Married With The Devil

Married With The Devil
Loyalitas Jimmy


__ADS_3

Alan yang baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya bersama Bianca, menatap tak percaya pada Jimmy yang ia yakini datang lebih dulu darinya. Pria itu bahkan tak menyadari kehadirannya sama sekali. Saat ini, Jimmy dalam posisi memunggunginya karena tengah sibuk menata beberapa berkas di atas meja kerjanya.


“Jimmy?” Ucapan Alan barusan lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan. Bukannya panggilan.


“Ya.” Jimmy yang mendengar namanya dipanggil, segera berbalik dan mendapati Alan yang menatapnya lekat. Pun Bianca yang juga ikut menatapnya bingung.


“Apa yang kau lakukan?” Tanya Alan. Ia melangkah pelan menghampiri Jimmy yang masih setia berdiri di depan meja kerjanya. Iris hitamnya semakin menatap intens Jimmy dalam jarak yang cukup dekat.


“Bekerja.” Jawab Jimmy polos. Ia menatap Alan dan Bianca secara bergantian dengan pandangan tak mengerti.


“Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tak masuk?” Tanya Alan lagi. Sejak dua hari yang lalu, ia telah menyuruh Jimmy untuk tak masuk dan mengambil libur menjelang pesta pernikahannya. Ia hanya tak ingin Jimmy justru kelelahan di hari bahagianya.


“Ya, Tuan.” Jimmy mengangguk mengerti setelah mendengar pertanyaan Alan. Ia memang senang karena Alan memberikan libur padanya. Namun di sisi lain, Jimmy juga merasa tak tenang jika harus membiarkan Alan dan Bianca mengerjakan semuanya.


“Lalu untuk apa kau berada di sini?”


Bukannya menjawab, Jimmy lebih memilih menatap Alan dalam diam. Kedua mata birunya menatap Alan memohon. Tak lama, Alan menghela napas dalam seraya mendudukkan diri di kursi kerjanya.


“Jimmy, kau bisa mempercayakan semuanya padaku dan Bianca. Lagipula, masih ada Lucy yang bisa membantuku.”


Bianca yang sudah sejak tadi mendudukkan diri di sofa, mengangguk setuju mendengar ucapan Alan. Bukannya mereka berdua tak lagi membutuhkan Jimmy, hanya saja, ia dan juga Alan ingin pria itu beristirahat sejenak. Setidaknya, sebelum hari pernikahannya tiba.


“Tapi—”


“Bagaimana dengan Fiona?” Kali ini Bianca yang bertanya. Dengan cepat, Jimmy mengalihkan perhatiannya pada wanita itu sembari tersenyum simpul.


“Fiona juga tak keberatan sama sekali.” Alan yang mendengar jawaban santai Jimmy, hanya bisa memejamkan matanya sekilas. Sejak dulu hingga saat ini, Jimmy pasti akan selalu menomor satukan pekerjaan. Kecuali jika keadaannya mendesak, pria itu pasti akan meminta libur padanya.


“Jimmy, tiga hari lagi pernikahanmu akan digelar dan kau masih juga sibuk bekerja. Aku hanya tak ingin, calon istrimu menganggapku bos yang kejam.” Ucapan Alan barusan sontak membuat Bianca tertawa geli. Bukan hanya nada bicaranya yang terdengar frustasi, tapi juga raut wajah Alan yang terlihat putus asa.


Bianca hanya tak tahu, jika yang menjadi penyebab utamanya adalah dirinya dan bukan Jimmy.


“Baik, Tuan.” Jimmy yang awalnya tetap bersikeras untuk terus masuk bekerja, memilih untuk mengalah. Bukan hanya karena Alan menatapnya tajam, tapi ia juga merasa tak enak jika harus membantah ucapan serta permintaan pria itu.


“Bagus!” Seru Alan. Setelah tersenyum puas mendengar jawaban Jimmy, Alan beralih membuka sebuah berkas yang telah tersusun rapi di atas meja kerjanya. Namun belum sempat ini membaca isi di dalamnya, Alan dengan cepat kembali menatap Jimmy yang masih belum beranjak dari hadapannya.


