Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
39. Sebuah rahasia


__ADS_3

"Tante, malam ini Mawar ijin tidur di sini ya. Mawar takut terjadi apa-apa pada Tante."


Tante Firda tersenyum melihat perhatian yang ditunjukkan oleh asisten rumah tangganya. Ia menatap wajah cantik Mawar, yang tengah duduk di tepi ranjang.


Luqman yang berdiri di ambang pintu, dan tak sengaja mendengar ucapan Mawar, juga menyunggingkan senyum.


'Kadang tingkahnya konyol. Kadang juga bersikap dewasa seperti itu. Dan anehnya, kenapa setiap ucapannya selalu menggetarkan hatiku? Apa pria yang pernah menjadi pelanggannya juga merasakan hal yang sama, seperti apa yang aku rasakan?' batin Luqman.


"Nanti kalau tidurmu terganggu, bagaimana?"


"Itu kan sudah resiko Mawar, sebagai pembantu di rumah ini, Tante." Ucapnya dengan penuh keyakinan.


"Baiklah, Tante ijinkan kamu tidur di sini."


"Terima kasih, Tante. Kalau begitu, Tante cepetan tidur gih. Mawar pijitin badannya lagi, biar perlahan rasa capek dan sakitnya hilang."


Gadis itu memijit badan majikannya dengan penuh semangat. Baginya, Tante Firda sudah di anggapnya seperti ibu kandung sendiri. Karena ia yang mengajarinya ilmu tentang keyakinannya, mendidik dalam segala hal dan selalu sabar menghadapi tingkahnya.


Kedua wanita beda usia itu justru sesekali bercerita dan saling melempar canda. Luqman yang masih berdiri di ambang pintu sejak tadi, masih betah menyaksikan keasyikan yang terpampang di depan mata.


"Mas Luqman, ngapain berdiri di situ? Malu ya, mau masuk?"


"Mawar, ini kan rumah-rumah ku sendiri. Kenapa harus malu coba." Balas pria itu, sambil berjalan mendekat. Lalu ia pun duduk di tepi ranjang yang satunya. Jadilah ia dan Mawar saling beradu punggung.

__ADS_1


"Ma, Luqman tidur di sini ya. Nemenin mama."


"Eh, mama sudah terlanjur mengijinkan Mawar tidur di kamar mama."


"Yah." Luqman menampakkan wajah sendunya. Karena kalau cepat dengan asisten rumah tangganya.


Malam kian larut, mama Firda sudah tidur sejak tadi. Hanya tersisa Mawar dan Luqman yang masih terjaga.


"Mas, buruan keluar gih. Mawar mau tidur."


"Eh, iya." Balas Luqman, tampak cengo.


Tak pernah sekalipun pria itu menunjukkan wajah cengo nya seperti sekarang, pada orang lain. Dan hanya Mawar lah yang bisa membuatnya seperti itu.


Akhirnya Luqman keluar kamar, setelah sebelumnya mengecup kening mamanya dan merapikan selimutnya.


Setelah kepergian majikan laki-lakinya, Mawar menatap majikan perempuannya. Ia pun melakukan hal yang sama, seperti apa yang dilakukan oleh majikan laki-lakinya. Yakni mengecup kening mama Firda.


"Semoga cepat sembuh ya, Tan. Mawar sayang sekali dengan, tante."


Setelah berbisik, Mawar mulai merebahkan diri di atas sofa, lalu memejamkan matanya.


**

__ADS_1


Sementara itu di tempat yang tak jauh dari kediaman Luqman, yakni kediaman pak Burhan.


Pria itu tampak menyunggingkan senyum, ketika mendapat kabar bahagia dari salah satu anak buahnya yang tersebar di berbagai tempat. Yang mengabarkan tentang seluk-beluk Mawar.


Sungguh pria itu tidak habis pikir, mau-maunya Luqman menerima gadis seperti dia. Ia pun berniat mengatakan hal itu padanya, nanti saat bertemu.


"Pa, kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Farida, mengejutkan papanya yang terlihat seperti orang yang bahagia karena mendapat durian runtuh.


"Duduklah, Farida." Titah pak Burhan, yang melihat anak gadisnya sedang berdiri di belakangnya sambil mengalungkan tangan di bahunya. Gadis itu pun menurut, ia duduk di sofa samping papanya.


"Ada apa sih, pa? Kelihatannya serius sekali." Tanya Farida penasaran.


"Lihatlah." Pak Burhan menyodorkan handphonenya pada Farida. Dengan ragu, gadis itu menerimanya dan melihat informasi yang ada di dalamnya.


"A-apa artinya ini, Mawar adalah seorang wanita tuna u


susila?" Farida menutup mulutnya seakan tidak percaya.


"Sebut saja dia wanita penghibur." Imbuh pak Burhan.


"Berarti ada kemungkinan, jika dia itu bekerja di rumah mas Luqman, karena ia sengaja ingin mendekati majikannya dengan sikap polosnya itu?"


"Hem." Pak Burhan menarik kedua bibirnya.

__ADS_1


"Tidak akan ku biarkan dia melakukan hal itu. Aku harus mengatakan hal ini pada, mas Luqman." Tegas Farida.


Pak Burhan menatap penuh senyum pada putri semata wayangnya. Ia ingin agar perjodohan anaknya dengan Luqman bisa terlaksana.


__ADS_2