
Fiona kembali menatap khawatir ibunya yang masih saja terbatuk sedari tadi. Setelah meminum obatnya pun, batuk Christine tetap saja tak menunjukkan tanda-tanda berhenti. Perlahan, Fiona mendekati ibunya yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur.
“Mom.” Panggil Fiona seraya memegang tangan ibunya. Wanita paruh baya itu tersenyum lembut.
“Apa sebaiknya hari ini aku tak masuk kerja?” Fiona berucap lirih seraya menatap jam di tangannya yang telah menunjukkan pukul delapan pagi.
“Pergilah.” Ucap Christine. Ia menatap anak satu-satunya lekat. Selama ini, ia merasa sudah sangat menyusahkan dan membebani Fiona. Dan dalam beberapa hari ini, ia melihat anaknya mulai berubah. Wajah Fiona terlihat lebih ceria dibanding sebelumnya.
“Tapi aku khawatir jika harus meninggalkanmu seorang diri.” Baru kali ini Fiona merasakan ketakutan yang begitu besar ketika ingin meninggalkan ibunya untuk pergi bekerja. Biasanya, ia selalu semangat.
“Aku tak apa-apa.” Christine berucap meyakinkan seraya balas menggenggam tangan Fiona. Matanya yang juga memiliki warna yang sama dengan mata Fiona, menatap wanita itu penuh kasih sayang. Ia ingin melihat anaknya bahagia. Dan Christine berharap, Fiona mendapatkan pria terbaik di dalam hidupnya.
“Aku pergi dulu.” Fiona berucap tanpa semangat seraya mengecup kening ibunya sekilas. Matanya masih menatap Christine lekat sebelum tubuhnya menghilang dari depan pintu kamar. Hari ini, ia akan meminta pada Jimmy agar memperbolehkannya pulang dengan cepat.
***
Bianca sekali lagi tersenyum meyakinkan pada Sofie ketika wanita itu masih menatapnya khawatir. Sofie memang tak menanyakan hal apa pun padanya tapi Bianca yakin jika wanita itu pasti mendengar pertengkarannya dengan Alan waktu itu.
“Aku baik-baik saja.” Ucap Bianca seraya memegang lengan Sofie sekilas. Tak lama, ia kembali menuju ruang tengah seraya membawa segelas coklat hangat dan sepiring roti isi keju.
Sofie tak mengatakan apa pun, ia hanya menatap Bianca lekat lalu berjalan menuju halaman belakang untuk mengambil beberapa pakaian yang sudah kering.
Sepeninggal Sofie, Bianca menghela napas dalam seraya menatap layar TV di depannya kosong. Jika saja waktu bisa diputar kembali, ia akan memilih untuk tak ikut pergi dengan Alan menghadiri undangan dinner tersebut. Sehingga hubungan mereka berdua akan tetap baik-baik saja.
“Bianca.” Alan memanggil pelan nama Bianca seraya mendudukkan dirinya tak jauh dari wanita itu. Semalam, ia sudah memikirkan baik-baik hal apa yang akan dilakukannya saat ini.
Bianca bergeming. Ia meminum coklat hangatnya dalam diam. Tanpa melirik sedikitpun pada Alan.
“Aku sudah memutuskan.” Bianca sontak mengalihkan tatapannya pada Alan seraya menatap pria itu tak mengerti.
“Aku—”
“Kau ingin berpisah?” Sela Bianca cepat. Jauh lebih baik jika ia yang mengatakannya lebih dulu dari pada Alan. Agar rasa sakitnya tak terlalu besar.
“Jangan mengucapkan hal yang tidak masuk akal!” Alan berucap marah seraya menatap Bianca tajam. Berpisah dengan wanita itu? Tak pernah sekalipun terlintas di benaknya.
“Aku ingin kita menyelesaikan semuanya. Membuatnya berlarut-larut seperti ini tak ada untungnya sama sekali.”
__ADS_1
“Bukankah kau sendiri yang membuatnya berlarut-larut? Aku hanya mengajukan satu pertanyaan padamu, Alan.” Alan sontak merasakan desiran menggelitik di dalam tubuhnya ketika mendengar Bianca menyebutkan namanya. Ia sangat merindukan wanita itu.
