
"Ah, kenapa gosong seperti ini? Sungguh memalukan." gerutu Mawar sambil mengerucutkan bibirnya.
Ia segera membuang roti itu ke tempat sampah, lalu kembali memanggang lagi. Ternyata percobaan kedua dan seterusnya selalu gosong.
"Hah! Bagaimana ini? Kenapa semua roti yang aku buat gosong?"
"Mawar, apa sarapan untuk kami sudah siap?" tanya Luqman sambil mengancingkan lengan kemeja nya. Hal itu membuat Mawar terkejut.
"Be-belum, mas."
"Belum? Sepertinya kamu sudah berdiri disini sejak tadi. Kenapa belum selesai juga? Apa kamu tidak bisa melakukannya?"
"Bi-bisa kok, mas. Mas Luqman duduk dulu saja, Mawar buatin dulu roti panggang nya."
Luqman patuh pada perintah Mawar. Ia duduk sambil memainkan handphonenya. Sementara Mawar, memejamkan matanya sambil memanjatkan doa dengan serius.
"Tuhan, aku belum tahu wujud mu seperti apa. Tapi, tolong tunjukkan kuasamu. Rotinya tinggal dua potong saja. Semoga tidak gosong lagi Tuhan." Setelah berdoa, ia kembali membuat roti panggang lagi.
Gadis itu sangat senang, ketika roti panggang nya berhasil. Baunya harum menggoda, membuat perut Thoriq semakin keroncongan. Ia segera menyajikannya di depan Thoriq.
"Silahkan dinikmati, mas."
Tak lama kemudian, mama Firda datang. Ia ikut bergabung dengan anaknya, yang duduk di ruang makan.
"Mawar, duduklah. Kita sarapan bersama." ajak mama Firda, yang melihat gadis itu masih berdiri.
'Kalau cuma duduk saja, tapi tidak ikut makan, ya sama saja bohong.' batin gadis itu. Tapi ia tidak berani mengungkapkan.
"Lhoh, Mawar. Kenapa cuma memanggang roti dua potong saja? Apa kamu tidak memanggang semua rotinya."
"Secukupnya saja, Tante. Itu untuk Tante dan Mas Luqman." Mawar menyunggingkan senyum.
__ADS_1
"Oh, terima kasih Mawar. Tante cobain dulu ya."
Mama Firda dan Luqman memotong roti panggang yang sudah diolesi selai coklat, lalu memasukkan ke mulutnya.
"Enak juga roti panggang buatan mu, Mawar." puji mama Firda.
Luqman menganggukkan kepalanya, setuju. Sementara Mawar tersenyum puas, karena ia berhasil mengerjakan tugas pertamanya.
"Siang nanti tidak usah menyiapkan makanan untuk kami Mawar. Karena saya dan Luqman mau pergi. Kemungkinan pulangnya nanti sore.
Untuk makan malam nanti, saya ingin makan sop ayam.
Kalau kamu lapar, kamu bisa memasak stok makanan yang ada di dalam kulkas. Dan sekarang, kamu bisa mengepel rumah ini. Membersihkan debu yang menempel pada perlengkapan rumah." tutur mama Firda panjang lebar.
"Baik, Tante. Mawar akan melakukan tugas dengan sebaik-baiknya. Kalau begitu, saya permisi dulu." Mawar membungkukkan badannya sejenak, sebelum berlalu pergi.
Mama menyingkirkan peralatan makannya dan meletakkannya di wastafel.
"Hah? Kenapa roti gosongnya banyak sekali?" gumamnya sangat terkejut.
"Ada apa, ma?" Luqman mendekati mamanya yang tengah berjongkok.
"Ini, roti gosongnya banyak banget."
Luqman melotot melihat tumpukan roti gosong yang ada di dalam tempat sampah.
"Mungkin alat panggang nya rusak, ma. Atau mungkin Mawar belum terbiasa membuat roti panggang."
"Iya, bisa jadi seperti itu. Coba kamu cek alat panggang nya dulu."
"Baik, ma." Luqman segera memeriksa alat roasting nya, yang diletakkan dekat microwave.
__ADS_1
"Tidak ada yang rusak, ma."
"Syukurlah. Jadi besok bisa sarapan roti panggang lagi. Ayo kita berangkat sekarang."
Pasangan ibu dan anak itupun berjalan beriringan menuju carport. Saat melewati ruang tamu, keduanya berhenti ketika melihat Mawar yang sedang mengepel.
"Mawar, kami pamit dulu ya. Titip rumah, tolong jaga baik-baik." mama Firda berpamitan pada asisten rumah tangganya, sebelum pergi.
"Iya, Tante. Hati-hati ya, semoga selamat sampai tujuan."
"Aamiin. Terima kasih do'anya, Mawar. Oh iya, roti panggang yang kamu buat tadi enak sekali. Pas sekali teksturnya. Kamu memanggangnya pakai apa, Mawar?"
"Terima kasih atas pujiannya, Tante. Saya memanggangnya diatas kompor langsung." ucap Mawar dengan senyum jumawa.
"Apa! Diatas kompor?" ucap mama Firda dan Luqman bersamaan.
"Iya, tante. Alat memanggang roti itu kan kompor."
Pasangan ibu dan anak itu memegang perutnya bersamaan. Melihat hal itu, Mawar yang tadi tersenyum, perlahan memudar.
"Memang ada yang salah ya, Tan?" tanyanya dengan ragu, sambil meringis.
"Tidak ada yang salah. Cuma sepertinya kami harus mengenalkan mu satu persatu dengan nama alat-alat yang ada di rumah ini, beserta fungsinya."
"Oh, Mawar pikir kalau Mawar ada salah. Iya, Tante. Sepertinya benar apa yang Tante ucapkan. Karena baru kali ini Mawar menginjakkan kaki di rumah yang megah dan mewah seperti ini. Apalagi kulkasnya saja, ukurannya lebih besar dari pada almari Mawar yang dulu." tutur gadis itu dengan polosnya.
"Luqman, kalau seperti ini caranya. Sebaiknya mama tidak jadi ikut kamu pergi. Mama harus memberikan basic class terlebih dahulu."
"Baiklah, ma. Maafkan Luqman yang membuat mama gagal mengikuti acara hari ini."
"Tidak apa-apa. Mama tidak sedih kok."
__ADS_1
"Pamit ya, ma. Assalamu'alaikum." Thoriq mencium punggung tangan mamanya.