
Stacy tersenyum bahagia seraya mengecup pipi Rico. Saat ini, ia dan pria itu tengah berada di dalam sebuah bilik toilet khusus perempuan. Lima belas menit menjelang acara pesta ulang tahunnya, ia dan Rico memang telah berjanji untuk bertemu. Dan di sinilah mereka berdua. Asik bercinta di tempat yang sempit.
“Rico.” Stacy memanggil nama Rico di antara deru napasnya.
“Kau yakin Bianca tak curiga sama sekali?” Rico bertanya-tanya disela aktifitasnya. Matanya memancarkan aura kegelapan.
“Tentu saja. Kau bisa percaya padaku.” Stacy berucap penuh percaya diri. Selama ini, ia dan Bianca memang tak pernah bertegur sapa. Tapi karena permintaan dari Rico, ia terpaksa mengundang gadis bodoh itu. Dan yang lebih menguntungkannya lagi adalah Bianca tidak curiga sama sekali.
Rico tersenyum licik. Keinginannya untuk memiliki Bianca bisa segera terwujud. Merasa beruntung karena Stacy berada dipihaknya. Rico tahu jika sudah sejak lama Stacy menaruh hati padanya, tapi ia bersikap tak acuh. Karena yang menjadi hasrat terbesarnya adalah memiliki Bianca.
Awalnya, Stacy merasa ragu dan tidak yakin. Namun karena Rico berjanji akan mengabulkan apapun keinginannya, Stacy akhirnya setuju tanpa berpikir panjang. Dan yang menjadi permintaannya adalah bercinta dengan Rico. Sudah lama ia menginginkan pria itu.
“Aku pergi dulu.” Bisik Stacy seraya mengecup bibir Rico sekilas. Setelah merapikan dandanannya dan merasa yakin jika tak ada seorang pun di dalam toilet tersebut, Stacy segera beranjak keluar dengan cepat. Tak lama kemudian, Rico menyusul seraya bersiul dengan riang.
***
Alan kembali membasahi lehernya dengan minuman beralkohol. Sudah tiga hari ia kehilangan Bianca. Dihari pertama, Alan tak kuasa menahan amarahnya dan berakhir dengan melempar semua yang terlihat olehnya. Dihari kedua, ia mencoba menyibukkan dirinya dengan terus bekerja sampai larut malam. Dan sekarang, Alan sedang berusaha membuat dirinya semabuk mungkin. Dengan harapan, ketika ia sadar nanti, Bianca telah berada di sisinya.
“Tuan.” Jimmy segera mengambil botol vodka dari tangan Alan yang isinya hampir tandas. Ia tak bisa lagi membiarkan Alan minum setelah pria itu menghabiskan tiga botol penuh berukuran besar.
“Jimmy!” Alan berteriak tak suka seraya menatap Jimmy tajam. Saat ini hati dan pikirannya sedang dalam kondisi yang sangat buruk.
“Aku tidak bisa lagi membiarkanmu minum lebih dari ini.” Jimmy berucap tegas seraya menatap Alan datar. Cara bicaranya mendadak berubah. Jimmy merasa jika saat ini ia harus bersikap tegas pada Alan. Tak peduli sekalipun jika pada akhirnya Alan marah padanya.
“Kau pikir apa yang kau lakukan? Cepat kembalikan!” Teriak Alan dengan suara yang jauh lebih keras. Keadaannya benar-benar kacau. Rambut acak-acakan, matanya sayu serta raut wajahnya yang jauh dari kata baik. Baru tiga hari ia tak melihat Bianca dan hasilnya sudah seperti ini. Apalagi jika sampai wanita itu memilih pergi dan meninggalkan dirinya untuk selamanya. Seandainya saja ia tak membeli Bianca, mungkin ia tidak akan pernah menjadi seperti ini—
“Tidak. Tidak.” Alan tiba-tiba saja meracau tak jelas. Keputusannya untuk membuat Bianca berada di sisinya serta kehidupannya adalah pilihan yang tepat. Wanita itu sedikit demi sedikit telah membuatnya berubah. Membuatnya merasakan sesuatu yang selama ini tak pernah dirasakannya. Menghadirkan warna di dalam kehidupannya yang selama ini terasa gelap dan juga kosong. Bukan Bianca yang mengubahnya, tapi Alan sendiri yang memilih untuk berubah demi wanita itu.
Cinta? Alan tak yakin. Ia juga tak tahu. Cinta adalah hal yang selama ini menjadi sesuatu yang asing untuknya. Tidak ada yang pernah mengajarkannya apa itu cinta. Bagaimana rasanya. Dan seperti apa wujudnya. Yang Alan tahu hanyalah ketika ia mampu memiliki segalanya dengan uang.
__ADS_1
“Bianca .” Alan berucap lirih seraya tertunduk. Ia memang memutuskan untuk masuk kantor hari ini. Berada di rumah tanpa kehadiran Bianca semakin membuatnya seperti orang tak waras.
“Apakah kita harus melapor pada polisi?” Tanya Jimmy.