Perlahan, Alan bangkit dari duduknya untuk menghampiri Bianca dan berdiri tepat di hadapan wanita itu. Kepalanya menunduk. Iris hitamnya pun menyelami mata coklat wanitanya. Sebelah tangannya terangkat untuk memegang pipi kiri Bianca dengan lembut.
“Bianca, katakan padaku, apa yang harus kulakukan untuk membuatmu tetap berada di sisiku?” Alan bertanya dengan nada sedih bercampur putus asa. Ingatannya kembali melayang pada janji serta ucapan manisnya pada wanita itu. Dan Alan sadar, jika ia mungkin telah berbuat salah serta menyakiti Bianca tanpa sengaja. Sekaligus secara tak langsung membuat wanita itu menganggap semua ucapannya hanyalah bualan semata.
“Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku.” Bianca mendongak secara perlahan. Ia balas menatap Alan lekat.
“Aku tak tahu. Aku tak menemukan jawaban apa pun.” Jawab Alan jujur seraya mengelus pelan pipi Bianca.
Tak lama, Alan bersimpuh di depan Bianca—dengan menggunakan lututnya sebagai tumpuan seraya menggenggam kedua tangan wanita itu erat.
“Kukatakan sekali lagi, aku dan Kate tak ada hubungan apa pun. Dan aku juga tak berniat sama sekali untuk menerima tawaran Robin.” Ucap Alan penuh kelembutan. Ia tak lagi ingin berkata atau bersikap kasar pada wanita itu.
“Tapi kau mengabaikanku.” Seru Bianca dengan suara tercekat. Air matanya mendadak ingin keluar.
“Maafkan aku, Bianca. Aku tak bermaksud untuk melakukannya.” Jawab Alan cepat. Ia tak ingin melihat Bianca meneteskan air mata.
“Bianca, aku mencintaimu.” Bianca tertegun ketika mendengar ucapan tulus Alan. Pria itu juga menatapnya lembut.
“Aku tak langsung menjawab pertanyaanmu waktu itu karena aku memang tak mempunyai jawaban. Bagiku, kau adalah segalanya. Bukan sebagai barang, mainan apalagi pelampiasan hawa nafsu. Sejak pertama kali bertemu, aku sudah jatuh lebih dulu padamu.” Alan berucap dengan suara pelan. Jujur saja, ia merasa sedikit malu. Tak pernah sekalipun terlintas di benaknya, jika dirinya, sebagai seorang Drax, bersimpuh di hadapan seorang wanita.
“Kau tahu betul kehidupanku sejak kecil seperti apa. Di mataku, semua wanita terlihat sama saja. Seperti makhluk mengerikan itu yang menyebut dirinya sebagai ibu. Tapi kau satu-satunya yang berbeda. Kau wanita pertama yang menolakku.” Alan kembali teringat pada malam pertama mereka ketika telah berstatus sebagai pasangan suami istri. Bukannya membuka diri, Bianca justru menolak seraya menatapnya tajam.
“Bukannya aku tak memahamimu. Aku hanya tak tahu bagaimana caranya.”
“Kau seharusnya terus menggenggam tanganku.” Lirih Bianca. Ia menatap Alan kecewa.
“Aku tahu aku salah.” Ucap Alan. Tahu betul jika ia telah mengecewakan wanita itu.
“Bianca, aku ingin kau mengatakan semuanya padaku. Apa pun yang kau rasakan dan inginkan, kau harus mengatakannya. Aku tak akan pernah tahu jika kau hanya diam saja. Aku tak pandai menebak isi hati dan jalan pikiranmu.” Bianca terus saja menatap Alan lekat. Mencari kesungguhan di kedua mata pria itu seiring dengan setiap ucapannya. Dan tak ada satupun jejak kebohongan. Alan mengatakan yang sebenarnya.
“Aku tak meminta banyak darimu. Aku hanya ingin, mulai hari ini, kau belajar untuk memahamiku, Alan. Tak semua wanita pandai mengatakan apa yang mereka rasakan atau inginkan.” Bianca sadar jika ucapannya mungkin terdengar berlebihan. Tapi memang seperti itulah yang ia rasakan. Ia bukan lagi anak kecil yang tak tahu apa-apa. Semua yang terjadi di dalam hidupnya, selalu menjadi pembelajaran serta pengingat.
