju lemari pakaiannya bersama Alan dan mengambil baju ganti dari dalam sana. Sebab, ia masih mengenakan jubah mandi.
“Tuan.” Panggilan pelan Jimmy dari luar pintu sontak membuat Bianca dengan cepat kembali ke kamar mandi. Tak lupa menatap jengkel pada Alan yang tengah tersenyum geli.
“Di mana bayi kembar lucuku?” Tanya Fiona tak sabaran setelah Alan membuka pintu. Berbeda dengan Jimmy yang masih saja bersikap formal pada Alan, Fiona justru tak lagi sungkan bersikap biasa pada pria itu.
“Mereka baru saja tertidur dan tolong, pelankan suaramu, Mrs. Davis.” Ucap Alan pelan.
Fiona tertawa kecil melihat wajah memberengut Alan.
“Di mana Jane?” Bianca yang baru saja ikut bergabung, dengan cepat mencari keberadaan wanita bermata biru itu. Biasanya, Jane pasti akan selalu ikut bersama mereka berdua.
“Sedang kencan makan malam bersama James.” Jawab Fiona. Jane memang tak ikut datang bersama mereka karena telah lebih dulu membuat janji dengan James.
“Beatrice.”
“Biar aku saja!” Seru Fiona cepat saat melihat Bianca ingin mengambil Beatrice yang tengah menangis di atas tempat tidur bayinya.
Jimmy yang melihat istrinya begitu pandai dalam menggendong serta menenangkan Beatrice yang sedang menangis, tak mampu menahan senyum bahagianya. Ia juga sudah tak sabar ingin mempunyai seorang anak.
“Bianca, apa kau tak ingin memberikan Beatrice padaku?” Ucapan Fiona sontak membuat Alan menatapnya tajam. Tak lama, wajah pria itu berubah menjadi kesal saat mendengar tawa puasnya.
“Jimmy, kau harus menghukum istrimu.” Desis Alan seraya menatap Jimmy penuh arti.
“Baik, Tuan.” Jawab Jimmy tanpa ragu.
Kali ini, berbalik Alan yang tertawa puas.
Bianca dan Fiona sama-sama tersenyum bahagia melihat tingkah suami mereka masing-masing. Tak lama berselang, Sofie masuk ke dalam kamar sembari membawa dua gelas coklat hangat serta dua gelas espresso.
“Terima kasih, Sofie.” Ucap Bianca sembari tersenyum hangat.
Sofie balas tersenyum. Setelah menatap Alex dan Beatrice sejenak, wanita paruh baya itu segera beranjak pergi.
“Fiona, kau bisa membaringkannya di atas tempat tidurku.” Seru Bianca saat melihat putri kecilnya telah tertidur lelap di dalam gendongan Fiona.
Seusai membaringkan Beatrice, Fiona segera duduk di sofa yang berada di dalam kamar tersebut. Ikut bergabung bersama Jimmy, Alan dan Bianca.
Tak seperti Jimmy, Fiona tak henti-hentinya berucap kagum di dalam hati saat pertama kali melihat rumah baru Bianca dan Alan. Bukan hanya halaman depan, ruang tamu serta ruang tengahnya yang sangat luas dan mewah, bahkan kamar mereka berdua pun juga tak kalah besarnya.
“Jimmy, apa kau menginginkan rumahku yang dulu?”
“A–Apa?!” Jimmy hanya bisa menatap Alan tak percaya.
“Rumah?” Ucap Fiona meyakinkan. Sebab ia tak tahu akan maksud perkataan Alan.
“Ya. Rumahku yang dulu sebelum pindah ke sini. Aku tak keberatan jika kalian menginginkannya.” Daripada harus menjualnya, Alan lebih rela jika rumahnya yang dulu, yang juga banyak memiliki kenangan bersama Bianca ditinggali oleh Jimmy.
“Terima kasih, Tuan. Tapi maaf, aku tak bisa menerimanya. Aku ingin membangun rumah sendiri menggunakan hasil dari kerja kerasku.” Ucap Jimmy mantap. Ia menatap Alan lekat tanpa sedikit pun perasaan takut.
Alan tersenyum. Merasa senang karena Jimmy mengutarakan keinginannya. Dan juga, ini kali pertama pria bermata biru itu menolaknya.
Alex yang sedari tadi tertidur nyenyak, secara tiba-tiba menangis kencang. Sehingga membuat mereka berempat dengan cepat menghampiri bayi laki-laki itu.
“Sayang, ada apa?” Ucap Bianca lembut seraya membawa tubuh tak berdaya anak laki-lakinya ke dalam gendongannya. Perlahan, tangisan Alex mereda. Digantikan dengan isakan kecil.
“Apa dia lapar?” Tanya Fiona.
