Married With The Devil

Married With The Devil
Pesta Dansa 2


__ADS_3

Suasana di sekitar Bianca mendadak heboh setelah mendengar ucapan Alan. Beberapa di antaranya masih ada yang tak percaya. Dan tak jarang, mereka menatap Bianca tak suka. Bianca tak mau ambil pusing. Ia justru balas menatap wanita-wanita itu seraya menyeringai puas. Bianca tak akan lagi membiarkan orang lain merendahkan atau pun menghinanya.


“Apa aku bisa pulang sekarang?” Alan bertanya dengan nada santai seraya menatap Mark datar. Entah mengapa, Alan mendadak merasa jengah dan lebih memilih untuk pulang agar bisa berduaan bersama Bianca.


“Tidak. Pesta dansaku bahkan belum dimulai.” Protes Mark seraya menatap Alan tajam. Pria itu selalu saja datang dan pergi seenaknya.


“Ms. Rosaline, apa kau bisa tinggal lebih lama lagi?” Mark beralih untuk bertanya pada Bianca.


“Tentu saja.” Seru Bianca. Ia segera menatap Alan lekat dan tersenyum senang ketika pria itu mengangguk pelan.


Tak lama, seluruh tamu undangan yang berada di dalam aula tersebut segera berdiri menghadap pasangan masing-masing ketika seorang pria tua memberi isyarat jika musik dansa akan segera dimulai.


“Aku pergi dulu.” Ucap Mark seraya melangkah pergi. Ia berniat untuk menghampiri tunangannya yang sudah sedari tadi memasang wajah memberengut. Kesal karena Mark justru mengabaikannya.


“Bianca.” Panggil Alan. Ia menatap Bianca lekat seraya tersenyum simpul.


“Mau berdansa denganku?” Tanya Alan seraya membungkukkan sedikit badannya. Bianca tertawa kecil. Tak lama, ia meletakkan tangannya di atas tangan Alan dengan gerakan anggun.


“Tentu saj—”


“Apa bisa jika aku saja yang berdansa dengannya?” Potong Rebecca cepat. Alan dan juga Bianca sontak menatap wanita itu tanpa ekspresi.


“Sayangnya, tidak. Aku tidak suka jika wanita lain menyentuh kekasihku. Begitu pun sebaliknya.” Ucap Bianca santai. Tapi Rebecca tahu betul jika Bianca tengah menyombongkan status kepemilikannya terhadap Alan.


“Kau bisa mencari pria lain.” Alan berucap datar seraya menatap tajam pada Rebecca. Ia sangat tak suka jika ada yang mengganggu waktunya bersama Bianca. Sama seperti wanitanya, Alan juga tak mengizinkan lelaki mana pun berdansa bersama Bianca.


Di tengah lantai dansa, Alan tanpa ragu menunjukkan kemesraannya dengan Bianca. Sesekali, ia tersenyum simpul lalu mengecup bibir Bianca singkat. Alan ingin menunjukkan pada semuanya jika Bianca adalah miliknya.


Bianca juga tak tinggal diam. Setelah menatap Rebecca sebentar, ia membisikkan sesuatu pada Alan dan membuat pria itu kembali mengecupnya. Dan kali ini di kening. Dengan cukup lama. Juga dengan mata yang saling terpejam.


***


Rebecca melangkah memasuki toilet dengan wajah kesal. Ia memutuskan untuk memenuhi undangan Mark karena ingin bertemu dengan Alan. Juga berharap bisa menjadi wanita pertama yang berdansa bersama pria itu. Namun nyatanya, Alan justru mengajak wanita lain bahkan mengakuinya sebagai seorang kekasih. Rebecca mengenal Alan karena Mark yang mempertemukan mereka berdua. Mark adalah temannya sejak duduk di bangku kuliah sampai saat ini.


“Brengsek!” Umpat Rebecca seraya memperbaiki tampilan lipstiknya. Setelah ini, ia akan mencoba untuk mendekati Alan lagi.


***


“Jangan lama-lama.” Ucap Bianca ketika Alan meminta izin padanya untuk pergi sebentar. Pria itu ingin menemui kedua orang tua Mark yang tengah duduk di sebuah meja dekat jendela.


Alan mengangguk paham seraya tersenyum simpul. Sungguh, ia sangat ingin memeluk erat tubuh Bianca seraya membungkam bibirnya.


Setelah kepergian Alan, Bianca berjalan santai menghampiri meja panjang berbentuk oval yang di atasnya terdapat berbagai jenis kue.


“Di mana Alan?” Bianca yang sedang mengambil beberapa macaron tersentak kaget ketika mendengar suara tak bersahabat dari arah belakangnya.


“Apa kau tuli?” Dengan santai, Bianca berbalik untuk menatap Rebecca.


“Aku tak tahu.” Jawab Bianca seraya menggigit sebuah macaron berwarna pink muda.


