
Mawar berfoto bersama Luqman dengan berbagai gaya. Keduanya tampak serasi, sehingga banyak yang menyangka jika keduanya adalah sepasang kekasih. Apalagi tadi keduanya berangkat bersama.
Setelah melayani foto bersama, Luqman berpamitan pulang. Setelah ia dan rombongannya masuk ke mobil, beberapa orang yang melihat kepergiannya melambaikan tangan ke arahnya.
Luqman membalasnya dengan senyuman, sedangkan Mawar justru ikut membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan.
"Sampai bertemu lagi." teriak Mawar dengan antusias.
Mama Firda dan Luqman selalu di buat tersenyum oleh tingkah gadis itu.
Setelah mobil bergerak meninggalkan pelataran masjid, Mawar membuka galeri handphonenya. Ia melihat fotonya bersama Luqman, sambil senyum-senyum sendiri.
"Betul juga sih apa kata ibu-ibu tadi. Aku dan mas Luqman benar-benar kelihatan serasi sekali. Ah, andaikan aku masih diberi jodoh oleh Tuhan. Aku ingin memiliki jodoh seperti mas Luqman. Sudah tampan, mapan, bisa berceramah dengan baik, mamanya juga baik, paket komplit banget. Tuhan, semoga Engkau dengar dan Engkau kabulkan doaku. Beri aku satu saja paket komplit seperti mas Luqman." gumam Mawar.
Sekali lagi kedua majikannya itu tersenyum sambil geleng-geleng kepala, mendengar doa dari mulut gadis itu.
"Mawar, Mawar. Kalau berdoa itu cukup pelan saja, atau kalau perlu di batin. Kalau suaranya keras seperti itu, apa ngga malu sama kami yang mendengar?" tanya mama Firda.
"Justru, biar Tante ikut mengaamiinkan doa Mawar."
"Ya Allah, rahang Tante sampai sakit, gara-gara sering menertawakan mu."
__ADS_1
"Tante, bukannya mengaamiinkan malah menertawakan sih. Jadinya kualat kan."
Luqman merasa kehadiran Mawar memberi warna yang berbeda dalam hidupnya. Kediamannya semakin riuh penuh canda tawa, walaupun ada beberapa hal yang membuatnya jengkel juga. Tapi semua itu justru menjadikan dia tampak berbeda.
Ia merasa beruntung, dipertemukan dengan Mawar. Selain membantu pekerjaan rumah, mamanya juga ada temannya.
Di tengah perjalanan, Luqman membelokkan mobilnya menuju sebuah restoran. Ketika Mawar menyadari hal itu, ia terlihat panik. Karena sudah bisa menebak, berapa banyak uang yang akan dihabiskan untuk mengisi perut di tempat itu.
"Mawar, ayo turun." ajak Luqman, ketika melihat gadis itu masih diam di tempat. Sedangkan dirinya dan mama sudah keluar dari mobil.
"Tidak, Mawar menunggu di dalam mobil saja." gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Tenang, anak Tante yang akan membayarkan total tagihan makannya nanti." Mama Firda mengulas senyum, ia tahu apa yang ada di pikiran gadis itu.
"Tapi, Tante..."
"Tidak ada tapi-tapian, ayo segera keluar dari mobil."
Mawar dengan berat hati keluar dari mobil. Ia merasa tidak enak, jika terus merepotkan majikannya. Tapi ia juga tidak bisa menolak ajakan mereka.
Rombongan Luqman bergerak memasuki restoran. Mereka bertiga berjalan menuju ke saung yang ada di kedua sisi restoran.
__ADS_1
Mama dan Luqman memang menyukai tempat yang bergaya pedesaan, karena terkesan adem di hati dan pikiran.
Tak lama kemudian, pelayan datang membawa buku menu makanan. Pasangan ibu dan anak itu segera memilih menu untuk makan siang keduanya. Sedangkan Mawar justru tampak diam saja.
"Mawar, kamu mau pesan apa?" tawar mama Firda.
"Terserah Tante saja. Tapi jangan mahal-mahal."
Mama dan Luqman tersenyum tipis, lalu memesan beberapa menu makanan untuk mereka.
"Mawar, kamu itu selalu saja begitu." ucap mama Firda.
"Tidak apa-apa, Tante. Saya sudah dibantuin harus tahu diri juga."
Dalam hati, Luqman memuji Mawar yang apa adanya, tidak serakah dan tidak terkesan seperti wanita murahan yang haus akan harta.
Apalagi dua kali memakai hijab, gadis itu tampak semakin cantik. Tidak terlihat jika dirinya adalah mantan wanita malam.
Tak berselang lama, makanan yang mereka pesan datang. Terdorong rasa lapar, Mawar pun segera menyantap makan siangnya.
Sesekali Luqman tampak mencuri pandang ke arah Mawar yang makan dengan lahapnya. Entah kenapa, semakin lama memperhatikannya, Luqman merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.
__ADS_1