Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
60. Sebuah perkembangan


__ADS_3

"Tapi pa, kamu belum melihat..."


"Ma, cukup! Ada orang lain di dekat kita."


"Maaf Pak, Bu, sepertinya kedatangan saya kesini kurang tepat. Intinya saya ingin memohon maaf, karena sudah membuat bapak dan ibu menjadi seperti ini. Maka dari itu, saya akan menanggung semua biayanya."


Luqman bangkit dari duduknya berniat pergi, karena merasa tidak enak, kehadirannya sudah mengganggu pasangan suami-istri dihadapannya.


"Iya, silahkan. Terima kasih, karena sudah mau bertanggung jawab pada kami. Dan tolong, berhati-hatilah dalam mengendarai mobil. Karena bisa mengakibatkan orang lain menderita. Kalau hanya luka ringan, mungkin masih tidak mengapa. Tapi bagaimana kalau sampai mengakibatkan kematian pada korban?"


"Iya pak. Ke depannya saya akan lebih berhati-hati lagi. Terima kasih sudah diingatkan."


Luqman bangkit berdiri dan berjalan menuju brankar Mawar, yang hanya di batasi tirai. Pria itu kembali duduk di samping gadis itu dan menatap wajahnya lekat.


"Luqman, apakah mereka memarahi mu?"


"Tidak, ma. Mereka sangat baik. Aku bersyukur, mereka masih memiliki empati yang tinggi."

__ADS_1


"Syukurlah, mama lega mendengarnya." Mama Firda menghirup nafas panjang, sambil menyunggingkan senyum tipis. Sedangkan pandangan Luqman, kembali terfokus pada Mawar.


"Mawar, kenapa kamu tidak kunjung membuka matamu. Apa kamu marah padaku?" Luqman berbisik pada asisten rumah tangganya, lalu menjatuhkan kepalanya di sampingnya.


Mama Firda yang tadi tersenyum tipis, kembali bersedih karena melihat anaknya yang sedang berada dititik terendahnya.


"Luqman, jangan berbicara seperti itu. Mama kembali sedih mendengarnya. Ayolah, kita selalu berdo'a untuk kebaikan bersama."


Mama Firda mengusap kepala putra satu-satunya dengan penuh kelembutan.


Mama Firda lega, melihat anaknya itu bisa sejenak mengistirahatkan badan dan pikirannya.


**


Sementara itu di tempat samping, pasangan suami-istri itu masih terlibat cekcok. Bukan tanpa sebab keduanya bersikap seperti itu.


Masing-masing mempertahankan keyakinannya yang merasa paling benar. Hingga akhirnya sang suami yang tidak tega melihat sang istri bersedih, lalu memeluknya.

__ADS_1


"Maafkan papa, ma. Papa hanya tidak ingin melihat mama kembali kecewa, karena mengetahui fakta yang sebenarnya. Mama ingatkan, begitu banyak kita menaruh harapan yang besar, ketika mendapat sebuah kabar. Tapi apa hasilnya? Tidak ada satu pun dari kabar itu yang benar adanya." Dengan lembut laki-laki itu mengusap punggung istrinya yang terlihat berguncang, karena mulai terisak.


"Terlepas dari itu semua, apakah mama boleh melihat gadis itu. Kasian kan pa, dia sepertinya terluka parah." Sang istri mengurai pelukan dan menatap suaminya. Pria itu menghela nafas panjang, lalu menggelengkan kepalanya.


"Terserah mama saja." Sepenggal kalimat yang keluar dari bibirnya. Karena ia sudah kewalahan menghentikan aksi istrinya untuk menemukan putrinya yang telah hilang, berpuluh-puluh tahun silam.


"Terima kasih, pa." Seulas senyum terpancar di wajah sang istri. Suaminya hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.


**


Waktu telah menunjukkan waktu subuh. Mama Firda berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Lalu sembahyang disamping Mawar. Sedangkan Luqman masih pulas tertidur di dekat lengan gadis itu.


Sebuah perkembangan yang baik terjadi. Perlahan bola mata Mawar bergerak, seolah-olah akan segera terbuka. Sedangkan jemarinya perlahan juga mulai bergerak.


"Sakit..." desis gadis itu pelan, dan Luqman belum menyadarinya.


Tangan Mawar terus bergerak pelan, hingga tak sadar mengusap kepala Luqman. Pria itu semakin nyaman dengan usapan itu, karena ia pikir yang mengusap kepalanya, adalah mamanya.

__ADS_1


__ADS_2