“Tidak. Aku tidak ingin melibatkan satu pun polisi. Gunakan dengan caramu sendiri. Cepat temukan istriku dan siapa pelakunya. Aku bersumpah akan membuatnya menyesal seumur hidup.” Alan berucap tegas namun sarat akan kebencian. Ia memang dengan sengaja tak ingin melibatkan pihak kepolisian. Menghindari jika berita atau gosip akan kehidupan pribadinya terekspos. Jimmy saja sudah lebih cukup untuk menyelesaikan semuanya.
“Baik, Tuan.” Jimmy mengangguk. Dengan segera, ia melangkah pergi. Hari ini ia berniat untuk mencari beberapa informasi di hotel tersebut—tempat Stacy mengadakan pesta ulang tahun.
***
“Stacy, tunggu!” Teriak Lily ketika melihat Stacy bersama kedua orang temannya tengah berjalan menuju kelas bahasa Jerman.
“Apa?” Stacy berucap tak bersahabat. Matanya menatap Lily tanpa minta.
“Apa kau tahu di mana Bianca?” Tanya Lily. Ia menatap Stacy penuh harap.
“Bukankah kau temannya?” Ketus Stacy. Kedua temannya hanya tersenyum mengejek.
“Kau menuduhku?” Stacy menatap Lily tak percaya. Wajahnya menampakkan ekspresi tak terima.
“Apa? Tidak. Aku–aku hanya bertanya.” Lily berucap dengan suara bergetar.
“Aku tidak tahu.” Ujar Stacy. Seusai berucap, Stacy segera melangkah pergi diikuti oleh kedua orang temannya. Wajahnya tak menunjukkan raut bersalah sama-sekali. Ia justru tersenyum puas saat tahu jika tidak ada lagi Bianca yang akan menjadi penghalangnya untuk mendekati Rico.
***
Bianca menatap tanpa minat sepotong roti isi daging yang Rico sodorkan untuknya. Tampilannya sangat kacau. Namun yang membuatnya lebih tersiksa adalah ketika ia memikirkan keadaan Alan.
“Cepat buka mulutmu.” Rico kembali berujar kasar seraya menatap Bianca tajam. Sudah sedari tadi ia berusaha untuk menyuapi gadis itu tapi Bianca justru menatapnya penuh kebencian.
__ADS_1
“Lepaskan aku.” Ucap Bianca lemah.
“Melepaskanmu? Tidak akan. Aku sudah sejauh ini.” Rico berucap santai seraya berjalan mendekati Bianca. Dengan lembut, ia membelai pipi Bianca. Lalu beralih memegangi rambutnya.
Bianca bergeming. Merasa jika tak ada satupun yang bisa ia lakukan. Bukan hanya perutnya yang sangat lapar tapi juga kondisi hati serta pikirannya yang tak lagi bisa dikatakan normal. Apalagi memikirkan semua kemungkinan terburuk yang akan Rico lakukan padanya.
Jika boleh memilih, Bianca jauh lebih ingin dirinya dikejar-kejar rentenir daripada harus disekap oleh pria gila seperti Rico. Mungkin memang garis kehidupannya sudah seperti ini. Diabaikan oleh kedua orang tuanya, dijual dan sekarang, ia sedang disekap.
“Argh!” Bianca sontak berteriak sakit ketika Rico mengikat rambutnya secara kasar.
“Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?!” Bianca berteriak marah ketika Rico mengecup pucuk kepalanya. Dan sekarang, pria gila itu tengah memegangi betisnya.
“Aku sedang mengagumi keindahanmu.” Rico berucap dengan suara pelan. Kini, ia sedang memegangi betis Bianca lalu mendaratkan satu kecupan. Rico tersenyum, merasa puas akhirnya ia bisa menyentuh Bianca sesuka hatinya.
“Rico, tidak!” Bianca memekik ketakutan ketika melihat Rico membuka mulutnya. Ia yakin jika pria itu akan melakukan sesuatu yang buruk padanya.
Bianca sontak menutup kedua matanya dengan tubuh bergetar ketakutan ketika Rico mendaratkan satu gigitan kuat pada betisnya. Tak jauh dari bekas gigitan yang kemarin pria itu berikan.
“Cantik.” Ucap Rico. Bibirnya tersenyum menakutkan saat ini.
Perlahan, Rico segera melangkah untuk menghampiri satu kursi besi yang berada tak jauh dari Bianca. Merasa puas karena tiga hari telah berlalu dan tak ada satupun yang berhasil menemukan mereka.
Rico memang menyekap Bianca di tempat yang tak akan terpikirkan oleh orang lain. Apalagi kedua pria yang diakui Bianca sebagai kekasihnya—Alan dan Jimmy.
Hanya ia dan Stacy yang tahu. Dan Rico yakin jika Stacy tidak akan mungkin berkhianat padanya. Ia hanya perlu memberikan Stacy kenikmatan dan wanita bodoh itu akan tutup mulut.
Setelah baca ini dan kalo ada yang mikir Alan bodoh karena gak bisa nemuin Bianca padahal banyak uang. Malah sibuk minum, itu hak kalian.
__ADS_1
Tapi ketahuilah, haha, gak seru rasanya kalo si MCnya terlalu sempurna. Bahkan Oppa2 tamvan di drakor juga msh ada babonya :D