
"Mama, kenapa mereka memanggil ku dengan nama Clara?" Mawar menoleh pada mamanya.
"Karena memang itu nama yang kami berikan padamu sewaktu masih bayi, sayang." Nyonya Anita membelai rambut anaknya dengan lembut.
"Maka dari itu, mulai sekarang kami akan memanggilmu dengan nama itu. Kamu mau kan?"
"Tentu saja mau, ma. Karena nama Mawar adalah nama pemberian dari orang jahat itu."
Mereka semua setuju dengan keputusan Nyonya Anita. Setelah perbincangan sejenak itu, mereka di antar ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
"Suatu kehormatan bagi kami, karena Anda mau menginap di kediaman kami. Semoga bisa beristirahat dengan nyaman." Pak Andreas membungkukkan sedikit badannya pada Luqman, saat mereka berdiri di depan pintu kamar tamu.
"Saya lah yang justru mengucapkan terima kasih pada Anda. Karena tidak memperpanjang masalah kemarin, dan sekarang justru diperkenankan singgah di kediamannya."
"Ini sebagai ucapan terima kasih kami, karena berkat kebaikan Anda dan mama Anda, putri kami menjadi pribadi yang baik. Meskipun awalnya tinggal bersama dengan orang-orang yang tidak baik."
Rasanya percakapan itu hampir tidak ada habisnya, karena mereka saling melempar ucapan terima kasih.
__ADS_1
Mawar merasakan kepalanya sedikit pusing, sehingga membuat mereka menghentikan ucapannya. Setelah itu, Nyonya Anita dan pak Andreas mengantarkannya menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
Lagi-lagi gadis itu terkejut, ketika diperlihatkan kamarnya yang begitu luas dan memiliki fasilitas lengkap.
"Ini sungguhan, kamar untuk Mawar?" Gadis itu masih mengedarkan pandangannya, menyapu seisi ruangan yang didominasi warna gold.
"Ehem..."
"Eh, maksudnya, ini kamar untuk Clara?"
"Tentu saja, sayang. Apa kamu menyukainya?" Pak Andreas ikut melingkarkan tangannya di bahu putrinya, seperti halnya yang dilakukan istrinya.
"Ayo, kamu istirahat dulu. Katanya tadi pusing. Mama tidak mau terjadi apa-apa denganmu." Nyonya Anita membimbing Clara menuju tempat tidurnya yan berukuran besar dan empuk tentunya.
"Ya ampun, bahkan ini seperti tempat tidur Tante Firda. Begitu empuk dan pastinya sangat nyaman untuk ditiduri." Celoteh Clara terlihat riang, seperti anak kecil.
Nyonya Anita dan pak Andreas tersenyum tipis mendengar celotehan putri semata wayangnya. Lalu membantunya merebahkan tubuhnya secara perlahan.
__ADS_1
"Apa kamu membutuhkan sesuatu? Biar mama minta bibi menyiapkannya." Tawar Nyonya Anita.
"Ah, bahkan kita lupa belum menunggu bibi tadi. Padahal Clara belum sempat mengenal rekan kerja bibi yang satunya."
"Mereka pasti paham, jika kamu belum sepenuhnya sehat, dan butuh banyak istirahat."
Clara hanya menganggukkan kepalanya patuh, lalu membenamkan tubuhnya dalam selimut. Setelah mamanya mengusap lembut kepalanya sejenak, tak lama kemudian ia tertidur.
Pak Andreas mengecup kening Clara dengan lembut dan penuh rasa cinta, sebelum meninggalkannya, karena ia ingin membersihkan diri.
Sedangkan Nyonya Anita, merebahkan dirinya di samping Clara dan melingkarkan tangannya. Ia ingin menikmati tidur siang bersama putrinya tercinta.
Keduanya begitu pulas tidur. Kebahagiaan mengikis secara perlahan kesedihan yang singgah bertahun-tahun dalam hidup mereka.
Tak lama kemudian, pak Andreas sudah merasakan badannya bersih dan rapi. Ia pun kembali ke kamar putrinya.
Sesampainya di depan kamar, ia menggerakkan handle pintunya pelan. Seulas senyum muncul di wajahnya, karena melihat anak dan istrinya tertidur dengan pulas.
__ADS_1
Niatnya untuk memanggil istrinya membersihkan diri dia urungkan. Bahkan ia justru ikut merebahkan dirinya di sisi kiri Clara, dan memejamkan matanya. Satu tangannya melingkar di perut mereka.
"Kami tidak bisa memelukmu di waktu kecil. Maka dari itu, sebagai gantinya kami memelukmu sekarang. Tidurlah yang nyenyak wahai putriku." Bisik pak Andreas lembut.