
Jimmy tersenyum senang ketika ia baru saja selesai memakaikan baju pada Jane. Wanita itu terlihat begitu cantik dalam balutan dress selutut berwarna baby blue tanpa lengan. Rambut coklat keemasannya Jimmy ikat dengan model ekor kuda. Di hari minggu seperti ini, ia lebih memilih untuk tinggal di rumah dan menghabiskan waktu bersama Jane.
Selama ini, ia sendiri yang mengurus dan merawat kakaknya. Jimmy tak bisa mempercayai orang lain. Ia takut, ketika nanti harus pergi bekerja dan meninggalkan Jane seorang diri, seseorang yang bertugas untuk menjaganya, justu mengatakan sesuatu yang buruk pada Jane. Atau lebih parahnya lagi, orang itu justru menyakiti saudaranya dengan sengaja.
“Apa kau juga merindukan Fiona?” Tanya Jimmy seraya menatap Jane. Kedua mata yang memiliki warna senada dengannya, balas menatap lekat. Jane mengedip sekali. Sehingga membuat Jimmy dengan cepat memeluknya.
Ia memang belum mendengar kabar apa pun dari Fiona. Sekalipun sering mengunjungi wanita itu, tapi Fiona selalu meminta Jimmy untuk langsung pulang dan tak tinggal terlalu lama.
“Kuharap, dia mau tinggal bersama kita.” Jimmy tak tahu, ia mendapatkan keyakinan yang begitu besar dari mana saat menyuruh Fiona untuk bekerja padanya dan mengurus Jane. Ia hanya merasa, jika wanita itulah yang pantas. Dan ternyata memang benar. Selama bersama Fiona, Jane lebih terlihat senang. Pun lebih sering memberikan respon walau hanya sesekali.
“Aku—” Suara bel rumahnya yang baru saja berbunyi, sontak menyela ucapan Jimmy. Setelah mengelus sebentar surai Jane, ia segera melangkah keluar. Dengan jantung yang berdegup kencang. Ia berharap, jika yang memencet bel tersebut adalah Fiona.
“Jimmy.” Ia yang yang baru saja membuka pintu, dikejutkan dengan Fiona yang memanggil namanya. Wanita itu datang tanpa memberitahunya sama sekali. Di dekat Fiona, Jimmy mendapati sebuah koper berukuran sedang bersama tas kecil.
“Maaf karena aku dat—” Tanpa menunggu Fiona menyelesaikan ucapannya, Jimmy segera menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Satu kecupan penuh sayang ia daratkan pada pucuk kepala Fiona.
“Terima kasih.” Bisik Jimmy. Ia merasa luar biasa bahagia. Tanpa diberitahu pun, ia sudah tahu jika Fiona menerima tawarannya untuk tinggal bersama. Tak ada satu pun kalimat yang mampu menggambarkan perasaannya saat ini.
Perlahan, Fiona mengangkat kedua tanganya untuk balas memeluk erat Jimmy. Kepalanya mengangguk pelan di dalam dekapan pria itu. Fiona memang telah membuat keputusan dan membulatkan tekadnya untuk menerima tawaran Jimmy. Selain karena sudah tak punya siapa-siapa lagi, Fiona merasa lebih gampang untuk merawat pun menjaga Jane. Lagipula, masa sewa rumahnya pun sudah hampir selesai dan ia tak berniat untuk memperpanjangnya.
Secara tiba-tiba, Fiona mendongak untuk menatap Jimmy dengan masih berpelukan. Di depan pintu rumah pria itu. Mata hazelnya menelusuri setiap inci wajah Jimmy. Mata biru pria itu selalu membuatnya merasa tenang.
“Fiona.” Panggil Jimmy. Dengan gerakan pelan, ia mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir wanita itu. Hanya sekadar menempel namun mampu membuat tubuh keduanya berdesir aneh.
“Ayo. Jane sudah menunggumu.” Ucap Jimmy setelah melepaskan tautan bibir mereka. Ia hanya merasa, jika lebih lama dari ini, tubuhnya akan lepas kendali. Dan ia tak ingin menyakiti Fiona. Walau hanya seujung kuku.
***
Bianca kembali memasang wajah memberengut seraya menatap Alan jengkel. Seharusnya, sejak siang tadi, mereka sudah berada di pusat perbelanjaan. Semalam, Alan mengatakan padanya jika ia ingin membelikan Bianca beberapa baju untuk dikenakan di rumah. Tentu saja ia menolak. Bajunya masih bagus dan juga layak untuk dipakai. Tapi seperti biasa, Alan tak pernah menerima kata penolakan.
“Apa?” Tanya Alan santai seraya melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan terbesar di tempatnya.