“Berhubung Alan sedang tak di sini, aku ini mengatakan beberapa hal padamu.” Rebecca berucap ketus seraya menatap Bianca malas.

__ADS_1


“Silahkan saja.” Seru Bianca tanpa minat. Kali ini, ia tengah menikmati sesendok kecil kue keju dengan toping sirup stroberi.


“Apa kau benar-benar kekasihnya?” Rebecca menatap Bianca dengan pandangan curiga. Ia masih tak percaya jika Bianca adalah kekasih Alan.


“Ya.” Jawab Bianca tak acuh. Ia masih sibuk menikmati kue yang tadi diambilnya.


Rebecca hanya bisa mengepalkan tangannya ketika melihat sikap Bianca.


“Asal kau tahu, aku pernah tidur dengannya.” Rebecca berucap bangga seraya tersenyum puas. Ia yakin jika Bianca pasti akan terhasut oleh ucapannya.


“Aku tahu. Berapa kali kau tidur dengannya?” Bianca bertanya santai seraya menatap Rebecca lekat. Mata coklatnya tak goyah sedikit pun. Ia sudah menduga jika wanita itu pasti akan mengatakan sesuatu yang buruk padanya. Maka dari itu, Bianca sudah mempersiapkan dirinya sebaik mungkin.


“Dua kali. Dan aku yakin, aku bukanlah satu-satunya.” Bianca tak bisa memungkiri, jika hatinya berdenyut sakit ketika mendengar ucapan Rebecca. Bianca selalu mengingatkan dirinya, seperti apa pun masa lalu Alan, ia tak ada hubungannya sama sekali. Sebab, ia baru bersama Alan selama empat bulan lebih.


“Hanya dua kali? Aku sudah tidur berkali-kali bersamanya. Di ranjang yang sama. Di kamar yang sama. Dan juga, kami tinggal di rumah yang sama.” Bianca berujar angkuh seraya melirik Rebecca sekilas. Di dalam hati, ia tak henti-hentinya bersorak senang ketika menatap wajah terkejut wanita itu.


“Dengarkan aku baik-baik.” Ucap Bianca seraya menatap tajam Rebecca.


“Tak peduli apa pun yang kau katakan, bagiku, semua hanyalah bagian dari masa lalu Alan. Dan itu terjadi sebelum aku bersamanya. Sekarang, aku yang berada di sisinya sekaligus yang akan menjadi masa depannya.” Bianca berucap penuh penekanan. Salah satu sudut bibirnya menyeringai puas saat Rebecca tak mampu membalas ucapannya. Wanita itu hanya diam mematung seraya menatapnya kaget.


“Kuharap, setelah ini, kita tak akan pernah lagi bertemu.” Bianca berujar tanpa beban seraya berbalik meninggalkan Rebecca. Ia ingin menghampiri Alan lalu mengajak pria itu pulang.


***


Bianca terlihat kesusahan mengangkat bagian bawah gaunnya ketika ingin menaiki tangga. Tubuhnya benar-benar lelah.


“Bagaimana pestanya?” Tanya Alan ketika mereka berdua baru saja memasuki kamar.


“Menyenangkan.” Jawab Bianca singkat seraya membuka anting-anting yang dipakainya.


“Yeah. Dia bilang padaku jika KALIAN pernah TIDUR BERSAMA.” Bianca sengaja menekan beberapa kata yang ia ucapkan. Sengaja ingin menyindir Alan.


Alan tersenyum. Setelah meletakkan setelan jas yang dikenakannya pada gantungan baju, ia segera menghampiri Bianca lalu memeluk tubuhnya dari belakang.


“Aku tak ada hubungan apa-apa dengannya.” Bisik Alan. Satu ciuman ia daratkan pada pipi kanan istrinya.


“Hanya bersenang-senang, bukan?” Ucap Bianca seraya menolehkan sedikit wajahnya. Sebelah tangannya ia gunakan untuk meremas pelan rambut Alan.


Dengan geralan pelan, Alan memajukan wajahnya untuk menjangkau bibir Bianca. Sudah sedari tadi ia ingin melakukannya. Dan sekarang, Alan merasa jika ia tak bisa lagi menahan dirinya. Terbukti dengan ia yang menyesap kuat bibir Bianca secara bergantian.


“Alan.” Bianca segera menahan pergerakan tangan Alan yang ingin memegang dadanya melalui bagian atas gaun yang ia kenakan.


“Apa?” Tanya Alan tak sabaran.


“Aku tak ingin mengotori gaun yang kupakai.” Bianca berucap tegas. Ia tak berani membiarkan gaun mahal yang saat ini dikenakannya menjadi kotor karena Alan yang tak bisa menahan diri.


