
"Pusing." Untuk yang kesekian kalinya Mawar mendesis.
Setelah beberapa detik berlalu, barulah Luqman menggeliat. Matanya membulat ketika melihat Mawar terus meracau.
"Ma-Mawar, kamu sudah sadar?" Luqman speechless, hingga ia bangkit berdiri dan tak sadar memeluk gadis itu, karena bahagianya.
"Mawar, aku senang kamu sudah sadar." Luqman meluapkan sambil terisak.
Sedangkan Mawar sendiri yang baru sadar pasca operasi, belum bisa mengingat sepenuhnya apa yang sudah terjadi.
Yang ia tahu adalah, laki-laki yang tengah memeluknya adalah majikannya dan berprofesi sebagai seorang ustadz.
Tapi kenapa memeluknya? Apakah ingin memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan? Atau kah ada unsur lain.
Karena Mawar merasakan sekujur tubuhnya sakit, maka ia hanya bisa pasrah.
"Luqman, apa yang kamu lakukan?" Suara mama Firda yang sedikit keras, membuat Luqman mendongakkan kepalanya dan menatap mamanya yang sudah berdiri di hadapannya.
"Alhamdulillah, ma. Mawar sudah sadar." Luqman tersenyum sumringah sambil menatap mamanya.
__ADS_1
Mama Firda pun menatap wajah Mawar sejenak.
"Kalau sudah sadar, cepat panggil dokter dong. Bukan malah memeluknya." Mama Firda menekan tombol nurse call. Luqman menepuk jidatnya dan baru menyadari, kesalahannya tadi.
"Maafkan Luqman, ma. Sungguh tadi tidak sengaja. Tidak seperti yang mama pikirkan."
"Mama, percaya padamu. Apa kamu menyukai Mawar? Hingga bisa berbuat seperti tadi?"
Luqman terkejut dengan pertanyaan mamanya, hingga terdiam. Dan tak lama kemudian, dokter dan perawat datang memasuki ruangannya.
Team medis segera mengecek kondisi Mawar. Sedangkan setelah meracau kesakitan, gadis itu kembali diam.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" Apa dia baik-baik saja? Kenapa ia justru kembali memejamkan matanya?" Luqman mencecar tenaga medis itu dengan pertanyaan.
"Baik, Dok."
"Apa ada yang mau ditanyakan lagi?"
"Apakah pasien bisa mengalami hilang ingatan Dok?" Luqman menatap dokter dengan serius.
__ADS_1
"Tergantung seberapa besar luka yang diderita. Ada yang mengalami gangguan ingatan, ada juga yang tidak. Dan setelah pasien kembali sadar, lewat beberapa pertanyaan yang kita berikan padanya, kita baru bisa memutuskannya."
Luqman dan mama Firda mengalihkan pandangannya pada Mawar, dan terlihat bersedih.
"Yang penting kita senantiasa terus berdo'a dan berusaha memberikan yang terbaik, agar pasien lekas sehat seperti sedia kala."
Luqman dan mama Firda menganggukkan kepalanya, menanggapi ucapan sang dokter.
Setelah tak ada hal yang diobrolkan, dokter menuju brankar di samping Mawar yang terbatas tirai. Luqman pun mengikutinya, untuk memastikan korban yang ditabraknya.
Terlihat kedua pasien yang di tabrak itu, tengah terbaring di brankar masing-masing. Dokter diikuti Luqman, menghampiri pasien laki-laki terlebih dahulu.
"Selamat pagi, Tuan." Sapa sang dokter pada pasien itu.
"Selamat pagi juga, Dok." Lirih laki-laki itu, sambil menyunggingkan senyum tipis pada sang dokter, Luqman dan perawat.
"Kita periksa dulu ya, Tuan." Dokter membenarkan letak stetoskop, lalu mengecek kondisi pasien.
"Syukurlah, semua kondisinya bagus, Tuan. Kemarin kami juga telah melakukan pemeriksaan dalam, dan tidak ditemukan luka dalam. Tapi karena ustadz Luqman, meminta untuk sementara waktu anda dan istri di rawat, maka kami tidak bisa menolak. Karena semua juga demi kebaikan bersama."
__ADS_1
"Syukurlah, Dok. Kalau begitu, kapan kami boleh pulang?"
"Hari ini, boleh pulang, Tuan."