
"Kamu kan memang calon ibu." balas Luqman.
"Calon ibu?" ulang Mawar sambil mengernyitkan dahi sejenak, lalu terkekeh.
"Calon suami saja belum ada, sudah mikir jauh jadi calon ibu. Mas Luqman lucu deh."
Luqman dan mamanya saling beradu pandang, lalu menggelengkan kepalanya.
"Jodoh kita itu sudah ditetapkan dalam Lauhul Mahfudz, Mawar. Kamu harus percaya itu." balas Luqman lagi.
"Oh, ya. Kalau jodoh mas Luqman adalah, Mawar. Mau tidak?"
Gadis itu mengulas senyum lebar dan menaikturunkan alisnya. Tapi hal itu justru membuat Luqman salah tingkah dan menghangat wajahnya. Asisten rumah tangga itupun semakin terkekeh melihat majikannya salah tingkah.
'Kenapa memiliki asisten rumah tangga, serasa memiliki tukang lawak? Terkadang bisa menaikkan tekanan darahku dengan cepatnya. Tapi tak jarang pula ia mampu menurunkan tekanan darahku secara drastis.' batin Luqman sambil memijit pelipisnya.
"Mawar. Katanya mau niat berubah? Kenapa masih suka menggoda anak Tante?" ucap mama Firda, yang sejak tadi diam memperhatikan asisten rumah tangganya yang luar biasa.
"Maaf, Tante. Ternyata berubah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Susah sekali. Banyak godaannya. Mawar pikir, kalau sudah bertaubat itu semuanya lempeng-lempeng saja. Seperti jalan tol." keluh Mawar terlihat putus asa.
Ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat duduknya tadi sambil mendengus kesal. Dan untuk yang kesekian kalinya, majikannya tampak syok melihat tingkahnya yang absturd itu.
"Ingat Mawar. Semua orang itu, di tuntut untuk bisa berubah ke arah yang lebih baik. Tante yakin, kamu pasti bisa berubah."
"Tante kenapa bisa seyakin itu dengan Mawar? Padahal, Mawar saja tidak begitu yakin."
"Tante sudah banyak mendengar kisah para mualaf, dan juga para mantan pendosa. Awalnya mereka memang tampak ragu-ragu. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka justru menjadi orang yang lebih baik dari orang yang menolongnya."
__ADS_1
"Oh, semoga Mawar bisa menjadi seperti itu."
"Makanya kamu juga harus yakin dengan dirimu sendiri, Mawar. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin, jika Tuhan sudah berkehendak."
Mawar manggut-manggut mendengar penjelasan majikannya.
"Jangan kelamaan manggut-manggut. Cobain tuh, baju yang lainnya." titah mama Firda.
"Siap, Tante." Mawar kembali menyunggingkan senyum dan meraih tunik berwarna mustard, lalu memakainya.
"Nah, gini dong mas, kalau mau beliin Mawar baju. Agak model sedikit, jangan seperti yang pertama tadi. Mirip ibu-ibu."
"Harus mengucap syukur dulu. Jangan kebanyakan protes. Nanti kalau ngga ada yang mau belikan kamu baju gimana?" Luqman mengingatkan.
"Iya-iya." Mawar mengerucutkan bibirnya. Namun terlihat menggemaskan.
Setelah mencoba semua baju yang dibelikan Luqman, gadis itu membuka sebuah paper bag, yang berisi kotak. Sejenak Mawar membolak-balik kotak itu, lalu membukanya.
"Iya. Kamu mau aku ajari?"
"Tentu saja, mas. Biar tidak kelihatan seperti manusia primitif." balas Mawar, antusias.
Pria itu menjelaskan dengan sabar, tentang bagaimana cara pengoperasian benda pipih yang telah menjadi kebutuhan primer jutaan, bahkan milyaran orang.
Mama Firda juga ikut membantu menjelaskan, jika Mawar masih belum paham juga.
"Di dalam handphone ini, sudah aku masukkan nomor mama dan nomorku. Jadi, jika sewaktu-waktu ada apa-apa, kamu bisa menghubungi kami."
__ADS_1
"Baik, mas. Sekali lagi Mawar ucapkan terima kasih atas kebaikan mas Luqman dan Tante Firda sekeluarga ya.
"Ini kamera ya?" Mawar menunjuk gambar aplikasi kecil di layar handphone. Luqman dan mama Firda pun menganggukkan kepalanya.
"Kita berfoto yuk, Tan, mas." ajak Mawar dengan penuh semangat.
"Boleh." balas Mama Firda sambil menyunggingkan senyum.
Mawar mendekatkan wajahnya pada wajah mama Firda, lalu menyunggingkan senyum terbaik mereka. Luqman ikut tersenyum melihat keduanya yang tampak akrab sekali.
"Mas Luqman ikut berfoto juga dong." tangan Mawar bergerak menarik lengan baju majikannya. Sehingga pria itu menempel di sisi kanan mama Firda, dan Mawar berada di sisi kirinya.
Ia mencoba mengarahkan kameranya pada wajah mereka, lalu kembali menyunggingkan senyum terbaik.
"Ih, kenapa mas Luqman pasang wajah tegang sih?" celoteh Mawar, saat melihat hasil fotonya.
"Ayo, ulang lagi." ajak gadis itu.
Kali ini Luqman menuruti permintaan Mawar untuk tersenyum. Sehingga hasil fotonya terlihat jauh lebih bagus. Hal itu membuat Mawar bersorak kegirangan.
Cukup lama mereka berfoto bersama, hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Sudah malam, kita tidur dulu yuk." ajak mama Firda.
"Iya, Tante. Sekali lagi, Mawar ucapkan terima kasih pada Tante dan mas Luqman, yang sudah membelikan banyak barang-barang ini." pandangan Mawar beralih menatap ibu dan anak itu.
"Ingat, Mawar. Aku membelikan mu semua ini, agar kamu tambah bersemangat untuk berubah menjadi lebih baik. Jadi, tolong jangan kecewakan kami."
__ADS_1
"Tenang, mas. Mawar tidak akan menjadi asisten rumah tangga yang nakal kok. Handphone ini hanya akan Mawar gunakan di saat tertentu saja."
"Hem, bagus itu. Sekarang kamu cepetan tidur gih. Kalau tidur terlalu larut malam, bisa-bisa bangun kesiangan lagi." celoteh mama Firda.