Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
27. Belanja Bersama


__ADS_3

Di dalam kamar, Mawar telah mengganti bajunya. Lalu ia mencoba beberapa jilbab pemberian dari mama Firda dan Luqman.


Ia mencoba satu persatu jilbab itu dan merasa semuanya sangat cocok di pakai.


Karena bingung, ia mencoba memadupadankan baju warna Sage motif bunga yang ia pakai dengan jilbab instan warna silver.


"Hem, aku cantik juga ya kalau pakai jilbab seperti ini. Kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja aku memakainya." gumam Mawar, sambil menghadap ke sebuah cermin dengan tersenyum.


Setelah memastikan penampilannya rapi, Mawar keluar kamar. Karena sudah tidak sabar ingin pergi ke mall, gadis itu menyusul mama Firda ke kamarnya.


"Tante Firda." seru gadis itu sambil mengetuk pintu kamar majikannya berulang kali.


Setelah menunggu sekian menit, akhirnya perlahan pintu di buka.


"Mawar, kamu bikin Tante terburu-buru saja deh." Mawar meringis ke arah majikannya, yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Maaf, Tante. Soalnya Mawar sudah tidak sabar ingin ke mall. Jalan-jalan di sana."


"Ya, sudah. Ayo, ikuti Tante."


Mawar pun berjalan beriringan dengan mama Firda, menuju carport. Setelah memastikan semua aman, mama Firda melajukan mobilnya.


Perlahan kendaraan roda empat itu bergerak meninggalkan pelataran rumah, menuju jalan raya.


Tampak keramaian di sepanjang kanan dan kiri kedua sisi jalan. Berbagai penjual makanan junk food yang di kerubungi oleh para pembeli menambah kesan meriah. Di tambah temaram bolam lampu yang berwarna keemasan. Sungguh sedap di pandang.


Mama Firda sengaja membiarkan Mawar menikmati waktunya. Melihat gadis itu tampak menyunggingkan senyum sepanjang perjalanan, membuat mama Firda juga ikut menyunggingkan senyum.


Mama yang memang sering di tinggal Luqman keluar kota, dan sering merasa kesepian, kini merasa cukup terhibur dengan kehadiran Mawar.


Setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di mall. Mawar memperhatikan bangunan besar, yang di depannya terdapat pelataran yang cukup luas.


"Mulia supermarket." Mawar mengeja tulisan besar yang ada di depan gedung itu.


"Apakah itu yang dinamakan mall, Tante?" Mawar menunjuk bangunan tinggi besar yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Iya, Mawar. Ayo keluar."


Mawar menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti mama Firda yang sedang bersiap-siap keluar.


Keduanya berjalan beriringan memasuki mall terbesar di kota itu. Sepanjang jalan, Mawar tampak takjub melihat isi dalam mall.


Dulu Mawar memang pernah di ajak jalan-jalan oleh beberapa pelanggannya. Tapi hanya untuk sekedar menikmati waktu sambil makan di restoran. Jika di ajak belanja, paling hanyalah di sebuah toserba. Meskipun begitu, ia sudah senang tak terkira.


"Kamu mau jalan kemana dulu?"


"Terserah Tante saja." Mawar menoleh pada mama Firda.


"Kita belanja kebutuhan pokok dulu ya. Habis itu, kita baru keliling mall."


"Siap, Tante." Mawar menganggukkan kepalanya antusias.


Kedua wanita beda usia itu, berjalan mengambil troli. Lalu memasuki bagian market dalam mall itu.


Mata Mawar semakin berbinar, ketika melihat deretan makanan yang bervariasi jenisnya tersusun rapi di dalam rak.


"Oh, tidak. Apa seluruh makanan ini akan habis di beli oleh para pengunjung? Kalau tidak segera habis, apa tidak rugi?" gumam gadis itu. Ia terus menunjukkan kekagumannya pada isi mall itu.


Mawar pun memperhatikan apa yang baru saja di ambil oleh mama Firda, dan membandingkannya dengan yang ada di rak.


"Kenapa namanya beda-beda sih, Tan?"


"Karena tempat produksinya juga berbeda. Kandungan yang ada di dalamnya pun juga beda. Maka dari itu, kita sebagai konsumen harus jeli dalam memilih suatu produk. Karena apa yang masuk ke dalam perut kita, akan mempengaruhi akhlaq atau perilaku kita."