“Bagaimana dengan diapernya?” Kali ini Alan yang bertanya.
“Mungkin Alex sedang bermimpi buruk.” Jawab Bianca menenangkan. Dua pria yang berada di dekatnya saat ini terlihat begitu khawatir.
__ADS_1
“Fiona, ada apa?” Tanya Bianca saat melihat Fiona bergerak mundur. Perlahan menjauh darinya.
“Aku–Aku merasa tak enak.” Jawab Fiona. Mendadak, ia merasa mual saat mencium aroma wangi bayi dari tubuh Alex.
“Fiona, kau tak ap—”
“Hmmphh!” Fiona dengan cepat berlari menuju wastafel yang terletak di kamar tersebut.
Wanita itu memuntahkan coklat hangat yang belum lama diminumnya.
Tanpa sadar, Bianca dan Jimmy saling menatap. Tak lama kemudian, kedua mata Bianca membulat tak percaya.
“Fiona!” Pekik Bianca dengan suara tertahan. Ia menatap Alan dan Jimmy dengan wajah berbinar bahagia.
Menyadari arti dari tatapan Bianca, Jimmy segera menghampiri istrinya.
“Apa kau baik-baik saja?” Jimmy menyerahkan beberapa lembar tisu pada istrinya. Sepasang iris birunya menatap fokus pada Fiona yang mengangguk lemah dengan kepala yang tetap menunduk.
“Ya.” Jawab Fiona. Setelah yakin jika dirinya tak lagi merasa mual, ia segera mendongak. Menatap pantulan wajahnya pada cermin yang berada di depannya. Tepat di atas wastafel berwarna putih tersebut.
“Apa kau ingin kita ke rumah sakit?” Tanya Jimmy seraya menyeka sisa air pada sudut bibir istrinya.
“Tidak perlu. Aku ba–Hhmpph!” Fiona kembali merasa mual saat mencium aroma bayi yang terbawa oleh angin. Dengan cepat, ia kembali menunduk. Bersiap untuk memuntahkan sisa makanan di dalam perutnya.
“Fiona!” Ucap Bianca senang. Dengan Alex yang berada di dalam gendongannya, ia menatap Alan penuh arti dan membuat pria beriris hitam itu menyeringai kecil.
“Kurasa, tak lama lagi, kalian juga akan memiliki Jimmy Junior.”
“Apa?!” Seru Jimmy dan Fiona secara bersamaan. Mereka berdua menatap Alan tak mengerti. Apalagi saat melihat Bianca juga tersenyum aneh.
Tak lama berselang, kedua mata Jimmy membulat tak percaya. Perlahan, ia beralih menatap Fiona. Lalu segera menarik wanita itu ke dalam dekapannya.
“Jimmy, ada apa?” Fiona yang masih belum paham, hanya bisa mengerutkan keningnya. Baru setelah Jimmy membisikkan sesuatu pada telinganya, ia dengan cepat menarik tubuhnya dari pelukan pria itu.
“Ha–Hamil?” Ucap Fiona tak percaya. Perlahan, kedua matanya mengabur. Lalu digantikan dengan cairan bening yang jatuh membasahi pipinya.
Dengan cepat, Jimmy kembali memeluk erat wanita yang dicintainya. Sekalipun belum ada bukti pasti, Jimmy tetap yakin jika Fiona pasti tengah hamil.
“Alan.” Bianca menatap Alan penuh cinta. Seraya duduk bersandar di atas tempat tidur, Alan tak lupa memeluk posesif pinggang wanitanya.
“Apa kau juga masih menginginkan Alan Junior?” Goda Alan sembari menyeringai penuh arti sehingga membuat Bianca memutar kedua bola matanya malas.
Alan tergelak. Ia mendaratkan satu kecupan hangat pada kening istrinya lalu menatap Bianca dalam. Penuh cinta.
“Bianca, aku sangat—sangat mencintaimu.” Bisik Alan. Ia dengan lembut menempelkan keningnya dengan kening Bianca.
“Bagaimana dengan Alex dan Beatrice? Apa kau juga mencintai mereka berdua?” Bianca tersenyum seraya memegang sebelah pipi suaminya. Berusaha untuk tak banyak bergerak karena Alex masih berada di dalam gendongannya. Malaikat kecilnya itu jauh lebih sering menangis dibanding dengan saudara perempuannya.
“Tentu saja. Mereka berdua adalah wujud dari cinta kita.”
Alan menyatukan bibir mereka berdua dengan lembut. Tanpa hasrat yang menggebu. Seolah ingin menyampaikan sekali lagi pada Bianca jika ia memang benar- benar mencintai wanita itu dengan sepenuh hati. Bahkan rela melakukan apa pun untuknya.
