
"Luqman, kenapa kamu melamun?" tanya mama Firda, yang melihat Luqman sedang duduk termenung di tepi kolam ikan.
"Mama." pria itu menoleh pada mamanya, yang baru saja meletakkan kue serabi di atas meja. Lalu wanita anggun itu duduk di kursi dekat meja.
"Tumben sekali, kamu melamun. Tuh, sampai kamu kebanyakan memberi makan ikan."
Luqman mengikuti arah telunjuk mamanya, dan cukup terkejut ketika melihat banyak makanan ikan yang mengapung di atas air.
"Sedang memikirkan apa? Kenapa mama bertanya, tidak segera di jawab?"
"Itu, ma. Linda sakit keras. Mungkin membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Sehingga tidak bisa lagi menjalani sesi pemotretan. Luqman menyuruhnya untuk fokus pada pengobatannya dulu." Pria itu pun mulai menceritakan apa yang tengah dipikirkannya semalaman suntuk.
Setelah selesai menceritakan semuanya, Luqman dan mama Firda menghela nafas panjang.
"Mama rasa tidak apa-apa, Luqman. Jika suatu saat masalah muncul, kamu bisa memberikan penjelasan tentang itu semua.
Bukankah semua manusia akan di uji dengan caranya masing-masing? Apalagi orang yang sedang berjuang merubah nasib, memang banyak sekali godaannya. Tugas kita adalah menguatkannya.
Mawar itu sebenarnya gadis yang baik. Jika kita banyak mengarahkannya, pasti dia akan menjadi jauh lebih baik lagi."
"Jadi, mama tidak keberatan?" mama Firda menggelengkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum.
"Terima kasih, ma."
"Ya sudah, ini di makan dulu."
__ADS_1
"Baik, ma." Luqman menarik piring lalu meletakkan di hadapannya, dan mengambil satu kue serabi, lalu memasukkan ke mulutnya.
**
"Tante, tumben pagi-pagi begini sudah rapi sekali. Mau kemana?"
Mawar mengernyitkan dahi melihat mama Firda sudah berpakaian rapi. Ia mengenakan gamis berwarna hitam dan jilbab berwarna senada.
"Tante, mau berangkat pengajian."
Mawar termenung sejenak. Sebenarnya ia ingin sekali ikut, tapi pekerjaannya belum selesai.
"Kamu mau ikut?" tawar mama Firda, ketika melihat Mawar termenung.
"Tidak apa-apa. Bisa kamu kerjakan nanti."
"Beneran, Tan?"
Mama Firda menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, yang membuat wajah Mawar berbinar.
"Kalau begitu tunggu sebentar ya, Tan."
Mawar segera berlari kecil menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap. Sedangkan mama Firda duduk di depan meja dapur.
"Mama, kenapa masih duduk di situ?"
__ADS_1
"Tunggu sebentar, Mawar mau ikut."
Tak lama kemudian, Mawar keluar dari kamar. Lagi-lagi penampilannya begitu memukau, sehingga membuat Luqman kembali terperangah.
"Bagaimana penampilan, Mawar? Apa sudah kelihatan seperti wanita muslimah?"
Gadis bergamis hitam dengan jilbab berwarna mocca itu mengukir senyum sambil memutar badannya.
Mama juga ikut tersenyum melihat penampilannya yang tampak berbeda. Sangat cantik dan terlihat muslimah.
"Iya, kamu cantik sekali Mawar. Jika kamu berpakaian seperti itu terus, Tante pasti tambah suka."
"Iya, Tante. Tapi Mawar agak ribet jika harus memakai pakaian seperti ini setiap hari. Terlalu sayang jika bajunya kotor kena noda minyak atau apalah." tutur gadis itu dengan polosnya.
"Mas, kenapa kamu masih lihatin Mawar seperti itu?" pandangan Mawar beralih pada Luqman yang tak berkedip menatapnya.
"Eh, siapa yang lihatin kamu? Ge-er sekali. Aku cuma lihat baju yang sedang kamu pakai, bagus banget."
"Sudah, ayo buruan berangkat. Takutnya nanti terlambat."
Mama Firda bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan mendahului anak dan asisten rumah tangganya. Luqman segera berjalan menyejajarinya. Kemudian di susul Mawar.
Dalam hati gadis itu, ia memuji penampilan Luqman yang begitu memesona. Ia tampak gagah dalam balutan kemko berwarna putih dan celana sirwal.
Jambang halusnya semakin menambah pesonanya. Aroma parfumnya yang menusuk indera penciuman. Segala sesuatu yang ada pada pria itu, begitu membuatnya terpikat dan gemas.
__ADS_1