Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
49. Keputusan Luqman


__ADS_3

Di kediaman pak Burhan. Setelah kepergian Luqman, ia menarik badannya masuk ke rumah.


"Pa, kenapa lama sekali? Apa papa sudah membicarakan perjodohan itu dengannya? Lalu apa yang mas Luqman katakan, pa?"


Farida tiba-tiba keluar dari balik kongliong penghubung antara ruang tamu dengan ruang keluarga, yang membuat pak Burhan terkejut, dan memberondongnya dengan pertanyaan. Pak Burhan mendadak bingung, bagaimana ingin menjelaskan pada Farida.


"Kenapa diam saja, pa? Apa mas Luqman tidak menyukaiku?"


Wajah Farida yang tadi tampak sumringah perlahan memudar, sehingga membuat pak Burhan kasian melihatnya.


"Bukan begitu sayang. Tapi dia hanya belum siap saja untuk menikah."


"Serius, pa?"


"Iya." Pak Burhan menganggukkan kepalanya. Senyum di wajah Farida yang tadi sempat memudar kini kembali lagi.

__ADS_1


"Tidak masalah, pa. Farida akan menunggunya. Kalau begitu, Farida bantuin mama dan bibi beberes lagi ya." Pak Burhan menganggukkan kepalanya sekali lagi.


Setelah kepergian Farida, pak Burhan duduk di sofa ruang keluarga sambil memijit pelan pelipisnya.


"Farida kelihatan bahagia sekali, Burhan. Apa Luqman sungguh menyukainya?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Fahmi? Tentu saja iya. Keduanya akan segera menikah. Aku akan mendapatkan menantu paket komplit. Karena tidak hanya tampan, pekerja keras, tapi juga seorang ustadz." Pak Burhan berkata dengan senyum jumawa. Padahal ia sedang berbohong.


"Pasti aku akan sangat iri denganmu, karena kau sangat beruntung." Fahmi yang merupakan saudara pak Burhan terkekeh.


Pak Burhan pun hanya menyunggingkan senyum tipis, dan tidak berkata apa-apa lagi.


Namun sampai malam menjelang, ia tidak bisa tidur, karena membayangkan wajah Luqman. Ia bahagia mendengar apa kata papanya tadi.


**

__ADS_1


Semalaman Luqman tidak bisa tidur, gara-gara memikirkan ucapan pak Burhan.


Di satu sisi ia sangat menyayangi almarhum papanya. Tapi di sisi lain, ia benar-benar tidak menyukai perjodohan itu.


Ia takut jika nekat menerima perjodohan itu, maka akan berimbas dalam hubungan rumah tangganya dengan sang istri.


Ia bersyukur, mamanya menyerahkan semua keputusan padanya, dan tidak mendesaknya.


**


Keesokan paginya, Luqman tetap melakukan aktivitasnya sebagaimana biasanya. Jika terus memikirkan masalah semalam, maka akan membuatnya kehilangan semangat.


Hampir satu jam Luqman berolahraga. Terdorong rasa haus, ia mengambil air di dalam kulkas dan meneguknya sambil duduk di kursi makan. Tak lupa ia menghubungi pak Burhan untuk mengajaknya bertemu nanti siang.


Sambil menunggu balasan pesan dari pak Burhan, Luqman masih betah memainkan handphonenya. Dan di ruangan yang sama itu, Mawar tengah menyiapkan sarapan pagi.

__ADS_1


Aroma masakannya yang begitu harum, membuat perut Luqman keroncongan dan ingin mencicipinya.


'Heran, sekarang Mawar pintar sekali memasak. Aromanya selalu berhasil membuatku tergoda. Tidak seperti dulu yang selalu membuatku dan mama gemas. Jika sejak dulu dia lahir dan dalam pengasuhan yang tepat, pasti dia akan jadi gadis sangat baik. Sekarang saja dia sudah baik. Sholatnya bagus, bahkan tidak hanya sekedar melaksanakan sholat wajib saja, tapi sholat sunah pun juga ia kerjakan. Lhoh, tunggu sebentar. Kenapa aku jadi sering memujinya? Ada apa denganku? Aku tidak pernah memuji Farida, tapi malah memuji Mawar. Tidak, tidak mungkin aku menyukai pembantuku sendiri. Pasti ini hanya rasa kagum semata. Ya, rasa kagum semata, tidak lebih."


__ADS_2