“Ada berapa banyak yang kau undang?” Tanya Alan. Ia baru tersadar jika Jimmy bukanlah pribadi yang mudah bergaul. Sekalipun sering menemaninya menghadiri rapat penting, Jimmy hanya akan membuka suara ketika merasa perlu ata pun saat seseorang bertanya padanya.

__ADS_1


“Seratus undangan.” Jimmy memutuskan untuk mengundang teman yang dianggapnya dekat serta beberapa rekan kerja yang dirasanya penting. Sedangkan Fiona hanya mengundang teman kerjanya selama bekerja di bar dulu.


“Seratus?” Ulang Bianca. Ia menatap Jimmy tak percaya. Pasalnya, Bianca sudah mengira jika Jimmy akan mengundang lebih banyak lagi. mungkin seribu orang. Atau lebih.


“Jimmy, apa uang yang kumiliki tak mampu untuk menanggung lebih banyak tamu undangan lagi?” Alan bertanya dengan nada tak terima seraya menatap Jimmy tajam. Seratus tamu undangan? Bahkan pegawai di seluruh perusahaannya hampir mencapai angka satu juta karyawan. Belum lagi di hotel, bar serta bisnisnya yang lain. Dan lagi, kartu kredit miliknya masih berada di Jimmy dan meminta pria itu untuk mengembalikannya ketika pesta pernikahannya telah usai.


“Apa? Tidak. Tidak, Tuan. Aku hanya merasa seratus undangan sudah lebih dari cukup.” Ucap Jimmy cepat. Ia tak ingin membuat Alan marah serta secara tak langsung menyinggung perasaan pria itu.


“Tambah. Undang seluruh pegawai yang ada. Pun semua rekan-rekan bisnisku. Mereka semua harus tahu jika kau—Jimmy Davis, asisten pribadi sekaligus tangan kananku, bukanlah orang sembarangan.” Alan berucap tegas namun sarat akan perintah. Ia tak pernah menerima kata penolakan. Bahkan saat melihat Jimmy membuka mulut dan hendak melayangkan protes, Alan dengan cepat menatap tajam pria itu.


“Baik, Tuan.” Ucap Jimmy pada akhirnya. Ia menghormati Alan lebih dari siapa pun. Baginya, setiap kata yang terlontar dari bibir Alan, adalah sebuah perintah yang harus selalu ia patuhi dan juga lakukan. Apalagi ia tahu betul jika Alan tak pernah mau menerima kalimat penolakan.


“Pulanglah. Biarkan aku dan Bianca yang mengurus semuanya hari ini. Kau cukup tinggal di rumah dan memastikan jika tak ada satupun kesalahan kecil pada hari bahagiamu nanti. Aku ingin semuanya berjalan dengan sempurna.”


“Terima kasih.” Ucap Jimmy tulus seraya tersenyum simpul. Setelah berpamitan pada Alan dan menunduk sekilas, Jimmy beralih untuk melangkah menghampiri Bianca.


“Nona Bianca.” Panggil Jimmy. Bianca yang sedari tadi terus memperhatikan Jimmy, tak mampu menahan senyum kebahagiaannya ketika tahu jika sebentar lagi pria itu akan menjadi suami Fiona.


“Sampaikan salamku pada Jane dan juga Fiona.” Ucap Bianca. Sejujurnya, ia tak tahu ingin mengatakan apa. Tiba-tiba saja, Bianca merasa kedua matanya memanas dan yakin jika tak lama lagi, ia akan meneteskan air mata.


“Sayang, Jimmy hanya akan libur sebentar dan bukannya pergi untuk selamanya.” Alan yang memang sudah sedari tadi menatap dalam diam istrinya, langsung berseru protes. Ia tak terima jika Bianca sampai meneteskan air mata hanya karena tak bertemu Jimmy untuk sementara waktu.


Alan kembali menghela napas dalam.


Ia merasa jika Bianca jauh lebih mengerikan setelah hamil. Suasana hati wanita itu selalu saja berubah-ubah dan dialah yang akan selalu menjadi pihak yang salah.


Jimmy yang melihat pertengkaran kecil Bianca dan Alan, hanya bisa tersenyum geli. Tak lama, ia menatap Bianca dan juga perut wanita itu secara bergantian.


