Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
21. Drama lagi


__ADS_3

Mawar menutup matanya sambil melingkarkan tangannya di pinggang Luqman, ketika mendengar mama Firda memekik. Sehingga membuat pria itu membulatkan matanya.


"Mas, tolongin Mawar." suaranya ketakutan.


"Mawar, kamu apa-apaan sih?" ucap Luqman sambil berusaha melepaskan pelukan tangan di pinggangnya.


"Mama, jangan terlalu keras suaranya. Ingat Tuhan, ma."


Mama Firda mengusap dadanya sambil mengucapkan istighfar. Sebenarnya ia tidak marah dengan Mawar. Tapi hanya sedikit syok saja, hingga akhirnya dia memekik seperti itu.


Jika seluruh bajunya robek, ia juga tidak masalah. Mengingat ia bisa mengambil berapa pun potong baju yang ia inginkan. Karena setiap hari perusahaannya memang memproduksi gamis dengan berbagai model.


"Mawar, kamu jangan bersembunyi di belakang anak Tante. Keluarlah." suara mama Firda perlahan melunak.


Mengingat mama Firda dan Luqman selama ini sudah baik padanya, membuat Mawar berani melepaskan pelukan itu, dan perlahan memperlihatkan dirinya pada mama Firda.


"Maaf, Tante. Sungguh, Mawar tidak sengaja melakukan hal itu. Tadi habis putar tombolnya, terus Mawar tinggal membersihkan seluruh ruangan dengan sedot debu. Saat sudah selesai, Mawar melihat bajunya sudah seperti itu. Mawar rela dipotong gaji." ucap gadis itu dengan terbata-bata, karena menyiratkan ketakutan yang amat sangat.


Mama Firda suka dengan kejujuran Mawar. Sehingga ia berusaha menyunggingkan senyum, agar gadis itu tidak lagi takut padanya.


"Tante tahu, kamu pasti melakukan itu dengan tidak sengaja. Tapi tolong diingat dan diperhatikan dengan baik ya, cara mencuci baju yang benar. Untuk meminimalisir terjadinya hal yang tidak diinginkan seperti ini. Hidup adalah belajar, belajarlah untuk menjadi lebih baik lagi dalam segala hal. Entah itu sikap, sifat, pekerjaan atau yang lainnya." nasehat mama Firda bijak.


"I-iya Tante. Ini Mawar juga sedang berusaha kok. Tapi, mungkin belum kelihatan hasilnya." Mama Firda mengulas senyum tipis sambil menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, sekarang bawa seluruh baju-baju ini ke tempat sampah."


"Hah? Apa tidak sayang, Tante?"

__ADS_1


"Sudah pada robek begini. Bagaimana kita akan memakainya?"


"Kita kan bisa menjahitnya."


"Tidak usah. Nanti biar Luqman ambil dari stok perusahaan." balas mama Firda lagi.


"Enak sekali sih, jadi orang kaya. Mau baju tinggal ambil, tiap hari makan enak, mobil berjejer rapi, rumah tingkat..."


"Memang kamu mau menjadi orang kaya?" gurau mama Firda.


"Tentu saja, Mawar tidak akan menolak Tante. Kalau ada orang yang menolak kaya, fix itu pasti pasien rumah sakit jiwa yang kabur." cerocos Mawar, mulai mengeluarkan sifat aslinya.


"Ada kok orang waras yang menolak kaya."


"Hah! Siapa, mas?" Mawar menatap Luqman dengan serius.


"Siapa itu, mas? Apa dia orang yang hampir gila? Namanya saja sulit sekali untuk diucapkan?"


Akhirnya Luqman menceritakan salah satu sahabat nabi yang dijamin masuk surga itu. Yang terkenal karena kedermawanannya. Ia menyumbangkan sebagian besar hartanya di jalan Allah. Entah itu dirham, unta, kebutuhan pangan atau pun yang lainnya.


Banyaknya harta tidak membuatnya menjadi sombong, tamak, dan kikir. Tapi justru membuatnya semakin takut akan siksa yang Tuhan berikan, karena dianggap menumpuk harta.


Bahkan mungkin hanyalah dia seorang, yang berani membeli kurma busuk dengan harga normal.


Mendengar penjelasan Luqman, membuat mata Mawar membelalak dan mulutnya menganga lebar.


"Sekarang dimana orang itu berada, mas? Mawar mau minta hartanya sedikit saja, untuk beli rumah, beli mobil, sama untuk kehidupan sehari-hari."

__ADS_1


Mama Firda dan Luqman seketika menepuk jidatnya.


"Tentu saja sudah meninggal, Mawar." ucap mama Firda dan Luqman kompak.


"Alamak, belum sempat bertemu sudah meninggal duluan." kini giliran Mawar yang menepuk jidatnya.


"Mawar, kalau kita belum bisa memberi, ya jangan sampai meminta-minta. Teruslah berusaha sampai berhasil. Karena setiap usaha yang pernah kita lakukan itu, tidak akan pernah sia-sia."


"Iya-iya, mas. Mawar paham. Mawar juga sekaligus bersyukur karena sudah diterima kerja disini. Walaupun sering buat mas Luqman dan Tante Firda menahan emosi."


"Nah, itu tahu. Sekarang lihat, tante ajari sekali lagi cara mengoperasikan mesin cuci."


Mama Firda mulai memperagakan cara mengoperasikan mesin cuci sekali lagi. Dan, Mawar memperhatikan dengan seksama.


Setelah itu, dengan dipantau oleh mama Firda, Mawar mengoperasikan mesin cuci sekali lagi. Sedangkan Luqman berpamitan ke luar kota.


"Mas, belum genap seminggu Mawar disini, aku perhatikan kok kamu sibuk sekali sih? Kerjaannya keluar kota melulu. Apa ngga capek?"


Mama Firda dan Luqman menyunggingkan senyum tipis.


"Namanya kerja, ya pasti capek lah. Sudah, jangan banyak tanya lagi. Diperhatikan baik-baik itu cuciannya itu, biar tidak robek." Setelah berkata seperti itu, Luqman mencium punggung tangan mamanya, dan berlalu pergi.


"Eh, mas. Mawar lupa belum siapkan sarapan untukmu. Tunggu dulu dong."


"Tidak apa-apa. Nanti aku bisa mampir di jalan. Jaga diri baik-baik, dan titip mama ya."


"Siap." Mawar mengacungkan kedua ibu jarinya seraya tersenyum manis.

__ADS_1


__ADS_2