
Setelah selesai menyuapi Tante Firda, Farida pun berpamitan pulang. Luqman mengantarkan gadis itu sampai depan rumah.
"Mas, maaf. Apakah kamu bisa mengantarkan ku pulang?"
Luqman mengernyitkan dahi sejenak. Sesungguhnya, ia mulai merasa tidak nyaman dengan Farida.
Pasalnya, setiap kali bertemu dengannya, gadis itu selalu memintanya untuk mengantarkan pulang.
Padahal, pak Burhan memiliki mobil tidak hanya satu jenis saja. Tapi anaknya kenapa selalu mengendarai kendaraan umum, dan pulangnya minta di antar.
Belum sempat menjawab, tiba-tiba saja handphone Luqman berdering. Pria itu merogoh handphone dari dalam saku celananya dan menempelkan di telinganya, ketika melihat nama sekretarisnya yang menelponnya.
"Assalamu'alaikum, Amel. Ada apa?"
"Wa'alaikumussalam, tuan. Ini ada beberapa berkas penting yang harus anda tanda tangani segera. Dan kami akan mengirim utusan dari kantor untuk ke kediaman anda, tuan."
"Oh, baiklah. Aku tunggu. Terima kasih infonya, Amel. Assalamu'alaikum."
"Sama-sama tuan, wassalamu'alaikum."
Luqman menghirup nafas lega. Rasanya ia sudah memiliki jawaban yang tepat untuk Farida. Gadis itu yang mendengar samar-samar percakapannya merasa tidak enak hati. Karena niatnya untuk bisa berdua dengan Luqman sepertinya terpaksa harus di tunda.
"Maaf Farida. Tapi sepertinya aku tidak bisa mengantarkan mu pulang, karena utusan dari kantor akan segera tiba. Kasian jika dia harus menunggu ku lama. Masih banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan nantinya. Tapi kamu tenang saja, aku akan memesankan taksi online untukmu."
"Oh, tidak perlu mas. Farida bisa memesan taksi sendiri kok."
"Oh, baiklah kalau begitu. Silahkan duduk dulu sampai taksinya datang." Luqman menunjuk kursi stollen yang ada di depan rumah. Farida tersenyum ke arahnya, sebelum akhirnya duduk di sana.
"Mas Luqman." Teriak Mawar dari dalam rumah, sambil mencari keberadaan majikannya.
'Aduh, suara gadis itu lagi. Kenapa dia seperti mengganggu ku saat berduaan dengan mas Luqman?' batin Farida merasa tidak suka dengan sikap Mawar.
__ADS_1
Kembali terdengar suara teriakan Mawar yang begitu memekakkan telinga.
"Aku di teras, Mawar."
"Telat. Mawar sudah sampai sini, mas Luqman baru menjawab." Mawar pun mengerucutkan bibirnya, terlihat menggemaskan di mata Luqman.
"Kenapa kamu teriak-teriak memanggilku seperti itu? Tidak sopan tahu. Sekarang katakan padaku, ada apa sampai kamu memanggilku seperti itu."
"Gasnya habis. Mawar belum bisa memasang gas, takut meledak. Minta tolong dipasangkan dong, mas."
Farida merasa semakin tidak suka dengan Mawar. Karena ia merasa wanita itu terlalu kegatelan.
"Iya, tapi kamu di sini saja ya. Biar Farida ada temannya."
"Maaf mas, Farida tidak perlu teman kok. Itu mobil taksinya sudah datang." Farida menunjuk sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumah Luqman.
"Oh, syukurlah. Kalau begitu kamu hati-hati di jalan ya. Mohon maaf, pintunya mau sekalian aku tutup, karena mau ke belakang dulu. Kasian Mawar tidak bisa menyelesaikan tugasnya, kalau aku tidak segera membantunya memasang gas."
Hatinya tidak terima jika Luqman seperti mementingkan pembantunya dari pada dirinya yang seorang anak direktur utama.
"Jalan, pak." Ucap Farida, ketika sudah memasuki mobil.
"Maaf, mbak. Apa mbak yang bernama Lidya?" Supir itu menoleh dan bertanya dengan hati-hati.
"Bukan, kenapa memangnya pak?"
"Oh, maaf. Berarti anda memasuki mobil taksi yang salah. Karena saya kesini atas pesan dari nona Lidya."
"Ma-maksud bapak bagaimana? Saya di suruh turun dari mobil gitu?"
"Iya, non."
__ADS_1
Sopir itu mengiyakan pertanyaan Farida dengan raut wajah tidak enaknya. Sehingga membuat Farida semakin bertambah kesal.
"Saya bayar bapak dua kali lipat. Asalkan bapak mau jalan sekarang." Farida melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menyandarkan tubuhnya di jok belakang.
"Sekali lagi, maaf nona. Peraturan tetaplah peraturan. Saya juga takut jika customer saya akan memberikan penilaian yang buruk pada hasil kerja saya."
Dengan mendengus kesal, Farida akhirnya keluar dari mobil taksi. Dan menunggu pesanan taksinya datang.
Dan tak lama kemudian, seorang wanita yang terlihat keluar dari rumah samping Luqman, memasuki mobil taksi yang sempat ia masuki tadi.
"Oh, Tuhan. Kenapa hidupku jadi menyebalkan seperti ini setelah bertemu dengan gadis itu?" Gumamnya pelan.
Setelah menunggu sekian menit, akhirnya mobil taksi yang di pesan Farida datang. Ia pun segera masuk dsn menghempaskan tubuhnya di sana.
**
"Farida, kenapa mukamu seperti baju kusut?" Tanya pak Burhan, pada putrinya yang baru saja sampai di kantor.
Dengan kesal, Farida pun menjelaskan pada papanya tentang hal yang baru saja terjadi di kediaman Luqman.
"Wajar saja hal itu terjadi, Farida. Mawar kan sudah berpengalaman dalam menjinakkan setiap pria. Kamu bisa menirunya dalam mendekati Luqman."
Farida membuang nafas kasar dan mendengus kesal. Tapi dalam hati, ia membenarkan juga ucapan papanya.
Jika mantan kupu-kupu malam saja bisa mendekati Luqman dengan cara yang halus. Lalu kenapa dirinya yang sudah terkenal alim, tidak bisa melakukan hal yang sama?
Gemerlap dunia memang bisa merubah manusia, dari buruk menjadi baik, ataupun sebaliknya. Dan mungkin hal itu terjadi pada Farida.
Gadis yang di anggap sholihah, merupakan lulusan salah satu universitas luar negeri terbaik, selalu menundukkan pandangannya pada setiap laki-laki, senantiasa bertutur lemah lembut, tidak pernah berbohong, tapi kini hatinya perlahan mulai digerogoti penyakit hati.
Maka dari itu, jangan pernah menyepelekan seseorang karena masal lalunya yang buruk. Karena bisa jadi, seseorang yang memiliki masa lalu buruk, belum tentu selamanya akan buruk.
__ADS_1
Dan belum tentu juga, seseorang yang selalu memiliki akhlak baik, maka sepanjang hidupnya akan terus berbuat kebaikan. Karena Allah lah dzat yang maha membolak-balikkan hati manusia.