Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
54. Penghilang penat


__ADS_3

Sementara itu, setelah menemui pak Burhan dan menyampaikan semuanya, Luqman kembali ke kantornya.


Dan setelah sampai di kantornya, ia kembali memasuki ruangannya. Niat hati ingin menyelesaikan pekerjaannya, tapi pikirannya masih belum bisa di ajak bekerja sama.


Tak berapa lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Luqman pun mempersilahkan masuk.


"Masuk." Titahnya.


Terlihat sekretarisnya tersenyum sambil membungkukkan badannya, sebelum berjalan menghampirinya.


"Maaf, tuan. Ini ada surat dari perusahaan Kencana Text." Amel menyodorkan amplop putih di meja Luqman.


"Oh ya, kapan datangnya?" Luqman mengernyitkan dahi sambil meraih amplop itu dan perlahan mengeluarkan isinya.


"Baru saja, tuan. Apa ada yang bisa saya bantu untuk hal lainnya, Tuan?"


"Tidak, Mel. Kamu bisa kembali ke ruangan mu."


"Baiklah kalau begitu, pak. Saya permisi dulu." Amel pun kembali membungkukkan badannya sebelum pergi. Dan Luqman menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Setelah kepergian Amel, Luqman mulai membaca dengan seksama deretan kalimat yang tertulis dalam surat itu.


Ia menggelengkan kepalanya karena menganggap pak Burhan bertingkah seperti anak kecil. Hanya gara-gara ia memutuskan perjodohan itu, tega membatalkan kontrak kerjasama. Bahkan ia menyuruh Luqman untuk segera melunasi seluruh biaya bahan baku yang sudah di kirim.


Luqman menyenderkan punggungnya di kursi sambil menghirup nafas dalam-dalam. Walaupun nantinya ia harus mencari supplier kain yang bagus, tapi tidak mengapa. Asal ia merasa tidak berhutang budi atau menanggung beban perasaan lainnya.


Sebuah bunyi dering handphone, mengejutkan ia dari lamunannya. Terlihat nomor yang tidak dikenal yang muncul di layar handphonenya. Bergegas ia menerima panggilan itu.


Setelah saling menyapa dan mengungkapkan maksudnya, tak berapa lama kemudian panggilan itu pun berakhir. Luqman senang, karena ada panggilan untuk mengisi sebuah acara tausyiah lagi.


Mengisi tausiyah tidak hanya sekedar menyampaikan suatu perkara penting pada orang lain, tapi juga bisa menjadi motivasi untuk mengingatkan dirinya untuk terus berbuat baik.


Sebagai seseorang yang masih memegang teguh nilai-nilai kesopanan, Luqman menyampaikan permohonan maafnya pada pak Burhan.


Tak berapa lama kemudian, sekretarisnya datang memasuki ruangannya.


"Ada yang bisa saya bantu, tuan?"


"Amel, tolong suruh seorang karyawan untuk mengirim surat balasan ini ke perusahaan Kencana Text." Luqman menyerahkan amplop putih pada sekretarisnya.

__ADS_1


"Baik, tuan. Apa ada lagi?"


"Tidak ada, Amel. Kamu boleh keluar sekarang."


"Baik, tuan." Sekretaris itu pun kembali membungkukkan badannya sejenak sebelum meninggalkan ruangan bosnya.


"Tuhan, semoga Engkau ridhoi apa yang aku lakukan ini. Lebih baik aku memutuskan sekarang, daripada berakhir yang tidak baik di kemudian hari."


**


Hari mulai beranjak malam, Luqman baru saja pulang dari kantor. Seperti biasa, Mawar menyapanya dengan senyum sumringah.


Gadis itu membantu membawakan tas kerjanya. Lalu keduanya berjalan beriringan menuju sofa ruang tamu. Di sana Luqman duduk sambil melepas sepatu.


"Mas, sewa supir dong. Biar ngga kecapekan. Coba kalau Mawar bisa menyetir mobil, pasti tiap hari Mawar akan antar jemput mas Luqman."


Luqman tersenyum tipis, melihat Mawar yang begitu peduli padanya.


"Tidak perlu Mawar. Kamu di rumah saja sama mama, karena kodrat wanita memang tinggal di rumah. Do'akan saja aku agar selalu di beri kesehatan dan kekuatan."

__ADS_1


"Hem, kalau soal itu mah, tidak perlu di kasih tahu lagi. Setiap hari Mawar selalu berdoa untuk Tante Firda dan mas Luqman, agar senantiasa diberi yang terbaik. Kalian berdua itu sudah seperti keluarga baru untuk Mawar. Sekarang mas Luqman mandi dulu saja pakai air hangat, habis itu makan. Karena Mawar sudah menyiapkan makanan yang enak untuk makan malam."


Rasa penat di benak Luqman berangsur menghilang ketika mendengar celotehan Mawar.


__ADS_2