“Bukankah sudah kubilang jika sore ini aku ingin menonton film?” Bianca berucap ketus. Rencananya, hari ini, ia ingin menonton film yang sudah ditunggunya sejak seminggu lalu. Namun karena Alan, semua rencananya jadi berantakan.
“Tapi kau menyukainya.” Jawab Alan. Bibirnya kembali menyeringai.
Bianca sontak menghela napas kasar ketika mendengar ucapan pria itu. Tadi, ketika baru saja selesai mandi, Alan secara tiba-tiba menariknya untuk kembali berada di atas tempat tidur. Dan membuka secara paksa baju yang baru saja dipakainya. Pria itu kembali meminta untuk bercinta. Seolah tak merasa puas setelah semalam menghabiskan waktu cukup lama untuk menyatukan tubuh satu sama lain.
“Aku—”
“Aku mencintaimu.” Ucap Alan seraya mengecup bibir Bianca sekilas. Lampu baru saja berubah menjadi merah dan ia tak ingin melewatkan kesempatan yang ada. Di sebelahnya, Bianca tengah menunduk dengan wajah merona.
Hari ini, ia akan memanjakan wanitanya. Memberikan apa pun yang Bianca inginkan. Tapi satu hal yang tak boleh terlewat, ia masih punya kejutan istimewa untuk istri tercintanya.
***
Satu hal yang Bianca lupakan—ke mana pun ia dan Alan pergi bersama, pria itu akan selalu menjadi magnet bagi lawan jenis. Sejak tadi, setiap wanita yang berpapasan dengan mereka, pasti akan langsung menatap Alan dengan mata menggoda manja. Beruntung Alan bersikap tak acuh. Ia bahkan menatap tajam setiap wanita yang melihatnya.
“Ayo.” Ucap Alan seraya menarik tangan Bianca untuk masuk ke dalam salah satu toko tas branded. Ia semakin mengeratkan tautan tangannya dengan Bianca. Iris hitamnya menatap setiap tas yang berada di hadapannya lekat.
“Apa ada yang kau suka, hm?” Tanya Alan seraya menatap Bianca. Pria itu masih tak sadar jika kedatangannya di toko tersebut membuat para wanita yang berada di dalam menatapnya memuja.
Bianca masih terdiam. Ia tak tahu harus memilih yang mana. Semua yang tersaji di depanya saat ini adalah tas-tas branded pengeluaran terbaru berharga fantastis.
“Alan, aku masih punya—”
__ADS_1
Alan sontak menatap Bianca tajam. Ia tak ingin mendengar kata penolakan lagi dari bibir wanita itu.
“Cepat pilih atau aku akan menciummu di sini.” Ancam Alan seraya menyeringai nakal. Dengan cepat, Bianca mengambil sebuah tas yang terbuat dari kain perca bermerek LV Tribute Patchwork Bag. Dengan harga lebih dari lima ratus juta.
“Kau tak suka?” Tanya Alan ketika Bianca dengan cepat meletakkan kembali tas tersebut. Kedua matanya memicing. Dengan santai, ia kembali mengambil tas tersebut lalu meminta Bianca untuk memilih yang lain.
Bianca tak punya pilihan lain. Alan sudah memutuskan dan tugasnya hanyalah mengikuti keinginan pria itu. Ia tak ingin jika mereka kembali berdebat hanya karena hal kecil.
“Hanya itu?” Alan bertanya seraya menatap Bianca tak percaya. Wanita itu hanya mengambil satu tas ransel kecil berwarna hitam, slingbag berwarna gold dan tas kain perca yang tadi sempat diambil oleh Bianca.
“Ya.” Jawab Bianca singkat. Sudah sejak tadi ia ingin keluar dari tempat tersebut karena terus saja menjadi pusat perhatian. Tak jarang, ada yang menatapnya iri.
Setelah melihat Alan membayar secara cash menggunakan kartu debit miliknya, Bianca dengan cepat menarik tangan pria itu keluar. Dan tanpa ia sangka, Alan kembali mengajaknya masuk ke dalam sebuah toko pakaian wanita. Yang berada tak jauh dari toko tas tersebut.
“Apa ini?” Bianca menatap Alan kaget. Pria itu mengajaknya memasuki toko pakaian dalam wanita. Lebih tepatnya Lingerie.
“Aku ingin melihatmu memakainya.” Bisik Alan seraya tersenyum simpul. Sesuai dugaannya, wanita itu pasti kaget dengan kejutan yang diberikannya. Ia belum pernah melihat Bianca memakai lingerie. Dan Alan ingin wanita itu sendiri yang memilih. Sesuai dengan seleranya.
Bianca menatap tak percaya setiap lingerie yang terpajang di hadapannya. Dari model yang masih normal sampai jauh dari kata normal.
