Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
22. Gaji pertama


__ADS_3

Kini, sudah sebulan Mawar bekerja di rumah mama Firda. Hasil kerjanya, sudah bisa dikatakan mengalami kemajuan.


Baju yang ia cuci dengan mesin cuci, tidak sampai rusak. Hasil setrikaannya juga sudah lumayan rapi. Ia juga sudah bisa memasak sayur sop, dan tumis.


Di sela-sela waktunya, ia juga belajar membaca latin dan Arab pada mama Firda dan Luqman, jika kebetulan pria itu ada di rumah.


Hasilnya, kini sedikit demi sedikit ia sudah bisa membaca. Walaupun belum begitu lancar.


Dari segi ibadah, ia juga mulai rutin sehari lima kali menjalankannya. Walaupun do'anya juga belum begitu lancar benar. Ia juga memakai hijab untuk menutupi rambut indahnya.


Jangan ditanya bagaimana rasanya ketika Mawar memutuskan memakai hijab. Sungguh tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.


Setiap detik, ia mengeluh ini itu dan masih banyak lagi. Diam-diam jika tidak ada majikannya, ia melepaskan hijabnya karena sangat merasa gerah.


Tapi, selalu saja ketika ia melakukan hal itu, tak lama kemudian majikannya datang menghampirinya. Sehingga ia harus kembali mengenakannya.


Bangunnya juga tidak lagi kesiangan. Meskipun punya handphone baru, ia sudah konsisten untuk tidak memainkannya sebelum pekerjaannya selesai.


Bahkan setiap ia memainkan handphonenya, selalu ada mama Firda disampingnya. Agar jika terjadi apa-apa, dia bisa segera minta tolong padanya.


Dengan begitu, mama Firda juga bisa mengontrol sejauh mana pergaulan Mawar. Agar tidak jatuh ke dalam lembah hitam lagi.


Hubungan keduanya, sangat baik. Sama sekali tidak terlihat, jika hubungan itu terjadi antara majikan dan pembantu. Dan justru terlihat seperti ibu dan anak.


Mama Firda yang tidak memiliki seorang anak perempuan, menjadi lebih menyukai Mawar, dan cukup terhibur dengan kehadirannya. Karena gadis itu sangat lucu, baik, jujur dan serba apa adanya.


Gaya bicaranya yang serba ceplas-ceplos dan apa adanya itu lah yang membuat mama Firda menyukainya. Karena jaman sekarang, sangat sulit sekali mencari seseorang yang jujur sepertinya.

__ADS_1


Pagi hari itu, Mawar sudah bangun dan mulai mengerjakan tugas-tugasnya satu persatu. Yang pertama kali ia lakukan adalah, membuat sarapan untuk majikannya.


Kali ini ia membuat bubur ayam. Meskipun cukup menyita waktu, ia tetap sabar menunggu. Hingga akhirnya masakan itu sudah matang, dan siap dihidangkan.


Setelah membuat bubur ayam, Mawar mengerjakan tugasnya yang lain. Tanpa ia sadari, jika jarum jam telah menunjukkan pukul delapan pagi. Dan majikannya telah keluar dari kamarnya.


Mama Firda mengecek seluruh pekerjaan yang dikerjakan Mawar pada pagi hari itu. Wanita itu pun mengulas senyum, karena pekerjaannya bertambah bagus.


Setelah itu, mama Firda mencoba mencicipi bubur ayam buatan Mawar.


"Enak juga." desisnya.


**


Sedangkan di dalam kamar, Luqman tengah bersiap-siap.


Bugh...


Kaki Luqman tersandung gagang pel, sehingga membuatnya terjatuh dalam posisi tertelungkup.


"Aduh." gumam Mawar sambil meringis. Sedangkan yang terjatuh, wajahnya tampak memerah menahan sakit.


"Bukan salah Mawar ya, mas. Lantai habis di pel kan memang licin. Salah sendiri, kenapa mas Luqman tidak tes lantainya dulu." cerocos gadis itu, sambil membantu Luqman berdiri.


"Tidak sakit kan, mas?" Mawar mengecek kondisi Luqman dengan seksama.


Pria itu merasa dadanya berdenyut aneh, ketika Mawar berbuat seperti itu padanya.

__ADS_1


"Ma-Mawar, aku tidak apa-apa." ucap Luqman, dengan suara terbata. Ia melepaskan tangan Mawar yang menyentuh permukaan badannya.


"Syukurlah, Mawar lega mendengarnya. Hati Mawar takut, kalau sampai terjadi apa-apa dengan mas Luqman."


"Takut kenapa?" Luqman yang sedang terduduk, menatap Mawar. Karena penasaran dengan jawaban dari mulut gadis dihadapannya.


"Ya Mawar takut, kalau sampai terjadi apa-apa dengan mas Luqman. Padahal Mawar belum terima gaji." kekeh gadis itu, sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Luqman menghembuskan nafas kasarnya. Ia pikir Mawar akan berkata lain, tapi ternyata malah berbicara soal gaji.


"Jangan khawatir, aku sudah menyiapkan gaji untukmu." Pria itu membuka tas kerjanya, lalu mengambil amplop berwarna putih.


"Ambilah! Ini gaji mu yang pertama." ucap Luqman, sambil menyerahkan amplopnya tadi, pada Mawar.


"Serius, mas?" tanya Mawar dengan wajah yang berbinar. Tanpa ragu, gadis itu menerima amplop itu dan mengeluarkan isinya.


"Wow! Uang." gumamnya sambil tersenyum puas.


Gadis itu seketika menghitung uang yang diberikan Luqman padanya. Lembar demi lembar, ia susun rapi di atas lantai. Setelahnya, ia menghitung seperti anak kecil.


"Itu totalnya ada tiga juga rupiah, Mawar."


"Hah, ti-tiga juta rupiah, mas?" ulang Mawar dengan terbata.


"Iya." Luqman sampai menganggukkan kepalanya.


"Kenapa banyak sekali, mas? Seumur-umur, Mawar belum pernah memegang uang sebanyak ini." ucap Mawar, setelah merapikan uangnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2