Mawar manggut-manggut mendengar penjelasan mama Firda. Setelah itu, keduanya kembali melanjutkan jalannya lagi.


Mereka mengambil roti tawar, bumbu-bumbu, sayuran segar, dan daging. Setelah itu, mereka menuju ke perlengkapan rumah tangga. Untuk mengambil sabun dan sebagainya.


Cukup lama keduanya berada di dalam market. Hingga dua troli yang mereka bawa penuh dengan barang belanjaan.


Untung saja, di mall itu banyak berjejer meja kasir. Sehingga keduanya tidak perlu mengantri cukup lama. Dan kini tibalah giliran mereka membayar belanjaannya.

__ADS_1


Mawar membulatkan matanya karena terkejut, ketika mendengar nominal total yang harus di bayar oleh mama Firda, senilai dua juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu tiga ratus rupiah.


"Tanggung sekali. Kenapa ngga bilang tiga juta rupiah saja sekalian." gumam Mawar dengan nada heran. Mama Firda dan petugas kasir yang mendengarnya seketika menyunggingkan senyum tipis.


Setelah membayar totalnya, mama Firda dan Mawar berlalu pergi. Mama pun menjelaskan pada gadis itu soal uang yang menjadi celotehannya tadi. Karena ia memang aktif bertanya.


Hal sekecil apapun yang mengganggu pikirannya, pasti akan langsung ditanyakan. Karena ia merasa mengalami keterbelakangan dalam segi ilmu.


Keduanya berjalan menuju fashion wanita. Deretan baju-baju dengan berbagai model terpajang rapi di sana. Mulai dari home dress, baju santai, pakaian olahraga, gamis, semuanya sangat lengkap.


Tangan Mawar bergerak memilih-milih celana kulot. Karena ia lebih nyaman memakai stelan panjang saat bekerja. Jika jalan-jalan seperti itu, tidak mengapa ia memakai gamis.


"Tante, Mawar beli ini. Tapi mau cobain dulu." Mawar menunjukkan beberapa celana kulot dengan berbagai warna pada mama Firda.


"Tidak apa-apa. Sini, Tante tunjukkan ruang gantinya."


Keduanya pun berjalan menuju ruang ganti yang terletak tidak jauh dari tempat tadi. Sesampainya di sana, Mawar segera masuk dan mencoba beberapa potong celana panjang yang ia bawa tadi. Mama Firda menunggunya dengan sabar.


Hingga beberapa menit berlalu, barulah Mawar keluar dari tempat ganti.


"Mana yang cocok untukmu?"


"Ini, Tante." Mawar menunjukkan satu celana berwarna mocca.


"Lhoh, cuma ini saja?" tanya mama Firda sedikit heran


"Iya, Tante. Tidak perlu banyak-banyak. Kalau menuruti keinginan mah, pasti tidak akan pernah ada puasnya. Rasanya seluruh isi mall ini pengen Mawar bawa pulang semua. Tapi Mawar ingat, kalau Mawar tidak boleh terlalu boros. Karena Mawar pernah merasakan susahnya tidak punya uang. Jadi ketika sudah punya uang, Mawar akan tetap berhemat. Siapa tahu nanti uangnya bisa di tabung untuk beli rumah, mobil atau sesuatu yang lebih penting lainnya."


Mama Firda selalu di buat tersenyum oleh Mawar, yang terkadang lucu dengan tingkah polosnya, atau terkadang juga bersikap sok bijak seperti saat sekarang.


"Ya sudah, uangnya kamu tabung saja. Semua celana ini, biar Tante yang bayarin."


"Eh, tidak usah Tante. Nanti Mawar jadi merasa tidak enak dengan Tante. Sudah numpang makan, numpang tidur, di beri uang. Masa ini mau dibelikan pakaian lagi."


"Tidak apa-apa. Tante ikhlas kok. Tante juga suka kalau kamu memiliki pemikiran yang mulai dewasa seperti ini. Ya sudah, ayo kita ke kasir. Atau kamu mau cari pakaian yang lain lagi?"

__ADS_1


"Em, sebenarnya Mawar beneran tidak enak, Tante. Tapi kalau beneran di paksa seperti ini, ya sudahlah, Mawar tambah lima kaos lagi. Kasian kan, kalau celananya lima tapi kaosnya cuma satu."


"Ish, dasar." Mama Firda menarik telinga Mawar pelan, sehingga membuat gadis itu meringis sambil memegang telinganya.


__ADS_2