“Aku ambil yang itu.” Ucap Alan pada seorang pegawai wanita seraya menunjuk satu set pakaian dalam super seksi. Mata Bianca membulat tak percaya. Ia tak menyangka jika pria itu ternyata memperhatikannya.
“Alan!” pekik Bianca dengan suara tertahan. Apalagi ketika pegawai tadi menatapnya seraya tersenyum simpul.
“Kau masih butuh beberapa.” Seru Alan tak peduli. Dengan kesal, Bianca segera mengambil lima buah lingerie sekaligus dengan berbagai warna dan juga model.
Alan menyeringai puas seraya melangkah santai menuju meja kasir. Ia sudah tak sabar ingin melihat wanitanya memakai pakaian seksi tersebut.
***
Fiona kembali menatap tak enak pada Jimmy. Pria itu tiba-tiba saja mengajaknya pergi berbelanja dengan alasan, kamar yang Fiona tempati tak memiliki lemari atau pun meja rias. Hanya ada sebuah nakas kecil dan juga kasur berukuran king.
“Ya.” Jawab Jimmy singkat. Ia balas menatap Fiona lembut.
“Kau tak harus melakukannya. Aku tak masalah jika menjadikan koperku sebagai lemari.” Fiona kembali membujuk Jimmy. Berharap pria itu segera berubah fikiran.
“Aku ingin membuatmu merasa nyaman selama berada di rumahku.” Ucap Jimmy. Setelah mengelus sekilas pipi Fiona, ia mengajak wanita itu untuk memasuki toko furniture yang berada di dalam pusat perbelanjaan tempat mereka berada saat ini.
“Bagaimana dengan yang ini?” Tanya Jimmy seraya menunjuk sebuah lemari pakaian tiga pintu serta dua laci dibagian bawahnya berwarna putih gold.
“Aku suka.” Jawab Fiona jujur. Ia tahu jika sekeras apa pun usahanya untuk menolak, Jimmy pasti akan tetap membelikannya. Jadi ia tak akan menolak lagi. Apalagi jika sampai membuat Jimmy merasa sedih.
Jimmy tersenyum puas seraya keluar dari dalam toko tersebut bersama Fiona. Satu buah lemari serta meja rias berwarna silver telah ia pesan dan juga bayar. Setelahnya, barang tersebut akan di antarkan ke rumahnya.
“Apa kau lap—”
“Jimmy!” Jimmy dan Fiona tersentak kaget secara bersamaan ketika mendengar suara seorang wanita. Tak jauh darinya, Jimmy menemukan Bianca bersama Alan tengah melangkah cepat untuk menghampirinya.
“Tuan.” Sapa Jimmy. Jantungnya sontak berdegup kencang ketika mereka berdua menatapnya lekat. Apalagi saat ini ia sedang bersama Fiona.
“Kekasihmu?” Tanya Alan santai. Dengan cepat, Jimmy segera menatap Fiona dan mendapati wajah wanita itu tengah berseru merah dengan kepala menunduk.
“Hai.” Sapa Bianca ramah seraya mengulurkan tangannya pada Fiona. Sekaligus mencairkan suasanan di sekitar mereka akibat dari pertanyaan Alan.
“Aku Bianca.”
__ADS_1
“Fiona.” Jawab Fiona singkat. Ia bingung harus mengatakan apa saat ini. Apalagi pria yang dipanggil tuan oleh Jimmy sudah sedari tadi menatapnya tajam.
“Apa kau sedang membeli sesuatu, Jimmy?” Tanya Alan seraya mengalihkan perhatiannya pada Jimmy.
“Ya.”
“Ayo. Kita makan malam bersama.” Alan berucap santai seraya kembali menggenggam tangan Bianca. Di belakangnya, Jimmy dan Fiona mengikuti dalam diam. Jimmy tak berani untuk menolak. Sementara Fiona merasa tak punya pilihan lain.
***
Alan mengajak mereka bertiga memasuki sebuah restoran Perancis. Di sebelahnya, Bianca tampak sibuk memilih makanan. Sedangkan Jimmy bersama Fiona, duduk di depannya tanpa mengucapkan apa pun.
“Kau bisa memilih sesuka hatimu.” Ucap Alan seraya menatap Jimmy. Pria bermata biru itu mengangguk mengerti lalu mengajak Fiona untuk ikut memilih makanan yang akan mereka pesan.
Alan menjatuhkan pilihannya pada Beef Burguignon—daging sapi yang dibumbui dengan beragam bumbu serta tambahan wine di dalamnya. Sedangkan Bianca memilih Confit de Canard—yang terbuat dari daging bebek dengan melewati proses pengolahan selama berjam-jam.
“Kalian?” Tanya Bianca seraya menatap Jimmy dan Fiona. Bibirnya membentuk senyuman simpul.
