Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
20. Untuk yang kesekian kalinya


__ADS_3

Semua kembali ke kamar masing-masing, termasuk Mawar.


Di dalam kamar, sekali lagi ia melompat kegirangan. Karena mendapat banyak barang-barang pemberian dari majikannya.


"Kalau seperti ini caranya, aku jadi semangat bertaubat. Tidak akan lagi berbuat hal yang menjijikkan itu. Yok Mawar, kamu pasti bisa." celoteh Mawar, membangkitkan semangat dirinya sendiri.


Setelah berceloteh seorang diri cukup lama, Mawar perlahan menutup matanya. Baju-baju yang ia coba tadi, kini ia peluk layaknya guling.


**


Keesokan harinya, Mawar tergeragap bangun, karena mendengar suara berisik yang sungguh memekakkan telinga.


Kepalanya celingukan, mencari keberadaan benda tersebut. Dan akhirnya ia menemukan bahwa, bunyi itu berasal dari handphone yang ada di bawah tumpukan baju-baju barunya.


Gadis itu berusaha mengingat-ingat bagaimana cara mematikan alarmnya.


"Yei, berhasil!" pekiknya senang, ketika berhasil menghentikan suara keras dari benda pipih itu.


"Kalau tiap hari aku mendengar suara berisik seperti ini melulu, dijamin tidak bakal bangun kesiangan."


Setelah bergumam sambil memastikan penampilannya rapi, ia keluar kamar untuk melanjutkan pekerjaannya sebagaimana biasanya.


Yang pertama ia lakukan adalah, mencuci baju. Baik baju majikannya, ataupun bajunya sendiri. Karena baju itu telah memenuhi keranjang kotoran.


Ia memasukkan semua baju kotor itu ke dalam mesin cuci. Setelahnya, ia memutar tombol on.


Sambil menunggu cuciannya bersih, ia melakukan pekerjaan lainnya. Yakni menyedot debu.

__ADS_1


Cukup lama ia melakukan pekerjaan itu, hingga membuatnya lupa jika tadi sedang mencuci pakaian kotor.


Tugas menyedot debu telah selesai. Ia memasukkan alat itu kembali ke gudang.


Mendengar suara yang nyaring bunyinya, seketika ia teringat jika tadi sedang mencuci. Buru-buru ia mendekati mesin cuci. Lalu mematikan mesinnya.


"Arghh...." Mawar menjerit histeris, ketika mengambil satu potong baju dari dalam mesin cuci.


"Ada apa, Mawar?" pemilik suara yang penuh kelembutan bertanya pada Mawar. Siapa lagi kalau bukan Luqman.


Pria itu tadi sedang nge-gym di sudut ruangan. Tapi ketika mendengar suara teriakan Mawar yang begitu memekakkan telinga, seketika ia menghentikan aktivitasnya, dan berlari mencari asal suara.


Luqman menemukan Mawar di dapur dekat dengan mesin cuci. Lalu ia pun mendekatinya dan sekali lagi bertanya tentang apa yang terjadi.


"Ada apa, Mawar? Kenapa kamu diam saja?"


Namun, sepertinya ia tidak usah menunggu jawaban Mawar. Untuk yang kesekian kalinya ia harus menelan pil pahit. Karena lagi-lagi bajunya rusak oleh ulah Mawar. Baju kemko berwarna biru muda itu kini telah robek di beberapa bagian.


Lalu, apakah Luqman akan tetap sabar dalam menghadapi tingkah pembantu barunya? Ataukah akan menyerah begitu saja. Karena ternyata mempertahankannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kesabaran yang ekstra tinggi.


Bergetar hati Mawar, ketika mendengar suara Luqman.


"M-Mas." suara Mawar bagai tercekat di kerongkongan.


"Ma-Mawar, tidak sengaja. Mawar si-siap menerima hukuman. Tapi, jangan yang berat-berat ya, mas. Beban hidup Mawar sudah berat. Apalagi berat badan."


Luqman tahu, wajah Mawar tengah menyiratkan ketakutan yang amat sangat. Tapi entah kenapa, ada saja kata-kata yang membuatnya tertawa. Walaupun memang gadis itu mengucapkannya secara tidak sengaja.

__ADS_1


"Kenapa bajunya bisa robek seperti itu? Bagaimana caramu mencuci?" tanya Luqman dengan suara yang tetap lembut, setelah terdiam sekian menit.


Mawar pun menceritakan tentang caranya tadi mencuci pada, Luqman. Pria itu manggut-manggut, lalu kembali menjelaskan pada gadis disampingnya.


"Mungkin saya kebanyakan makan uang haram deh, mas. Jadi ya begini, otaknya lambat bin lemot kalau menangkap pelajaran." keluh Mawar putus asa.


Luqman yang mendengarnya kasian juga. Gadis dihadapannya benar-benar polos.


"Yang berlalu biarlah berlalu. Untuk kedepannya, selama kamu disini, in shaa Allah hal itu tidak akan terjadi lagi. Aku akan memberimu nafkah dari uang yang halal."


"Nafkah? Apakah itu artinya kita akan menikah?" Mawar mendongakkan kepalanya menatap majikannya sambil tersenyum lebar.


"Eh, bu-bukan seperti itu maksudku. Gaji. Ya, maksudku aku akan memberimu gaji dari uang yang halal."


"Yah." Mawar kembali menundukkan kepalanya, terlihat kecewa.


"Luqman, Mawar. Kenapa kalian saling mematung? Ada apa?" suara mama Firda mengejutkan keduanya.


Mawar kembali tegang, melihat mama Firda berjalan mendekatinya. Lalu ia pun bersembunyi dibelakang Luqman.


"Ada apa?" mama Firda mengulangi pertanyaannya sambil mengernyitkan dahi.


"Ma, ilmu sabar itu memang sulit untuk di aplikasikan. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melakukannya. Luqman harap, mama bisa bersabar, atas perbuatan yang sudah dilakukan asisten rumah tangga kita. Semua kerusakan, nanti akan Luqman ganti."


"Luqman. Maksud kamu apa sih?" mama menaikkan sebelah sudut bibirnya.


"Lihat saja sendiri, ma." Luqman menunjuk tumpukan baju yang ada di keranjang.

__ADS_1


Mama Firda mengikuti arah telunjuk putranya, lalu mengangkat baju itu satu potong, dan merentangkannya. Matanya membulat dan mulutnya menganga.


"Mawar!" pekiknya.


__ADS_2