
Kini mama Farida sudah sembuh, Luqman pun bisa berangkat ke kantor dengan tenang. Sesampainya di kantor, pria itu menyibukkan diri dengan tugasnya.
Di tengah ia melakukan aktifitasnya, pak Burhan menelponnya. Ternyata ia hanya ingin meminta kepastian tentang janjinya yang akan menjadikan Farida sebagai model bajunya.
Luqman menghela nafas, lalu meminta waktu sejenak. Karena karyawannya harus mempersiapkan segala sesuatunya.
Setelah panggilan berakhir, Luqman segera menyuruh karyawannya untuk mempersiapkan segala sesuatunya tentang pemotretan untuk hasil produksi baju yang selanjutnya.
**
Farida berangkat ke kantor Luqman dengan perasaan bahagia yang sulit untuk diungkapkan. Sepanjang perjalanan, terlihat ia senyum-senyum sendiri.
Ya, gadis itu baru saja mendapat kabar dari papanya. Bahwa, Luqman menyuruhnya datang ke perusahaannya, untuk pemotretan.
"Assalamu'alaikum." Farida membuka pintu ruangan Luqman, dan berjalan masuk mendekati meja kerjanya.
"Wa'alaikumussalam. Silahkan duduk."
"Terima kasih, mas."
"Tunggu sebentar ya. Aku menghubungi sekretarisku dulu."
Setelah Farida menganggukkan kepalanya, Luqman menghubungi sekretarisnya. Dan setelah panggilan berakhir, terlihat seorang wanita masuk ke ruangan Luqman.
Sekretaris itu mengantarkan Luqman dan Farida menuju ruang pemotretan. Luqman menyuruh Amanda Rico melakukan tugasnya sebagaimana biasanya.
Farida dipersilahkan menuju ruang make up, dan Amanda pun mulai merias wajahnya.
__ADS_1
Sekian jam berselang, Amanda sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Farida keluar dari ruang rias dengan penampilan barunya sambil menyunggingkan senyum tipis.
Meskipun penampilannya baru, tapi ia tetap terlihat biasa saja di mata Luqman dan kedua karyawannya. Berbeda dengan Mawar yang tampak manglingi.
"Rico, arahkan Farida untuk melakukan tugasnya." Titah Luqman.
"Baik, tuan."
'Kenapa mereka semua tidak ada yang memujiku? Apa dandananku kurang menarik? Tapi kalau dandani kurang menarik, jelas salah MUA nya dong, bukan aku.'
"Mbak, silahkan ke tempat pemotretan." Rico mempersilahkan Farida.
Gadis itu mengangguk, lalu berjalan ke tempat yang dimaksud. Ia pun mulai bergaya sesuai arahan Rico.
Namun tidak seperti halnya Mawar yang sangat luwes dalam bergaya. Sudah beberapa kali Rico mengarahkan Farida, tapi gayanya terlihat biasa saja. Senyum yang diperlihatkan kurang natural, kurang ceria.
"Mbak, tolong senyumnya lebih ceria lagi ya. Agar sesuai dengan kostum yang anda pakai. Ini temanya olahraga."
Meskipun sudah berusaha, hasilnya pun sama saja. Kebanyakan foto Farida kurang bisa tersenyum natural. Karakter yang dibangun tidak sesuai dengan kostum yang di pakainya.
Akhirnya proses pemotretan itu selesai juga. Farida berganti pakaian dan setelah itu mendekati Luqman dan Rico, yang tengah menatap layar kamera.
"Bagaimana hasilnya, mas?"
"Ini senyumnya terlalu sedikit. Kurang lebar mbak. Nah, kalau pas ini. Senyumnya juga kurang natural." Rico menjelaskan satu persatu setiap hasil fotonya.
"Em, wajar sih mas. Ini kan baru pertama kalinya saya melakukan pemotretan. Kalau sudah berulang kali, mungkin tidak akan seperti ini."
__ADS_1
Luqman dan Rico menganggukkan kepalanya, menerima alasan dari Farida. Walaupun dalam hati keduanya juga membandingkan dengan Mawar yang begitu lihai dalam menjalankan tugasnya kemarin. Padahal ia juga sama-sama baru pertama kalinya melakukan pemotretan.
Hari sudah sore ketika pemotretan selesai. Seperti yang sudah di duga oleh Luqman, Farida memintanya untuk mengantarkannya pulang.
"Farida, sopir perusahaan ini akan mengantarkan mu pulang. Karena saya masih ada urusan penting."
Farida terlihat masam, karena lagi-lagi gagal untuk bisa berduaan dengan Luqman.
"Baik, mas. Terima kasih sudah menyiapkan segala sesuatunya untukku. Sehingga membuatku jadi terharu." Namun nyatanya, lisannya tidak bisa mengungkapkan kekecewaan di hatinya.
**
Tiga bulan telah berlalu,
Produk fashion hasil perusahaan Luqman telah memasuki pasar di negerinya. Atas usahanya, dan bantuan dari rekan-rekan bisnis, serta iklannya, membuat produknya cepat menyebar luas.
Foto Mawar yang banyak di pasang di berbagai jalan, menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wanita.
Mereka yang awalnya tidak berselera memakai pakaian muslim, kini mulai tertarik dan mencoba memakainya.
Sehingga banyak orang yang merasa cocok dengan pakaian muslim dari perusahaan Luqman. Selain harganya miring, bahan yang digunakan juga sangat bagus, sehingga membuat nyaman saat dikenakan.
Selain itu modelnya juga tidak pasaran. Karena memang setiap model hanya di produksi beberapa ribu pcs saja.
Bulan itu, Luqman benar-benar meraup untung yang tidak sedikit. Ia sangat bahagia atas pencapaiannya itu.
Sepulangnya dari kantor, ia mampir ke sebuah toko perhiasan. Ia ingin membelikan hadiah untuk Mawar dan mamanya.
__ADS_1
Luqman memilih cincin bermata biru untuk mamanya. Sedangkan untuk Mawar ia memilih cincin dengan bentuk bunga Mawar dan ditengahnya bermata pink.
"Semoga kalian berdua menyukai hadiah dariku." Gumamnya sebelum melajukan mobilnya.