
"Iya sayang. Ayo kita segera masuk. Pasti Dokter sudah menunggu kita." Nyonya Anita, mengajak putrinya masuk ke dalam ruangan.
"Clara masuk dulu ya, Mas."
Gadis itu berlalu ke dalam, bersama dengan kedua orang tuanya. Sedangkan Luqman dan Mamanya duduk di kursi tunggu yang di pakai keluarga Clara tadi.
"Luqman, apa kamu tidak ingin menceritakan pada Mama, siapa wanita yang sudah mencuri hatimu?"
Luqman menghela nafas panjang, lalu menoleh pada Mamanya.
"Ma, sampai sekarang Luqman sendiri juga masih bingung dengan perasaan ini."
"Kenapa masih bingung? Kalau dia wanita baik-baik, tentu Mama akan mengijinkan kamu berhubungan dengannya. Bahkan menikahlah segera."
Luqman sedikit takut, jika mengatakan siapa wanita yang sudah membuat hatinya bergetar. Terlebih wanita itu pernah memiliki masa lalu yang sama sekali tidak baik.
"Kenapa kamu justru diam saja? Apa sekarang sudah berani main rahasia-rahasian dengan Mama?" Suara Mama Firda membuyarkan lamunan anaknya.
__ADS_1
"Bu-bukan begitu, Ma. Luqman sendiri belum yakin dengan apa yang aku rasa."
"Apa yang membuatmu seperti itu?"
"Masalahnya... Masa lalunya tidaklah baik." Cukup lama Luqman menjeda kalimatnya, sambil menghirup nafas panjang.
"Apa kamu menyukai Clara." Mama Firda menatap Luqman serius. Dan tatapannya seperti menghunus, yang membuatnya takut.
"Kamu tidak perlu menjawab. Sepertinya Mama sudah tahu jawabannya." Jantung Luqman semakin berdetak kencang.
"Ma, apakah Mama akan memarahi ku? Bukankah perasaan itu tidak bisa dipaksakan? Maafkan Luqman jika sudah membuat Mama kecewa. Sebelum lebih jauh Luqman menyimpan perasaan ini, aku akan berusaha melupakannya." Luqman menatap Mamanya, sambil menggenggam tangannya erat.
**
Sementara itu di dalam ruang periksa. Setelah dipersilahkan duduk, Clara pun menceritakan apa yang dialaminya pada Dokter.
Untuk yang kedua kalinya, Dokter dan asistennya tidak bisa menahan tawanya. Tentu saja Clara dan keluarganya saling beradu pandang kebingungan.
__ADS_1
"Suster, kenapa hari ini kita bertemu dengan orang-orang yang tengah terkena virus merah jambu?"
"Hah? Apakah itu sangat berbahaya, Dokter?" Clara memajukan wajahnya dan menatap pria dihadapannya dengan serius. Dokter dan perawat pun seketika terdiam sambil menatap wajah lucu Clara.
"Nona, apa yang Anda alami ini adalah hal yang wajar. Semua orang dewasa pasti pernah mengalaminya." Dokter kembali menjelaskan semuanya pada Clara, setelah tadi menjelaskan pada Luqman. Bahkan ia mulai menyimpulkan, jika kedua pasien yang ia periksa itu sebenarnya saling mencintai, tapi belum berani untuk menyatakan perasaannya.
"Sayang, siapa laki-laki yang kamu sukai? Kenapa kamu tidak mengatakannya pada Mama?" Nyonya Anita langsung memberondong Clara dengan pertanyaan, setelah Dokter selesai menjelaskan. Sedangkan yang ditanya masih speechless.
'Apa? A-aku jatuh cinta? Dengan mas Luqman. Ya ampun, bagaimana rumusnya? Mencintai mantan majikanku sendiri. Arghhh, ini menyebalkan. Bagaimana kalau mas Luqman tidak mencintaiku? Bukankah aku akan merasa sakit hati? Sebaiknya setelah ini aku tidak menginap di rumahnya lagi, agar tidak lagi bertemu dengannya. Daripada masih sering bertemu, yang bisa membuatku merasa sakit hati, karena menahan rasa ini.'
"Clara, kenapa kamu justru melamun?" Sekali lagi Nyonya Anita bertanya. Yang membuat putrinya tersadar dari lamunannya.
"Eh, tidak apa-apa kok ma." Clara menyunggingkan senyum pada Mamanya.
"Maaf Nyonya saya menyela, mungkin putri Anda malu mengatakan siapa laki-laki yang tengah disukainya. Apalagi ada kami disini. Sebaiknya hal ini dibicarakan baik-baik dengan kondisi yang senyaman mungkin. Karena bagaimanapun juga, menasehati orang yang tengah jatuh cinta itu akan sedikit susah."
"Oh, benar sekali apa kata Dokter. Kalau begitu kami permisi dulu." Nyonya Anita berpamitan, diikuti oleh suami dan putrinya.
__ADS_1
Luqman dan Mamanya tersentak kaget, ketika melihat Clara dan keluarganya keluar dari ruang periksa. Pandangan keduanya saling bertemu dan jantung keduanya berpacu cepat.