Bianca tersenyum simpul disela-sela tautan bibir mereka. Setelahnya, ia balas mencium bibir Alan.
“I Love You.” Bisik Bianca.
“You are my everything.” Balas Alan seraya kembali mengecup sekilas bibir Bianca. Lalu beralih menatap kedua malaikat kecilnya. Mengecup kening Alex dan Beatrice penuh sayang.
“Kalian bertiga adalah harta paling berharga di dalam hidupku.” Ucap Alan. Pria itu tersenyum penuh kebahagiaan.
Tak jauh darinya, Jimmy dan Fiona menatap mereka berempat penuh haru. Ikut merasakan kebahagiaan yang terpancar dari wajah serta tatapan mata Alan dan Bianca.
“Jimmy.” Lirih Fiona. Ia menatap Jimmy lekat.
“Ayo.” Ucap Jimmy seraya menggenggam tangan Fiona. Mengajak wanita itu untuk melangkah menghampiri Bianca dan Alan.
“Fiona! Selamat!” Seru Bianca senang. Ia segera memeluk erat Fiona setelah meletakkan Alex di atas tempat tidur. Tepat di sebelah Beatrice.
Fiona tersenyum. Balas memeluk Bianca dengan sebelah tangan menutup hidungnya. Takut kembali merasa mual saat mencium wangi bayi yang menempel pada tubuh istri Alan itu.
Tak jauh dari mereka berdua, Alan dan Jimmy berdiri bersebelahan. Menatap lekat pada istri masing- masing.
“Jimmy, kau menginginkan anak laki-laki atau perempuan?” Tanya Alan tanpa menatap pria bermata biru itu.
“Laki-laki.” Jawab Jimmy tanpa ragu.
“Bagaimana jika ternyata perempuan?”
“Aku akan tetap mencintai dan menyayanginya.” Jawab Jimmy lagi.
“Jika anakmu nanti laki-laki, dia bisa menjadi teman Alex.”
“Bagaimana dengan Nona Beatrice?”
“Mereka tak boleh berdekatan. Aku khawatir anakmu nanti akan menggoda putri kecilku.” Ucap Alan penuh penekanan. Masih belum menatap Jimmy.
“Bagaimana jika anakku nanti perempuan dan Tuan Alex yang justru mendekatinya lebih dulu?” Jimmy yang tak terima, segera menatap Alan penuh protes.
“Tidak mungkin. Sudah pasti anak-anak perempuan itu yang akan mendekati anakku lebih dulu. Sama sepertiku.” Seru Alan bangga. Ia juga balas menatap Jimmy penuh percaya diri.
Alan dan Jimmy saling bertatapan tajam saat naluri seorang “ayah” bangkit di dalam diri mereka masing-masing.
“Alex, Beatrice, kalian tak perlu cemas, Daddy akan selalu melindungi kalian.” Ucap Alan lantang. Sebelah sudut bibirnya membentuk seringaian puas saat Jimmy tak bisa membalas ucapannya.
“Tuan....”
“Jimmy, akulah pemenangnya.”
Jimmy hanya bisa pasrah mendengar tawa kepuasan tuannya. Tak lama kemudian, ia juga ikut tersenyum.
Di sisi lain, Fiona dan Bianca hanya bisa menatap dua pria itu tak mengerti.
“Apa mereka berdua baik-baik saja?” Lirih Fiona. Ia menatap Bianca penuh tanya.
“Tak usah pedulikan mereka.” Jawab Bianca tanpa minat.
Ia dan Fiona terkekeh geli secara bersamaan.
Di lubuk hati mereka masing-masing, kebahagiaan itu semakin tumbuh besar. Bukan hanya karena telah menemukan cinta dan kebahagiaannya sendiri, tapi juga karena Tuhan di atas sana mendatangkan cahaya setelah sebelumnya hanya kegelapan yang menyelimuti hati mereka.
Mereka berempat berdoa dan memohon secara bersamaan, agar cahaya kebahagiaan itu tak pernah meredup. Tapi bersinar semakin terang sehingga mampu membuat orang lain yang melihatnya ikut mendapatkan kebahagiaan juga.
END
**Haiiiiii
Annyeoonggg #lambailambai
Terima kasih banyak semuanya. Yg udah baca dan ngasih dukungan buat cerita ini.
Mungkin ada beberapa yg kecewa krna ceritanya END padahal Jimmy-Fiona belum punya anak, JJ Couple juga belum nikah. Fokus utamanya emg di Alan-Bianca. Apalagi mereka berdua udah hidup bahagia dan masih bucin2nya.
Tapiiiiiii, saya masih akan tetap update episod2/? spesial ttg mereka semua. Termasuk Alex dan Beatrice.
So, jgn kemana2 :D
Love u guys ♡**
__ADS_1