Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
79. Kesepakatan


__ADS_3

Roda kehidupan terus berputar. Luqman dan mamanya merasakan pekerjaannya menjadi lebih ringan, berkat bantuan beberapa asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya.


Keduanya sedikit menyesali, kenapa tidak sejak dulu saja memperkerjakan asisten rumah tangga. Selain pekerjaan cepat selesai, tidak membuat mereka kecapekan, juga berbagi rezeki dengan orang lain.


Mereka bersyukur, Clara selalu mengingatkannya untuk mencari sopir. Jika bukan karena ucapan dan kecelakaan yang dialaminya, tentu sampai sekarang Luqman belum sadar betapa pentingnya memperkerjakan asisten rumah tangga.


Bayangan tentang Clara yang sempat kehilangan seluruh rambutnya, karena harus di gundul sebelum operasi kembali melintas di benaknya. Untung saja Clara sangat baik dan tidak menangis ketika kehilangan rambutnya yang lurus dan hitam legam.


Mama Firda dan Luqman sangat salut dengan gadis yang tegar seperti Clara. Keduanya bahkan sering memujinya, karena lingkungannya yang buruk tidak menghapus segala kebaikan yang melekat pada dirinya. Bahkan mereka sampai memendam rasa rindu padanya.


Di gedung yang tinggi menjulang, dan berada di lantai teratas, Luqman duduk menghadap kaca jendela, menatap ke arah luar.


"Kira-kira, apa yang sedang dilakukan gadis itu?" Lirihnya.


Entah kenapa setelah jauh dari Clara, Luqman jadi sering memikirkannya.

__ADS_1


"Apa sebaiknya aku menghubunginya? Eh, tunggu. Clara pasti akan menyangka, kalau aku menyukainya." Sejenak Luqman menimbang baik buruknya sebelum menghubungi mantan asisten rumah tangganya.


**


Sementara itu di tempat lain, Clara bersama dengan kedua orang tuanya selalu harmonis. Mereka sangat bersyukur, karena Clara dinyatakan sembuh, dan tidak perlu check up lagi.


Setiap saat Clara dan keluarganya menghabiskan waktunya bersama-sama. Jalan-jalan ke taman, pusat kota, mall, menonton bioskop, ke salon atau bahkan saat pergi ke kantor, pak Andreas mengajaknya juga.


Sampai sekarang gadis itu masih merasa tidak percaya dan speechless karena memiliki orang tua yang lengkap, baik hati, selalu memanjakannya dan juga kaya.


Kedua orang tuanya menjawab dengan sabar seluruh pertanyaan yang diajukannya, layaknya seorang anak kecil.


Saat menemani ke kantor, Clara pun membaca beberapa berkas penting dan mencoba menelaahnya. Rasanya ia tergelitik dan ingin ikut membantu papanya mengerjakan berkas-berkas penting itu.


Kedua orang tuanya tentu saja mengijinkannya, karena bagaimana pun juga Clara adalah satu-satunya pewaris perusahaannya, jadi memang harus bisa mengerjakan semuanya.

__ADS_1


Di tengah-tengah mereka sedang serius dengan dokumen-dokumen penting yang dikerjakan, terdengar handphone Pak Andreas berdering.


"Nak Luqman." Gumamnya sambil menatap nama yang baru saja diucapkan. Lalu memutuskan menerima panggilan itu.


"Hallo. Assalamu'alaikum." Sapanya ketika panggilan sudah terhubung.


"Wa'alaikumussalam, pak. Bagaimana kabarnya sekeluarga." Suara nyaring Luqman membalas salam dari pak Andreas.


"Kami semua baik. Bagaimana dengan kabar nak Luqman dan mamanya?"


"Alhamdulillah, kami semua juga baik Pak."


Sesaat keduanya membicarakan tentang keluarga, lalu tentang bisnis. Percakapan melalui pesawat telepon itu berjalan beberapa saat, sampai akhirnya tercapainya sebuah kesepakatan yang membuat kedua belah pihak merasa bahagia.


Ya, dalam kesepakatan itu, Luqman meminta pengiriman sejumlah produk bahan baku untuk busana muslim yang tentu saja akan menaikkan omset penjualan perusahaan Pak Andreas. Dan Luqman pun merasa senang, karena Pak Andreas sekeluarga akan berkunjung ke perusahaannya sekalian saat pengiriman barang. Itu artinya ada sebuah harapan untuk kembali bertemu dengan Clara. Senyum di wajahnya pun mengembang cerah.

__ADS_1


__ADS_2