“Foie Gras dan Bouillabaisse.” Jawab Jimmy cepat.
Bianca mengangguk mengerti lalu meminta Alan untuk memanggil pelayan.
***
Setelah menghabiskan makanan yang mereka pesan, Alan kembali menyuruh Bianca untuk memesan dessert. Dan juga sebotol red wine. Tangannya dengan setia menggenggam tangan Bianca. Seolah enggan untuk melepaskannya walau sejenak. Alan bahkan tak sadar jika tindakannya membuat Bianca menunduk malu.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Alan seraya menatap Fiona. Ia ingin tahu lebih jauh mengenai wanita itu karena Jimmy. Terlihat jelas jika di wajah Fiona masih tertinggal jejak kesedihan.
“Ya.” Jawab Fiona singkat seraya menatap Alan sekilas. Tatapan tajam pria itu membuatnya tak nyaman.
“Kau membuatnya merasa tak nyaman.” Desis Bianca seraya menghela napas kasar. Di sebelahnya, Alan tengah sibuk meneguk segelas red wine miliknya. Sedangkan Jimmy hanya tersenyum simpul. Tahu betul jika tuannya tak punya maksud buruk.
Alan yang sudah sedari tadi tak bisa menahan dirinya, segera mendaratkan satu kecupan pada pipi Bianca. Sehingga membuat Fiona dan juga Jimmy menatapnya tak percaya. Berbeda dengan Bianca, wanita itu justru menatap Alan jengkel. Beruntung di sekitar mereka sedang tak ramai.
“Jimmy.” Alan kembali menatap Jimmy intens. Sebelah sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk seringaian licik.
“Apa kalian sudah tidur bersama?” Pertanyaan mendadak Alan sontak membuat Fiona yang baru saja memasukkan sepotong kecil Tarte Tain—semacam pie buah ke dalam mulutnya, tersedak kaget. Dengan sigap, Jimmy menyodorkan segelas air mineral pada wanita itu.
“Alan!” Pekik Bianca tak percaya. Ia mendelik jengkel pada pria itu yang masih tampak santai menandaskan minumannya.
“Tuan.” Ucap Jimmy dengan suara pelan. Merasa malu mendengar pertanyaan pria itu.
Sebagai seorang pria normal, Jimmy mengakui jika dirinya selalu merasakan rangsangan aneh setiap kali bersentuhan dengan Fiona. Namun ia selalu berusaha kuat untuk menahan serta mengendalikan dirinya. Ia tak ingin bertindak gegabah. Jimmy yakin jika semua akan ada waktunya. Tapi untuk saat ini, Jimmy ingin membuat Fiona percaya sepenuhnya pada dirinya.
“Fiona, anggap saja kau tak mendengar ucapannya tadi.” Ujar Bianca seraya tersenyum ramah pada wanita itu. Ia tak ingin membuat Fiona merasa tak nyaman dan menganggap Alan adalah seorang pria mesum kurang ajar.
Fiona mengangguk pelan seraya balas tersenyum. Wanita muda yang baru dikenalnya tadi, bersikap ramah serta bersahabat padanya. Ia berharap jika kedepannya, mereka bisa menjadi teman baik. Apalagi Jimmy dan juga Alan memiliki hubungan erat. Layaknya keluarga.
“Akan ada waktunya.” Seru Jimmy seraya menatap Alan. Alan kembali menyeringai. Merasa puas akan jawaban Jimmy. Sejak awal, ia sudah menduga jika Jimmy pasti belum “menyentuh” wanita itu. Tak seperti dirinya, Jimmy adalah seorang pria yang tak tahu bagaimana cara berinteraksi dengan lawan jenis. Dan Fiona adalah satu-satunya wanita yang mampu mendekati pria itu.
“Katakan padaku jika kalian berdua sudah siap. Aku tak akan keberatan untuk menyewakan kamar hotel mewah.” Ucap Alan seraya tersenyum penuh arti. Jimmy dan Fiona sontak berpandangan lalu menunduk seraya tersipu malu. Ucapan Alan benar-benar membuat mereka berdua mati kutu.
“Kau—” Alan dengan cepat mengecup bibir Bianca seraya menyesapnya sekilas ketika Jimmy bersama wanitanya masih menundukkan kepala.
“Jimmy, aku pulang.” Alan segera bangkit dari duduknya seraya menarik Bianca untuk melangkah. Ia juga sudah membayar semua makanan yang mereka pesan dan habiskan. Hanya ada satu hal yang tersisa untuk Alan; melihat Bianca mencoba satu per satu lingerie yang ia belikan untuk wanita itu.
__ADS_1
Memikirkannya saja sudah membuat tubuhnya menegang.
Sial!