Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
73. Makan siang


__ADS_3

Mawar menggeliat bangun. Ia merasakan perutnya sedikit keberatan, karena tertindih sesuatu.


Lamat-lamat ia membuka kelopak matanya. Ia melihat bahwa yang membuatnya keberatan, adalah tangan kedua orang tuanya yang melingkar di perutnya.


Setelah itu, pandangannya beralih ke kanan dan kiri. Senyum mengembang di wajahnya, ketika melihat wajah kedua orang tuanya yang tampak tertidur pulas sambil memeluknya.


"Ya Tuhan, aku masih merasa semua ini seperti sebuah mimpi. Untuk pertama kalinya aku bisa merasakan tidur nyenyak, dalam dekapan kedua orang tua yang sangat menyayangi ku. Semoga Engkau selalu melindungi keduanya ya Tuhan. Mawar, eh Clara, sangat menyayangi keduanya." Bisik Clara sangat pelan, sambil mengusap wajah kedua orang tuanya.


Perlahan Nyonya Anita menggeliat bangun, merasakan sentuhan lembut di wajahnya. Sentuhan yang membuat dadanya begitu dingin, bagai tersiram oleh air es.


"Sayang, kamu sudah bangun?"


"Eh, maafkan Clara, ma. Sudah membangunkan istirahat mama."


Nyonya Anita tersenyum menatap putrinya.


"Tidak sayang. Mama justru senang, kamu membangunkan mama. Karena sebentar lagi sudah jam makan siang. Mama turun ke bawah dulu ya, mau mengecek apakah makan siang sudah disiapkan oleh bibi atau belum."


Belum sempat Mawar menjawab, giliran pak Andreas yang menggeliat bangun. Tentunya karena mendengar percakapan anak dan istrinya.

__ADS_1


"Apa yang sedang kalian bicarakan?"


"Eh, papa akhirnya kebangun juga. Pasti karena mendengar suara kami yang berisik." Tebak Clara.


Pak Andreas tertawa sejenak.


"Papa justru senang, bisa mendengar suara berisik seperti tadi. Karena rumah ini sudah lama sepi, tidak ada gelak tawa yang tercipta, atau sekedar berisik semata."


"Oh ya, masa sih papa dan mama tidak pernah bercanda?" Clara mengernyitkan keningnya.


"Bagaimana kami bisa bercanda, jika setiap hari yang ada di pikiran mamamu selalu tentang mu?"


Clara menghembuskan nafas berat, mendengar balasan dari papanya. Karena ternyata bukan hanya dirinya yang merasakan penderitaan selama perpisahan itu. Tapi kedua orang tuanya pun juga merasakannya.


"Aamiin." Kedua orang tuanya serempak menjawab, sambil membalas dengan sebuah usapan di wajah Clara.


"Sudah ah melo-melonya. Kita turun dan makan siang dulu yuk?" Ajak pak Andreas.


"Mama turun dulu ya. Mau memastikan apakah bibi sudah selesai menyiapkan makan siangnya atau belum." Nyonya Anita beringsut turun dari tempat tidur. Clara menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Clara, apa kamu membutuhkan sesuatu?" Tawar pak Andreas, pada putrinya setelah istrinya berlalu keluar.


"Tidak, pa." Clara menggelengkan kepalanya.


"Sebentar lagi kita kan mau makan siang. Apakah papa tidak membangunkan mas Luqman?"


"Kamu benar, sayang. Tapi papa tidak tega membiarkan kamu sendirian di kamar."


"Clara sudah sembuh kok, pa. Tidak apa-apa jika hanya ditinggal sebentar saja. Takutnya mas Luqman dan Tante Firda melewatkan makan siangnya. Clara tidak mau mereka sampai kelaparan."


"Okay, papa akan menyuruh bibi untuk memanggil mereka." Pak Andreas segera menghubungi asisten rumah tangganya, melalui telepon yang ada di atas meja dekat tempat tidur.


Setelah selesai, ia membantu Clara ke toilet untuk membersihkan diri. Kini rasa ngantuk sudah hilang, dan wajahnya kembali segar. Pak Andreas dan Clara berjalan beriringan menuju meja makan.


Sesampainya di sana, terlihat Nyonya Anita, Tante Firda dan Luqman sudah duduk mengelilingi meja makan.


Semua menoleh ke arah Clara dan papanya, ketika mendengar suara langkah kakinya yang berjalan mendekat.


"Ma, kita makan siangnya cuma sama mas Luqman dan Tante Firda saja?" Tanya Clara sambil mendaratkan diri di atas kursi.

__ADS_1


"Tentu saja sayang. Memang kita mau makan dengan siapa lagi?" Nyonya Anita menoleh pada Clara.


"Di rumah ini kan ada bibi. Kenapa mereka tidak di ajak makan siang bersama sekalian? Biasanya kalau di rumah Tante Firda, meskipun Clara di sana cuma jadi seorang pembantu, tetap di ajak satu meja."


__ADS_2