
"Do'akan usaha kami bertambah lancar, pekerjaan kamu juga semakin bagus, agar aku juga bisa menaikkan gaji mu."
"Naik gaji? Mawar akan mendapatkan uang yang lebih banyak dari ini maksudnya?"
Luqman mengangguk mengiyakan. Mawar yang melihatnya semakin melebarkan senyuman manisnya. Akhirnya kedua makhluk Tuhan yang berlawanan jenis itu saling melempar senyum.
"Tentu. Tentu Mawar akan mendoakan yang banyak untuk mas Luqman. Tapi, doa Mawar yang banyak itu kira-kira terkabul ngga ya? Secara, Mawar ini hanyalah..." Mawar terlihat menundukkan kepalanya sendu. Padahal belum ada beberapa detik lalu, ia menyunggingkan senyum.
"Stop! Jangan berbicara seperti itu. Ibarat kata, kamu itu seperti bayi yang baru lahir, dalam keadaan yang kembali suci. Tidak usah mengungkit dosa masa lalu. Cukup kamu jadikan itu sebagai sebuah pelajaran, dan berjanjilah tidak akan mengulangi lagi."
"Iya, mas. Sebenarnya Mawar juga tidak mau memikirkan hal itu. Tapi, tiba-tiba saja bayangan kelam itu melintas di kepala."
"Perlahan kamu pasti bisa memanagement hatimu, sehingga tidak terus-menerus berlarut memikirkannya. Lebih baik kamu fokus untuk berubah."
"Iya, mas. Terima kasih ya sudah senantiasa mengingatkan Mawar."
Luqman mengangguk dan mengulas senyum.
"Sudah. Jangan bersedih lagi. Sekarang kamu selesaikan pekerjaan mu. Aku mau ke dalam ganti baju."
Mawar menganggukkan kepalanya, lalu bangkit berdiri dan kembali menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
**
Kini Luqman telah berganti baju. Ia dan mamanya menikmati sarapan pagi bersama. Sedangkan Mawar masih menyelesaikan tugasnya yang belum selesai.
Setelah selesai sarapan, Luqman berangkat ke kantor. Karena jalan raya yang begitu macet di pagi hari, akhirnya satu jam kemudian, ia baru sampai di kantornya.
Mobilnya berhenti tepat di depan lobby. Pria berkacamata hitam dan mengenakan kurta selutut berwarna mocca itu dengan langkah tenang memasuki lobby kantornya.
Parfumnya yang sangat limited edition dan memiliki aroma yang berbeda dari yang lainnya, menjadi ciri khasnya. Sehingga begitu ia masuk, semua mata tertuju padanya.
__ADS_1
Banyak sekali karyawati dan jama'ah pengajian yang menaruh rasa padanya. Tapi pria itu diam tak bergeming, menanggapi mereka.
Ia mencari wanita, yang bisa hidup rukun dengan mamanya. Karena, tidak tega rasanya untuk meninggalkan mamanya sendirian ketika ia sudah menikah nanti.
Sesampainya di ruangannya, pria itu tak membuang waktu. Ia segera mengerjakan pekerjaannya yang sudah menumpuk di meja.
Dering handphone, membuatnya menghentikan aktivitasnya. Pria itu menoleh ke layar handphonenya, dan melihat nama pak Burhan, yang memanggilnya.
Luqman segera menerima panggilan itu, dengan mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Hallo, pak. Ada yang bisa saya bantu?" ucapnya ramah.
"Bapak hanya ingin menyampaikan, kalau perusahaan kami akan mengirim bahan baku hari ini."
"Oh, terima kasih sekali pak. Saya sangat senang mendengarnya."
"Sama-sama. Saya juga sangat senang bisa membantu kamu, meneruskan usaha papamu. Semoga bisa bertambah sukses. Agar bapak juga bisa ketularan suksesnya." Luqman terkekeh kecil, mendengar pujian yang dilontarkan padanya.
Setelah sejenak bercakap-cakap, keduanya sepakat mengakhiri pembicaraan. Setelah itu, Luqman kembali fokus bekerja.
Beberapa jam telah berlalu. Luqman telah menggunakan waktu istirahatnya sebaik mungkin. Untuk ibadah dan makan bersama.
Setelah itu, ia kembali bekerja. Hingga akhirnya, sebuah suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.
"Masuk." titahnya.
Pintu ruangannya pun perlahan terbuka. Terlihat sekretarisnya yang melangkahkan kakinya, masuk ke dalam ruangannya.
"Permisi, pak. Dibawah ada utusan dari perusahaan Erlangga ingin bertemu."
Sejenak Luqman berpikir sambil mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Apa pak Burhan maksud kamu?"
"Bukan, pak. Dia adalah seorang wanita berjilbab. Kalau tidak salah, tadi namanya Farida."
"Farida?" ulang pria itu.
"Ya sudah, aku akan menemuinya. Dan kamu boleh kembali kerja."
"Baik, pak."
Sang sekretaris pun keluar untuk kembali melanjutkan tugas-tugasnya yang belum selesai. Sedangkan Luqman merapikan dokumen yang cukup berantakan, dan segera berlalu keluar untuk menemui Farida.
Sesampainya di lobby, Luqman melihat Farida tengah duduk seorang diri sambil memainkan handphonenya.
"Selamat sore." sapa Luqman, pada gadis itu.
"Eh, selamat sore mas."
Farida segera memasukkan handphonenya, lalu berdiri dan sedikit membungkukkan badannya di hadapan Luqman.
"Maaf jika mengganggu waktunya. Saya diutus papa untuk mengantar bahan baku untuk perusahaan, mas Luqman. Karena karyawan yang biasanya mengantar berhalangan hadir."
"Tidak. Kamu tidak mengganggu saya kok. Tolong sampaikan ucapan terima kasih saya pada beliau."
"Tentu nanti akan saya sampaikan pada papa, mas."
"Oh iya, mana faktur pengirimannya?"
Farida segera meraih tasnya yang ada di kursi, lalu mencari keberadaan kertas yang ada di dalamnya.
Setelah mendapatkannya, ia menyerahkannya pada Luqman. Pria itu sejenak mengernyitkan dahi sambil berpikir.
__ADS_1