
Kini Luqman dan Farida sedang dalam perjalanan menuju rumah Farida. Tampak keduanya saling terdiam selama dalam perjalanan.
Gadis itu diam di luarnya saja. Tapi di dalam hatinya, sedang riuh membicarakan tentang pria yang sedang mengantarkannya pulang.
Tidak dapat di pungkiri, pertemuan pertamanya dengan Luqman begitu membekas di ruang kepalanya. Karena pemuda itu begitu tampan, cerdas dan penuh wibawa.
Farida merasa cocok dengannya, karena sama-sama paham agama. Apalagi selama dua puluh empat tahun ia hidup, belum pernah ada laki-laki yang mampu menggetarkan hatinya, kecuali Luqman. Sehingga ia merasa pria itu adalah jodoh yang di kirim Tuhan, untuknya.
Berbeda dengan Farida, Luqman memang diam di lisannya. Tapi pikirannya sedang konsentrasi memperhatikan jalanan sore yang tampak macet, sehingga ia hanya bisa bersabar.
"Mas." karena tidak tahan dengan keheningan yang ada, Farida memberanikan diri untuk membuka obrolan.
"Iya. Ada apa, Farida?"
"Em, apa kamu sudah lama mengenal papaku, dan akrab dengannya?"
Luqman menoleh sejenak ke arah Farida, lalu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Tentu saja kami akrab, karena sudah lama saling kenal dan sering terlibat kerja sama. Memang ada apa, Farida?"
"Tidak ada apa-apa kok, mas. Cuma sedikit heran saja. Papaku orangnya sangat selektif dan tidak mudah bergaul. Tapi kenapa bisa akrab sekali dengan kamu. Mungkin ada sesuatu yang menarik dalam dirimu."
Luqman terkekeh kecil.
"Apanya yang menarik? Aku ya seperti yang kamu lihat sekarang. Ada yang menarik tidak?"
"Penilaian awal ku, kamu adalah pemuda yang baik. Menjadi seorang ustadz terkenal dan di gandrungi banyak orang. Termasuk aku. Karena kamu sangat pintar dalam membawakan ceramah."
Lagi, Luqman terkekeh karena mendengar penjelasan Farida.
__ADS_1
"Tolong, jangan memuji ku seperti itu. Aku sebenarnya juga sedang dalam tahap latihan kok."
"Oh ya. Kalau begitu, apakah boleh aku ikut berlatih dengan mu? Aku juga masih dalam tahap belajar."
Luqman kembali menoleh ke samping, mencoba melihat kejujuran ataukah bercanda dari sorot mata gadis cantik di sampingnya.
"Bukankah kamu lulusan luar negeri. Tentu lebih pintar dari aku, yang hanya lulusan SMA di negeri ini."
Wajah Farida seketika memerah, karena niatnya untuk mendekati Luqman dengan cara itu tidak berhasil, akibat salah bicara.
Sedangkan Luqman, pria itu memang hanya tamat SMA. Namun berkat kegigihannya dalam belajar, tak butuh waktu lama ia mampu menguasai ilmu bisnis dan juga agama.
Setelah bermenit-menit terjebak macet, akhirnya Luqman dan Farida sampai di kediaman Farida. Keduanya segera turun dari mobil.
Baru saja keduanya melangkahkan kakinya di lantai teras, pintu utama rumah itu sudah terbuka.
Pak Burhan sudah berdiri di ambang pintu, sambil menyunggingkan senyum, untuk menyambut kedatangan Luqman.
"Terima kasih, pak. Atas undangannya." balas Luqman sambil menyunggingkan senyum.
"Sebenarnya aku sudah lama ingin mengundangmu, tapi selalu saja lupa"
"Tidak apa-apa, pak. Saya maklum, karena bapak pasti sangat sibuk sekali."
"Ya sudah, ayo kita masuk. Tidak enak terus-terusan bicara di luar." pak Burhan menggerakkan tangan kanannya untuk mempersilahkan, sedangkan tangan kirinya untuk mendorong Luqman agar segera mengikuti ajakannya.
Farida tersenyum berjalan di belakang papa dan Luqman. Keduanya terlihat seperti menantu dan mertua yang akrab.
'Tuhan, boleh kah aku meminta? Semoga hubungan ini terus berlanjut ke arah yang lebih serius lagi.' batin Farida.
__ADS_1
"Silahkan, duduk dulu." pak Burhan mempersilahkan Luqman, duduk di ruang tamu.
"Pa, Farida pamit ke kamar dulu ya. Mau mandi."
"Oh, ya. Sebelum kamu mandi, tolong buatkan minuman untuk nak Luqman dulu. Kamu mau minum apa, Luqman?" pandangan pak Burhan beralih dari Farida ke Luqman.
"Minum apa saja boleh, pak."
"Hem, baiklah. Farida buatkan minuman yang terbaik untuk Luqman."
"Baik, pa." Farida menganggukkan kepalanya, lalu berjalan menuju ke dapur.
Gadis itu membuka nakas dan kulkas untuk mencari minuman yang pas disajikan untuk tamu spesialnya.
Ketika melihat kurma, terlintas sebuah ide di kepalanya. Ia pun menyunggingkan senyum tipis.
Tak berapa lama kemudian, ia sudah selesai membuat minuman, lalu membawanya menuju ruang tamu.
"Silahkan di minum." ucap gadis itu, sembari meletakkan gelas di meja.
"Hem, kamu selalu membuat minuman kesukaan mu, Farida." gumam pak Burhan, tapi gadis itu hanya menyunggingkan senyum tipis.
"Ayonak, di minum dulu. Kamu pasti kehausan, setelah perjalanan jauh dan macet."
"Terima kasih, pak." Luqman tersenyum tipis, lalu meraih gelas yang ada di hadapannya.
"Bagaimana rasanya?" tanya pak Burhan, setelah Luqman meneguk minumannya.
"Rasa manisnya, pas sekali."
__ADS_1
"Farida memang suka sekali membuat susu kurma. Kalau cuaca sedang panas seperti sekarang, di tambah es memang jauh lebih enak dan menyegarkan."
"Oh ya. Jadi ini yang membuat Farida sendiri? Rasanya mirip seperti yang di jual. Tapi menurut saya, lebih enak yang ini. Karena rasanya lebih fresh." ucap Luqman, yang membuat Farida kembali tersenyum.