Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
12. Tidur siang


__ADS_3

Setelah melewati drama yang cukup lama, akhirnya siang itu keduanya bisa menyajikan sup ayam di atas meja.


"Kamu makan disini saja, Mawar. Nemenin Tante." ucap mama Firda, melihat Mawar yang masih berdiri di dekat kursi.


"Baik, Tante." gadis itupun duduk di kursi dekat dengan mama Firda.


Setelah mengambil nasi, keduanya menuang sayur sop ke dalam piring masing-masing. Saat mencicipi sedikit kuahnya, mata Mawar sampai berkedip-kedip.


"Kamu kelilipan?" mama Firda menatap Mawar intens.


"Ah, bukan Tante." gadis itu menyunggingkan senyum.


"Tapi, ini rasa sop nya enak sekali. Tante kok pintar sekali memasak sih?"


Mama Firda pun mengulas senyum, ketika Mawar memuji masakannya. Karena hal itu mirip dengan yang dilakukan anak dan suaminya.


"Tante, Mawar minta maaf ya. Selama bekerja disini, Mawar belum bisa melakukan pekerjaan dengan baik."


"Tidak apa-apa. Asalkan kamu berusaha, Tante akan mempertahankan mu."


"Hah, benarkah, Tante? Kalau begitu, boleh minta diajari cara memasak tidak, Tante? Agar bisa menghidangkan makanan yang lezat seperti ini." pinta gadis itu dengan penuh semangat.


"Boleh, in shaa Allah Tante akan mengajarimu. Sekarang habiskan makananmu, lalu kita ibadah dhuhur bersama-sama."


Karena rasa masakannya yang enak, Mawar sampai menambah makanannya.


"Tante, kamu boleh potong gaji Mawar nanti. Karena saya makannya sangat banyak."

__ADS_1


Sejak tadi pagi sampai sekarang, ia selalu dibuat senam jantung karena ulah Mawar. Tapi Mama Firda tidak marah, dan justru tersenyum tipis karena Mawar selalu berbicara apa adanya.


Baginya kejujuran seseorang itu nomor satu. Apalagi Mawar juga memang belum tahu apa-apa. Rasanya tidak pantas dirinya untuk memarahinya.


"Tante bukan tipe majikan yang seperti itu, Mawar. Tapi kamu juga harus membuktikan ucapan mu dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai menyalahgunakan kepercayaan yang Tante berikan."


"Iya, Tante. Mawar pasti akan berusaha sekuat tenaga, dan akan bersungguh-sungguh untuk menjaga kepercayaan yang Tante berikan pada saya."


Setelah menyelesaikan makan siangnya, mereka beribadah bersama-sama. Lalu mama Firda pelan-pelan menasehati gadis didekatnya.


Terlihat Mawar menganggukkan kepalanya, sambil menatap serius ke arah mama Firda yang tengah menjelaskan sesuatu padanya.


Setelah selesai, Mama Firda beristirahat di kamarnya. Sedangkan Mawar kembali melanjutkan pekerjaannya yang lain.


Melihat baju kotor yang ada dalam keranjang, ia berniat mencucinya. Sambil mengingat step by stepnya, ia memasukkan satu persatu baju itu ke dalam mesin cuci. Lalu menuang cairan deterjen, yang cukup banyak ke dalam mesin cuci.


"Yah, kenapa berhenti?"


Hatinya mulai berdegub kencang tak karuan. Ia mengingat-ingat bagaimana cara membuka pintunya.


"Pliss, jangan rusak." ratapnya penuh harap. Pelan-pelan ia membuka pintunya, akhirnya berhasil.


Ia mengambil satu persatu baju itu dan akhirnya memilih mencucinya secara manual.


"Apa mungkin, mesin cuci ini tiba-tiba berhenti karena aku terlalu banyak menuang detergen? Tapi niatku menuang yang banyak, agar berbau harum. Kenapa malah jadi seperti ini? Ah, aku pusing sendiri jadinya. Ternyata menjadi orang kaya itu tidak enak juga." dengan bersungut-sungut kesal, Mawar melempar potongan baju itu ke dalam ember. Lalu membawanya ke kamar mandi, dan mencucinya disana.


**

__ADS_1


Selesai mengerjakan pekerjaannya, Mawar kelelahan. Akhirnya ia pun beristirahat di kamarnya. Hal itu wajar saja terjadi, mengingat ia tidak pernah sekali pun mengerjakan pekerjaan rumah tangga.


"Mawar! Mawar." panggil mama Firda berulang kali, sambil mengetuk pintu kamarnya. Namun gadis itu tidak juga kunjung bangun.


"Kenapa ia bisa tidur senyenyak itu? Apa mengerjakan pekerjaan seperti tadi saja, sudah membuatnya benar-benar kecapekan?"


Mama Firda pun berlalu pergi, dan berjalan menuju pantry, untuk memasak makan malam nanti. Apalagi jarum jam sudah menunjukkan pukul lima, pasti sebentar lagi putranya juga akan pulang.


Tak berselang lama, Mawar yang berada di kamarnya menggeliat bangun.


"Hah! Jam lima?" gumamnya sambil mengucek kedua bola matanya. Gadis itu bangkit berdiri dan segera keluar kamar.


'Gawat! Tante Firda sudah memasak duluan. Kalau begini terus, bagaimana aku bisa mengambil hatinya? Agar bisa bertahan lebih lama di sini.'


Setelah membuang nafas, dengan langkah sedikit ketakutan, Mawar mendekati mama Firda.


"Tante, maafkan Mawar. Karena sempat ketiduran. Saya capek sekali, karena ini adalah hari pertama saya kerja, dan belum begitu paham."


"Kamu boleh istirahat siang. Tapi untuk menghindari bangun terlambat, kamu bisa menghidupkan alarm." balas Mama Firda, yang pandangannya tak lepas dari brokoli yang ia goreng.


"Sepertinya di dalam tidak ada jam beker, Tante. Adanya jam dinding."


"Bisa kan pakai alarm di handphone mu."


"Saya hanya melihat wujud handphone, dari pengunjung yang mendekati saya Tante." lirih Mawar.


Mama Firda seketika merasa iba, pada gadis dihadapannya. Sudah sebesar itu, handphone saja sama sekali belum pernah memegang.

__ADS_1


Padahal, di luar sana banyak orang tua yang memberikan handphone untuk anak-anaknya yang masih kecil.


__ADS_2