“Nona, semoga kalian berdua selalu dalam keadaan baik-baik saja.”


“Thanks, Jimmy.” Ucap Bianca. Ia tersenyum senang seraya memegangi perutnya yang sudah mulai membesar. Kehamilannya baru akan memasuki usia lima bulan.


Setelah kepergian Jimmy, Alan memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Walau pada kenyataannya, sudah sedari tadi ia ingin mencium dan memenjara kedua bibir Bianca. Tapi karena takut wanita itu marah padanya, Alan lebih memilih untuk mengubur dalam-dalam keinginannya tersebut.


***


Menjelang pukul sepuluh malam, Bianca masih belum bisa memejamkan mata. Setelah menandaskan makan malamnya serta segelas susu coklat hangat yang Alan buatkan, ia masih tetap saja merasa lapar.

__ADS_1


“Alan.” Panggil Bianca. Ia menatap Alan yang sedang besandar pada kepala tempat tidur karena tengah sibuk membaca sebuah buku.


“Hm.” Jawab Alan tak acuh. Pria itu tak sadar jika Bianca telah menatapnya lekat dengan wajah datar.


“Kau mengabaikanku?” Mendengar ucapan dingin istrinya, Alan dengan cepat menutup bukunya lalu beralih menatap Bianca. Sebelah tangannya terangkat ke atas untuk mengelus lembut pipi wanita itu.


Satu kecupan ia daratkan pada bibir Bianca.


“Aku lapar.” Ucap Bianca pelan. Ia mengelus lembut perutnya yang tertutupi baju tidur berwarna maroon.


“Lagi?” Tanya Alan tak percaya. Setelah Bianca menghabiskan segelas susu yang ia buatkan, wanita itu masih meminta sepiring buah anggur padanya. Lalu disusul dengan satu cup besar es krim coklat.


Bianca mengangguk pelan seraya memeluk Alan erat. Mereka berdua sama-sama dalam posisi duduk berhadapan di atas tempat tidur.


“Sayang.” Bisik Alan. Bianca yang masih memeluknya sontak mendongak. Ia menatap Alan lekat.


Perlahan, Alan menipiskan jarak di antara mereka berdua. Kedua tangannya ia letakkan pada pipi Bianca.


Alan mengecup lembut kedua bibir Bianca. ******* serta mengulumnya pelan. Diselingi dengan gigitan kecil pada bibir bawah wanita itu.


“Alan.” Lirih Bianca. Napasnya sedikit memburu karena Alan tak ada sedikitpun niat untuk mengakhiri ciuman mereka.


Alan kembali memenjara kedua bibir Bianca dengan tak sabaran. Ketika Bianca membuka mulut, ia dengan cepat meloloskan lidahnya ke dalam. Saling melilit satu sama lain. Tak jarang, Alan mengulum kuat lidah Bianca. Dan membuat wanita itu sedikit meringis sakit karenanya.


“Masih lapar?” Tanya Alan. Salah satu sudut bibirnya mencetak seringaian puas ketika Bianca menatapnya dengan wajah merona merah.


“Ya. Tapi aku mengiginkan yang ini.” Jawab Bianca seraya mengelus lembut bibir bawah Alan.


Kedua mata Bianca kembali terpejam ketika Alan menyapukan lidahnya pada permukaan bibirnya.


“Buka mulutmu.” Perintah Alan. Dengan cepat, Bianca membuka mulutnya dan membiarkan Alan menjelajah setiap sudut di dalamnya. Tak jarang, decakan kecil lolos dari bibirnya ketika ia dan Alan tengah sibuk bermain lidah.


“Bianca. Bianca.” Panggil Alan. Ia menatap kedua mata Bianca lekat. Mengunus tepat ke dalamnya.


“Aku mencintaimu.” Bisik Bianca. Ia mengecup kedua pipi Alan secara bergantian.


Seraya tersenyum penuh kebahagiaan, Alan segera menarik Bianca ke dalam dekapan hangatnya. Ia tak henti-hentinya membisikkan kalimat penuh cinta pada wanita itu.

__ADS_1


Malam ini akan kembali menjadi malam yang indah untuk mereka berdua.


__ADS_2