Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
76. Farida


__ADS_3

Semua orang ikut berbahagia, melihat rona bahagia di wajah Clara. Mereka paham, karena sejak kecil ia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan.


Setelah duduk sejenak, mereka berjalan beriringan mengelilingi setiap sudut taman, sampai semuanya merasa kelelahan. Lalu mereka pun memutuskan untuk singgah di sebuah kedai es kelapa muda.


Mereka duduk mengelilingi sebuah meja panjang, sambil menyeruput es kelapa muda dan menikmati makan siang dengan menu sambal belut. Walaupun hanya menu sederhana, tapi terasa begitu nikmat di lidah mereka.


Peluh sampai menetes di wajah mereka, karena menikmati sensasi perpaduan makanan yang pedas gurih dari sambal belut, dan yang dingin menyegarkan dari es kelapa muda.


Mereka yang terbiasa makan di restoran, kali ini begitu menikmati makanan yang disajikan oleh kedai makan yang tidak terlalu besar, tapi ramai pengunjung.


Setelah rasa capek hilang, dan energi kembali terisi penuh, mereka memutuskan untuk pulang.


**


Di lain tempat, seorang gadis tengah menghabiskan waktunya di dalam kamar untuk marah-marah tidak jelas. Ia meluapkan segala perasaannya, hingga mengobrak-abrik seisi kamarnya.

__ADS_1


Beberapa hari ia melakukan hal itu, hingga kedua orang tuanya bingung sendiri bagaimana cara untuk menenangkannya.


Ya, gadis itu adalah Farida. Beberapa kali ia datang ke kantor Luqman, tapi sekretarisnya selalu mengatakan hal yang sama. Pria itu masih sibuk dengan urusannya di luar kota.


Awalnya Farida memang biasa saja terhadap kegiatan yang dilakukan Luqman, mengingat pria yang ia cintai adalah orang yang super sibuk.


Tapi lama-kelamaan ia pun juga curiga. Mengingat kepergiannya ke luar kota bersama dengan mama dan pembantunya yang sok kecantikan dan norak menurutnya. Hatinya pun mulai terusik dan goyah.


Pikiran buruk berkumpul dalam benaknya. Apalagi ketika tak sengaja ia mendengar percakapan antara papanya dan seseorang yang ditugaskan untuk memata-matai Luqman.


"Harusnya gadis itu meninggal saja, agar tidak menjadi pengganggu antara aku dan mas Luqman. Harusnya dia juga berkaca, tidak ada ceritanya pembantu yang naik jabatan, jadi istri majikannya. Jika pun ada, pasti hanya dalam dongeng saja." Farida terus memaki, meluapkan kekesalannya.


Mamanya yang mendengar suaranya dari balik pintu, hanya bisa mengusap dadanya prihatin.


"Ya Tuhan, seumur-umur aku baru melihat Farida begitu frustasi seperti sekarang. Bantu hamba untuk meredamkan emosinya ya Rabb."

__ADS_1


Mama menghela nafas panjang, lalu menekan handle pintu dengan pelan. Ia memberanikan diri memasuki kamar anaknya. Wanita itu jelas tidak merasa kaget, melihat kondisi ruangan yang sudah seperti kapal pecah.


Ia mendekati Farida yang tengkurap di atas tempat tidur. Bahunya tampak terguncang, pertanda ia masih menangis. Lalu Mama pun menyentuh pucuk kepalanya pelan, sambil menyebut namanya.


"Farida, Mama tidak pernah melihatmu seperti ini. Mama jadi ikut bersedih. Kamu tahu kan, bagaimana konsep hidup sudah di atur dengan sedemikian rupa, oleh sang pencipta? Lantas, kenapa kamu masih tidak bisa menerimanya?"


Mama tidak bermaksud menyindir putrinya, tapi ia hanya ingin mengingatkan bahwa, sekeras apapun kita bertekad, jika bukan rezekinya, pasti akan terlepas juga.


Farida masih saja terisak. Otaknya masih sulit untuk menerima kebenaran, karena tertutup oleh kabut kemarahan.


"Farida, kamu adalah gadis yang baik. Dan pasti akan mendapatkan jodoh yang terbaik pula. Jangan meragukan hal itu."


"Apakah Luqman akan menjadi jodoh terbaik untuk Farida, ma?" Gadis itu menoleh dan menatap lekat wajah mamanya. Wanita yang telah melahirkannya itu menghela nafas panjang, dan mengulas senyum.


"Jika dia menjadi jodoh terbaik mu, pasti akan mendekat dengan cara yang terbaik. Dan jika dia bukan jodohmu, pasti akan menjauh dengan cara yang terbaik. Jangan pernah memasukkan jodoh sayang. Karena itu pasti akan menyiksamu. Mama akan selalu mendoakan mu, semoga jodoh terbaikmu datang tepat pada waktunya. Mama tahu, Luqman adalah seorang pemuda yang baik, bisa dikatakan dia adalah paket komplit. Tapi kamu tidak akan pernah tahu, ada laki-laki paket komplit lainnya yang terus berdoa supaya didekatkan dengan mu. Kamu harus yakin itu sayang." Mama mendekap dan mengusap kepala anaknya, berharap dia bisa sadar. Suara isak tangis Farida semakin memelan.

__ADS_1


__ADS_2