“Ta—”


“Atau tidak sama sekali.” Ancam Bianca. Dengan berat hati, Alan memundurkan sedikit tubuhnya. Ia segera membantu Bianca menurunkan resleting gaun yang terletak di bagian belakang. Dengan sabar, ia menunggu Bianca membuka dan menggantung gaun tersebut. Dan tak lama kemudian, ia kembali menarik tubuh Bianca untuk berada di dalam pelukannya.


Saat ini, Alan mengenakan kaos polos abu-abu tua dan trunk berwarna hitam. Sementara Bianca hanya mengenakan dalaman dan bra tanpa tali.

__ADS_1


Dengan cepat, Alan segera menggendong tubuh Bianca untuk melangkah menuju tempat tidur.


“Haha.” Bianca tertawa geli ketika Alan memberikan gigitan kecil pada perutnya seraya meninggalkan jejak basah di sana.


“Ayo.” Alan mengajak Bianca untuk membaringkan tubuh mereka seutuhnya di atas tempat tidur. Dengan lembut, Alan memposisikan kepala Bianca di atas bantal. Bianca tersenyum. Alan sungguh telah berubah sedikit demi sedikit.


“Kau menertawakanku?” Tanya Alan.


“Aku hanya merasa bahagia ketika kau memperlakukanku dengan begitu lembut.” Jawab Bianca. Tanpa ragu, ia mengalungkan tangannya pada leher Alan.


“Aku menginginkanmu.” Bisik Alan dengan suara serak. Ia sudah tak bisa lagi menunggu terlalu lama. Miliknya di bawah sana sudah sedari tadi meminta untuk dipertemukan dengan milik Bianca.


Bianca mengangguk pelan. Hatinya bergemuruh di dalam sana dengan detakan yang menyenangkan.


“Alan, jangan menggodaku.” Ucap Bianca. Sesering apa pun ia merasakannya, Bianca selalu saja dibuat hilang kendali. Alan terlalu pandai membuatnya tersiksa dengan semua kenikmatan yang pria itu berikan.


“My dear, Bianca.” Bisik Alan . Ia menautkan kedua tangannya dengan tangan Bianca. Tubuhnya menunduk untuk kembali mengulum bibir wanitanya.


“Shit!” Umpat Alan.


“Alan!”


Bianca tersenyum. Lalu memeluk Alan.


“Good boy.” Bisik Bianca seraya mengecup daun telinga Alan.


Good boy …


Secara tiba-tiba, Bianca merasakan tubuh Alan menegang. Dengan cepat, ia menatap Alan dan mendapati wajah pria itu telah pucat.


Tanpa sadar, Alan menjatuhkan tubuh Bianca di atas tempat tidur dengan kasar. Ia juga memaksa wanita itu untuk berbaring dengan posisi telungkup.


“Alan, apa yang kau—” Bianca berujar panik ketika Alan tiba-tiba saja bersikap aneh.


Alan masih bergeming. Ia juga tak memedulikan ucapan Bianca. Saat ini, Alan hanya menatap kosong pada Bianca dengan raut wajah aneh.


“Alan!” Tubuh Bianca sontak bergetar ketakutan ketika Alan mendorong kepalanya agar semakin tenggelam pada bantal. Dengan susah payah, Bianca menolehkan kepalanya agar bisa bernapas. Sungguh, ia tak mengerti apa yang sedang terjadi. Padahal baru beberapa menit yang lalu pria itu memperlakukannya dengan begitu manis.


Good boy….


“Bukankah ini yang kau inginkan?!” Racau Alan dengan suara dingin. Sekuat mungkin, Bianca mencoba melepaskan dirinya dari kungkungan Alan. Merasa tak ada pilihan lain, Bianca berusaha mengangkat sebelah kakinya untuk menendang Alan. Dan berhasil. Tubuh pria itu sedikit terhuyung ke belakang.


Dengan cepat, Bianca mengubah posisinya menjadi duduk seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


“KAU PIKIR APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN ?!” Bianca berteriak marah. Ia menatap Alan dengan mata berkaca-kaca.


“Huh? Bianca?” Alan yang mendengar teriakan memekik Bianca segera menatap wanita itu dengan ekspresi bingung. Mencoba mengingat apa yang sedang terjadi.


“Jangan menyentuhku!” Ucap Bianca dingin seraya menepis kasar tangan Alan yang ingin memegang pipinya. Kedua matanya menatap pria itu dengan pandangan terluka. Dengan lunglai, Bianca melangkah menuju lemari untuk mengambil sepasang baju tidur. Dan tak lama, ia beranjak keluar meninggalkan Alan dengan membanting pintu.


“Brengsek!” Alan berteriak frustasi seraya meremas kasar rambutnya. Tersadar jika ia baru saja memperlakukan Bianca dengan buruk. Tidak. Ia tidak melakukannya dengan sengaja.

__ADS_1


Mimpi buruknya kembali lagi.


“Sial!”


__ADS_2