
Setelah semua urusan tentang pengiriman barang selesai, Luqman mengajak tamunya untuk ke kediamannya.
Pemuda itu ingin menjamu mereka dengan baik. Tentu saja beberapa hari sebelumnya ia sudah mengatakan tentang kedatangan mereka pada mamanya. Dan mama Firda pun di rumah sudah menyiapkan jamuan makan malam untuk menyambutnya.
Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman Luqman. Meskipun belum ada satu tahun Clara tinggal di kota itu, tapi ia memiliki ingatan yang baik. Beberapa jalan menuju kediaman Luqman, masih bisa dihafal dengan baik.
Dan setelah menempuh hampir satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di kediaman megah Luqman. Seorang security dengan tergopoh-gopoh membukakan pintu gerbang untuk majikannya. Clara yang melihat itu sedikit menyunggingkan senyum tipis.
'Eh, sejak kapan mas Luqman memiliki seorang security ya?' batin gadis itu dalam hati cukup penasaran.
Mama Firda yang sudah mengetahui kedatangan mereka, menyambutnya dengan berdiri di ambang pintu sambil menyunggingkan senyum sumringah.
Luqman mencium punggung tangan mamanya dengan takzim. Setelah itu diikuti oleh Clara. Kedua wanita itu saling berpelukan erat.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Tante?" Clara bertanya duluan, di sela-sela isak tangisnya.
"Alhamdulillah, kabar Tante baik. Kamu juga kan, Clara?"
Clara menganggukkan kepalanya, karena lidahnya serasa kelu untuk berkata. Ternyata ia benar-benar sangat rindu dengan majikannya yang baik hati.
Setelah saling berjabat, sejenak melepas rindu, dan memberikan oleh-oleh, mereka masuk ke rumah. Mama Firda langsung mengajak mereka menuju ruang makan. Luqman pun juga ikut membujuk, sehingga mau tak mau keluarga pak Andreas menerima ajakan itu.
Sang pemilik rumah kembali mempersilahkan para tamunya untuk mencicipi hidangan yang lezat itu. Clara yang sudah kangen dengan masakan mama Firda yang enak, segera menuang bestik daging sapi, acar dan beberapa sayur lainnya ke dalam piringnya. Lalu segera melahap makanannya.
"Ah, masakan Tante Firda memang selalu juara." Ocehnya sambil mengedipkan matanya. Membuat mereka yang ada di ruangan itu terkekeh.
"Hei. Kalau mamaku juara satu, mamamu juara berapa dong?" Gurau Luqman, yang membuat Clara seketika terdiam.
__ADS_1
Ia lupa, jika menyenangkan hati mantan majikannya bisa membuat mamanya cemburu. Perlahan Clara pun menoleh ke arah mamanya.
"Masakan mama tetap nomor satu. Sedangkan masakan mama Firda nomor dua. Nomor tiganya, tentu saja masakan Clara." Meralat perkataannya, diiringi senyuman yang khas. Sehingga tidak ada yang bisa marah padanya.
Mereka pun kembali menikmati makan malam itu sambil bercengkrama. Rasanya mereka sudah seperti keluarga sendiri.
Akhirnya makan malam itu selesai juga. Mereka pun juga sudah cukup lama menghabiskan waktunya untuk mengobrol. Kini saatnya keluarga pak Andreas berpamitan pulang. Ada yang hilang di hati Luqman, ketika pak Andreas berpamitan.
"Ini sudah cukup malam. Apakah tidak sebaiknya Anda menginap di sini saja? Saya tidak mau terjadi dengan keluarga Anda di jalan, karena kecapekan."
"Betul apa yang dikatakan anak saya. Sebaiknya Anda sekeluarga menginap di sini. Kami sudah menyiapkan kamarnya untuk Anda sekeluarga. Ingatlah, dulu kami juga pernah menginap cukup lama di tempat Anda lho." Mama Firda juga tidak ingin waktu dengan Clara cepat berlalu.
"Baiklah, kami setuju." Ucap pak Andreas setelah sejenak beradu pandang dan berembug dengan keluarganya. Tampak senyum mengembang di wajah mereka.
__ADS_1