
Belum sempat Luqman dan mama Firda kembali ke tempat duduknya, pintu IGD terbuka.
Tampak beberapa orang perawat yang mendorong pasien pasangan suami-istri keluar dari ruangan itu. Luqman dan mama Firda segera mereka.
"Suster, bawa mereka ke ruangan yang paling baik. Sesuai dengan permintaan saya tadi."
"Baik, ustadz." Beberapa orang perawat itu menganggukkan kepalanya bersamaan.
Pasien wanita menatap Luqman dan mama Firda bergantian, tapi belum berbicara sepatah kata pun.
Begitu juga dengan yang di tatap, karena Luqman tidak ingin mengganggu waktu istirahat pasien. Nanti jika sudah berada di ruangan, barulah ia akan mengucapkan kalimat permintaan maaf.
Luqman dan mama Firda menatap kepergian perawat dan pasien, sampai bayangan mereka menghilang di balik tikungan.
Setelah berselang cukup lama, barulah pintu ruang operasi terbuka.
Tampak beberapa orang perawat mendorong Mawar yang masih menutup mata di atas brankar. Luqman dan mama Firda mengikuti langkah mereka, yang berjalan menuju ruang perawatan.
**
Kini, pasien pasangan suami-istri itu sudah berada di ruang perawatan.
"Ma." Desis pasien pria, setelah menoleh ke kiri dan kanan, dan melihat istrinya terbaring di brankar tempat tidur sampingnya.
"Iya, pa. Bagaimana keadaan papa?" Wanita itu menoleh ke arah suaminya.
"Kepala papa masih sedikit pusing." Pria itu memegang kepalanya.
__ADS_1
"Keadaan mama sendiri bagaimana?"
"Mama tidak begitu pusing. Tapi seluruh badan mama terasa sakit."
"Kita harus melakukan Rontgen ma, untuk mengetahui apakah terjadi sesuatu yang serius dalam tubuh kita."
Belum selesai keduanya bercakap-cakap, terdengar suara pintu dibuka. Rombongan Luqman terlihat memasuki ruangan itu. Keduanya memperhatikan dengan seksama dari celah tirai yang sedikit terbuka.
Perawat memastikan keadaan Mawar, sebelum meninggalkannya.
"Setelah efek obat biusnya hilang, kemungkinan pasien akan perlahan sadar. Jika hal itu terjadi, segera hubungi kami ya, melalui nurse call."
"Baik, Dok." Mama Firda dan Luqman menjawab bersamaan.
Dokter dan team medis segera berlalu keluar, sedangkan Luqman dan mama Firda kembali mengalihkan pandangannya pada Mawar.
"Mawar, maafkan aku tidak mengikuti perkataan mu. Setelah keluar dari rumah sakit ini, aku akan memperkerjakan seorang sopir seperti permintaan mu. Jadi aku mohon, kamu segeralah sembuh. Kami rindu mendengar celotehan mu. Bisik Luqman, sambil menatap dalam wajah Mawar yang tampak sedikit pucat.
Cukup lama hal itu terjadi, hingga akhirnya Luqman mendengar suara hembusan nafas orang lain. Seketika ia teringat tentang pasien yang ditabraknya.
"Ma, titip Mawar ya."
Mama Firda tampak cengo, mendengar ucapan anaknya. Rasanya tidak perlu berkata seperti itu, pasti dirinya juga akan menjaga Mawar dengan baik. Karena meskipun gadis itu hanyalah seorang asisten rumah tangga, tetapi perlakuannya sangat baik.
Setelah memastikan Mawar beristirahat dengan nyaman, Luqman mendekati pasangan suami-istri yang sudah terlebih dahulu masuk di ruangan itu.
"Permisi, maaf mengganggu waktunya." Dengan hati-hati Luqman berkata pada orang yang menjadi korbannya.
__ADS_1
Sejenak pasangan suami-istri yang sudah sadar itu memandang ke arahnya.
"Maafkan saya, karena sudah membuat bapak dan ibu menjadi seperti ini. Saya berjanji akan menanggung seluruh kerugian yang anda alami."
"Terima kasih, jika kamu mau melakukan hal itu untuk kami." Ucap pasien wanita.
"Tidak perlu mengucapkan hal itu Bu, karena sudah menjadi tanggung jawab saya."
"Kalau boleh tahu, siapa gadis yang tadi terlihat seperti terluka parah?" Wanita itu menatap Luqman dengan penuh selidik.
"Gadis?" Ulang Luqman, dan wanita itu menganggukkan kepalanya.
"Dia, Mawar. Asisten rumah tangga di kediaman saya."
"Asisten rumah tangga, di tempat anda?" Kini giliran wanita itu yang seperti terkejut.
"Iya, memang kenapa Bu?"
"Bagaimana keadaannya?"
"Ma, jangan bertanya seperti itu!" Suami dari wanita itu, yang sejak tadi diam, kini ikut angkat bicara.
"Kenapa, pa? Mama kan hanya ingin tahu saja."
"Takutnya mama kembali berharap, lalu tiba-tiba harapan itu patah. Papa hanya tidak ingin mama bersedih."
"Wajar dong pa, setiap manusia kan boleh berharap."
__ADS_1
"Ma, mama harus bisa mengikhlaskan semuanya yang sudah terjadi."
Luqman yang melihat interaksi keduanya, mengerutkan keningnya karena tidak tahu apa yang sedang dibicarakan keduanya.