Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
66. Di rumah sakit


__ADS_3

"Pasti sedang memikirkan gadis tadi." Tebak pak Andreas. Karena ia melihat istrinya yang tengah terdiam sambil menghadap keluar sepanjang perjalanan.


Nyonya Anita pun menoleh dan menatap suaminya sejenak.


"Apa papa tidak merasakan sedikit saja perasaan yang aneh, saat berdekatan atau pun saat bersalaman dengannya tadi?"


"Tidak." Pak Andreas menggelengkan kepalanya dengan pelan.


Tentu saja hal itu tidak sesuai dengan apa yang dirasakan dalam hatinya. Karena sebenarnya ia merasakan, tapi tidak ingin mengatakannya. Ia takut, istrinya akan berharap banyak. Luka terbesar seorang wanita, adalah kehilangan anak.


**


Keesokan paginya, pak Andreas telah menjalani rutinitas sebagaimana biasanya. Setelah menyelesaikan sarapan paginya, ia berangkat ke kantor. Istrinya, mengantarkannya sampai depan rumah.


Nyonya Anita menatap suaminya yang menghilang di balik mobil. Setelah itu, ia pun kembali masuk ke rumah. Ia mengambil tas dan mengambil kunci mobilnya. Ya, dia tidak bisa tidur semalaman, dan telah merencanakan sesuatu.


Ia berusaha tenang, saat melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Di tengah perjalanan, wanita itu menghentikan laju mobilnya di sebuah toko bunga.


Ia memesan buket bunga Mawar yang beraneka ragam warnanya. Di tangan sang karyawan toko, bunga-bunga itu tampak kelihatan semakin indah dan menawan.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, nyonya Anita kembali melanjutkan perjalanannya.


Menempuh sekitar satu jam, akhirnya ia sampai di gedung bertingkat yang sangat khas dengan aroma obat-obatan yang menguar di setiap sudut ruangan. Ia mengayunkan kakinya menuju ke ruangan Mawar.


"Assalamu'alaikum." Sapa nyonya Anita, sambil membuka pintu.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam." Balas penghuni ruangan, sambil menoleh ke arahnya.


Ketika pandangan mereka saling bertatapan, tak lupa mengurai senyuman. Nyonya Anita menyalami penghuni ruangan satu persatu.


"Bunga Mawar untuk Mawar." Istri dari pak Andreas menyerahkan bucket bunganya pada Mawar.


"Terima kasih, Tante." Mawar menyunggingkan senyum sambil menghirup aroma wangi yang menguar dari bucket yang ia pegang.


"Silahkan duduk, Sis." Mama Firda mempersilahkan nyonya Anita duduk di sofa.


"Terima kasih, tapi saya duduk di sini saja." Nyonya Anita duduk di kursi yang ada di dekat Mawar. Akhirnya Luqman bangkit berdiri, dan mempersilahkan mamanya duduk di kursinya.


"Bagaimana keadaanmu, Mawar?"


"Maa syaa Allah, Tante salut denganmu. Kamu begitu optimis."


"Ya memang hidup itu harus selalu optimis, Tante. Agar semua terasa mudah untuk dilalui."


"Betul sekali apa katamu. Tante suka sekali dengan sifat mu itu." Nyonya Anita menyunggingkan senyum yang lebar pada Mawar.


"Tante bawa kue untukmu. Mau coba ngga?" Nyonya Anita mengingatkan Mawar tentang kue yang ia taruh di atas nakas tadi.


"Boleh deh, Tante."


Nyonya Anita meraih paper bag yang ia bawa tadi, lalu mengeluarkan isinya. Setelah itu, ia menyuap sepotong kue ke mulut Mawar.

__ADS_1


"Enak tidak?"


"Enak sekali, Tante."


**


Cukup lama nyonya Anita bercakap-cakap dengan Mawar, mama Firda dan Luqman. Hingga hari hampir siang, barulah ia berpamitan pulang.


"Tante, pamit pulang dulu ya. In shaa Allah besok akan kembali ke sini lagi."


"Iya Tante. Terima kasih sudah dijenguk dan dibawakan bunga serta kue yang enak."


"Tidak perlu mengucapkan terima kasih. Tante senang bisa melakukan semua ini untukmu."


Nyonya Anita kembali menyalami mama Firda dan Mawar, sebelum ia keluar dari ruang perawatan itu. Saat ia keluar, kebetulan sekali berpapasan dengan seorang dokter yang hendak mengecek keadaan Mawar.


"Dok, bolehkah saya meminta tolong sesuatu pada Anda?"


"Tentu saja boleh, nyonya. Kira-kira apa yang bisa saya lakukan untuk anda?"


Nyonya Anita mengutamakan keinginannya pada pria berjas putih itu, secara panjang lebar.


"Baiklah, saya akan berusaha melakukannya untuk nyonya."


"Terima kasih, Dokter."

__ADS_1


__ADS_2