Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
9. Pekerjaan pertama


__ADS_3

Karena semalam Mawar tidak bisa tidur, akhirnya ia kini masih tidur pulas. Padahal jarum jam telah menunjukkan pukul delapan pagi.


"Mawar."


Mama Firda mengetuk pintu kamar Mawar berulang kali, tapi tetap tidak ada jawaban. Akhirnya ia pun pergi meninggalkan kamar itu, dan mengerjakan pekerjaan rumah, yang sama sekali belum disentuh oleh Mawar.


Tak berselang lama setelah mama Firda pergi, terlihat Mawar menggeliatkan tubuhnya, lalu perlahan matanya mengerjap. Matanya menyipit sambil melihat ke arah jam dinding.


"Apa! Jam delapan pagi?" pekiknya sambil terduduk.


"Gawat, bisa dimarahi Tante Firda dan mas Luqman ini." gumamnya sambil melompat dari tempat tidurnya. Lalu menarik gagang pintu, ingin keluar dari kamar.


Brugh...


Karena tergesa-gesa Mawar menubruk Luqman, yang kebetulan melintas di depan kamarnya. Karena ingin mengambil air minum. Ia kehausan setelah melakukan olahraga pagi.


Luqman begitu syok, karena tiba-tiba Mawar menubruknya dan jatuh tepat di atas tubuhnya.


Ternyata tidak hanya Luqman saja yang syok, Mawar pun juga syok. Keduanya saling beradu pandang cukup lama dengan pemikiran yang tidak seorang pun tahu.


"Luqman, Mawar. Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya mama Firda, dengan suara yang cukup keras. Sehingga membuat keduanya terkejut. Lalu segera berdiri.


"Ma-maafkan saya, Tante. Saya tidak melakukan apa-apa. Ta-tadi saya keluar kamar sambil berlari, dan tidak sengaja menabrak mas Luqman."


Mawar begitu ketakutan, jika mama Firda akan mengusirnya. Bayangkan saja, baru mulai kerja, sudah dipecat.

__ADS_1


Mama Firda pun mendekati keduanya, dan menasehati Mawar.


"Mawar, kamu kalau keluar kamar, sebaiknya pakai baju yang sudah saya beri kemarin. Tapi kalau di dalam kamar, terserah kamu mau pakai baju apa."


"Baik, Tante. Sekali lagi maafkan Mawar ya, Tan." balas Mawar sambil menunduk.


"Iya, sekarang kamu ganti baju dulu."


Mawar pun masuk kamar, setelah sempat melirik penampilan Luqman yang sungguh Maco.


Bayangkan saja, kala itu ia memakai celana pendek training warna hitam dan kaos oblong tanpa lengan berwarna dark grey. Dan kaosnya itu terlihat basah karena keringat yang membanjiri tubuhnya. Bahkan bau keringatnya saja terasa sedap di hidung Mawar.


"Ma, benar apa yang dikatakan Mawar. Kami tidak melakukan apa-apa."


Mama menyunggingkan senyum tipis, sehingga membuat Luqman tersenyum lega.


Mama Firda berlalu menaruh penyedot debu ke dalam gudang. Sedangkan Luqman justru lupa dengan tujuannya datang ke dapur. Setelah ingat, barulah ia mengambil air minum dalam kulkas.


Sementara itu di dalam kamar, Mawar masih berdiri bersandar pintu. Ia menekan dadanya kuat.


"Perasaan apa ini? Aku sudah bertahun-tahun dalam dekapan pria, tapi belum pernah sekalipun merasakan perasaan seperti ini.


Apa Bu Nindi mengguna-gunaiku? Sehingga hidupku tidak tenang jika berada di dekat laki-laki? Haduh, gawat ini.


Apa yang harus aku lakukan? Masa iya, setiap sehari aku dilanda perasaan seperti ini? Apa aku bicara saja dengan Tante Firda atau dengan mas Luqman. Biar dia memberiku solusi.

__ADS_1


Eh, tapi badan mas Luqman tadi sungguh amazing. Kenapa dia jadi setampan itu? Aku jadi penasaran, berapa ukuran Calvin Klein nya.


Ah, Mawar. Otakmu kenapa malah berkeliaran kemana-mana?" Di ujung kalimatnya, Mawar menoyor kepalanya sendiri.


Setelah itu, ia mengganti pakaiannya dengan yang lebih sopan, lalu keluar kamar.


Saat ia keluar, ia melihat Luqman sedang duduk sambil memegang gelas berisi air dingin. Setelah kejadian tadi, Mawar belum berani menyapanya.


Ia lebih memilih segera masuk kamar mandi, dan ketika hendak menutup pintunya, barulah ia memperhatikan pria itu dengan seksama.


'Sungguh gawat, niatku ingin insyaf sepertinya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagaimana tidak? Jika setiap hari aku selalu di suguhkan dengan pemandangan yang aduhai seperti itu. Mandi sajalah sekalian. Biar otakku ini tidak ngeres melulu.' batin Mawar, lalu menutup pintunya.


Setelah selesai mandi, Mawar melakukan apa yang diperintahkan oleh mama Firda kemarin. Yakni membuat roti panggang.


"Hem, kalau hanya membuat roti panggang saja, aku rasa mudah." gumam Mawar, sambil mencari keberadaan roti di dalam kulkas.


Ia tersenyum sendiri, ketika melihat kue lapis legit yang hanya tinggal dua potong saja. Padahal kalau tidak salah, semalam kue itu berjumlah sepuluh potong.


'Ah, dasar kau Mawar. Tidak bisa bisa melihat makanan yang enak.' batinnya kembali terkekeh.


Setelah mengambil sebungkus roti tawar, ia celingukan mencari alat untuk memanggang.


"Dimana sih alat untuk memanggang roti? Aku cari kok tidak ada. Apa roti itu langsung dipanggang di atas api?"


Karena tidak kunjung menemukan alat untuk memanggang roti, akhirnya Mawar benar-benar memanggang roti itu di atas kompor.

__ADS_1


__ADS_2