Bianca hanya tak ingin berakhir menjadi seperti kedua orang tuanya. Apalagi seperti ibu Alan.
“Aku akan melakukan apa pun untukmu. Hanya untukmu, Bianca.” Ucap Alan penuh kesungguhan.
__ADS_1
“Aku hanya membutuhkanmu.” Seru Bianca. Ia menatap Alan seraya tersenyum lembut. Perlahan, tangannya terangkat untuk mengelus rambut pria itu.
Selama ia memutuskan untuk tak mengajak Alan berbicara, Bianca tak pernah mengharapkan apa pun. Ia hanya ingin Alan menyadari kesalahannya dan belajar untuk memahaminya lebih dalam lagi. Karena Bianca sadar, jika ada beberapa hal yang tak harus diucapkan karena hanya butuh untuk dipahami.
Keduanya tersenyum secara bersamaan. Dan Alan, tak bisa menahan dirinya lebih lama lagi. Ia segera memeluk tubuh Bianca erat seraya mengecup rambutnya.
***
Fiona yang berniat untuk membuka sabuk pengaman yang dipakainya, segera menghentikan pergerakan tangannya ketika melihat Jimmy mencondongkan tubuh ke arahnya. Jimmy kembali mengantarnya pulang. Tak peduli berapa kali pun ia menolak.
“Jimmy.” Gumam Fiona. Ia menatap sekilas pada Jimmy yang tengah memegang tombol sabuk pengamannya.
Jimmy masih terdiam. Setelah menekan tombol merah pada sabuk pengaman yang Fiona kenakan, ia tak langsung menjauhkan tubuhnya. Dan justru menatap Fiona lekat dari jarak yang cukup dekat.
“Fiona.” Bisik Jimmy. Mata birunya bersinar indah di tengah kegelapan. Beruntung lampu jalan di sekitarnya memberikan sedikit penerangan.
Perlahan, wajah Jimmy semakin mendekat. Sampai akhirnya bibir mereka berdua bertemu. Jimmy kembali mencium Fiona dengan lembut dan penuh kehati-hatian. Tak lama, tautan bibir mereka yang hanya sekadar menempel, berubah menjadi lumatan-lumatan kecil hingga menghasilkan suara decakan.
Wajah Fiona mendadak berubah menjadi merah. Jantungnya pun juga berdegup kencang.
Setelah memberikan satu kecupan singkap pada sudut bibir Fiona, Jimmy segera menjauhkan tubuhnya. Di sebelahnya, Fiona tengah menunduk seraya menggenggam erat sabuk pengamannya.
Sama seperti Fiona, jantung Jimmy pun juga berdetak kencang. Hanya saja, ia terlalu pandai untuk menyembunyikannya dengan cara memasang wajah biasa-biasa saja.
“Terima kasih.” Ucap Fiona pelan seraya membuka pintu mobil dan beranjak keluar. Dengan cepat, ia melangkah masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan Jimmy seorang diri yang menatap punggungnya seraya tersenyum bodoh. Ia benar-benar sedang jatuh cinta.
Setelah berhasil menormalkan detak jantungnya, Jimmy kembali memegang kemudi mobilnya.
“Jimmy!” Jimmy yang baru saja hendak melajukan mobilnya, tersentak kaget ketika mendengar suara teriakan Fiona. Dengan cepat, ia segera keluar dari dalam mobilnya. Beruntung ia selalu membuka kaca jendelanya. Jadi ia bisa mendengar dengan jelas.
“Ada ap—”
“Ibuku! Ibuku pingsan.” Fiona berucap panik seraya menatap Jimmy yang berada di depan pintu rumahnya dengan wajah memucat.
Dengan sigap, Jimmy segera melangkah masuk dan menggendong tubuh Christine lalu membawanya ke dalam mobil. Apa pun akan ia lakukan untuk menolong ibu Fiona. Karena ia tak ingin melihat wanita itu meneteskan air mata kesedihan.
“Mom.” Gumam Fiona seraya menggenggam tangan ibunya. Air matanya bahkan tak menetes sama sekali. Hanya jantungnya yang seperti ingin berhenti berdetak.
__ADS_1