
"Mas Luqman, kenapa kamu lihat Mawar seperti itu? Mawar kan jadi malu tahu."
Luqman ketahuan menatap gadis itu terlalu lama, sehingga membuatnya salah tingkah.
"Eh, percaya diri sekali kamu."
"Katanya orang hidup itu harus percaya diri."
Luqman dan mama Firda menatapnya sambil tersenyum. Bisa juga gadis itu membalas ucapan majikannya.
Meskipun statusnya sebagai asisten rumah tangga, ia tidak takut dengan majikannya. Menganggapnya seperti teman sendiri.
"Oh ya, besok pagi kamu mau ikut aku ke kantor tidak?"
"Mas Luqman mengajak, aku?" Mawar menunjuk batang hidungnya sendiri. Dan pria dihadapannya itu menganggukkan kepalanya.
"Apa Mawar juga di suruh untuk membersihkan kantor mas Luqman juga?"
Luqman membuang nafas kasar. Ada saja pertanyaan yang gadis itu lontarkan.
"Iya, dan kamu tidak boleh menolak." tegas Luqman.
Sejenak Mawar membayangkan perkantoran yang besar. Dan harus membersihkan semuanya sendirian. Betapa melelahkannya pekerjaan itu.
"Okay, Mawar akan berusaha mengerjakannya, mas."
Luqman dan mama Firda saling beradu pandang, lalu tersenyum. Keduanya suka dengan semangat yang Mawar tunjukkan.
Setelah itu mereka menyelesaikan makannya, lalu membayar total tagihannya. Tetap saja Mawar terkejut dengan total yang harus di bayar majikannya. Karena nilainya terbilang fantastis. Setara gajinya satu bulan.
"Kalau boleh tahu, perusahaan mas Luqman bergerak di bidang apa sih?" celetuk Mawar, saat ketiganya berjalan beriringan menuju mobil.
"Memang kenapa?" Luqman menatap Mawar sejenak.
"Heran saja, mas Luqman dan Tante Firda mudah sekali mengeluarkan uang. Seperti uang tinggal menggunting saja."
Luqman dan mama Firda tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejutnya, sehingga keduanya terkekeh bersama.
"Mawar, Mawar. Kalau tempat produksi uang, itu namanya bank. Perusahaan ku bergerak di bidang fashion wanita muslim. Seperti baju yang kamu pakai itu, salah satu hasil produksi dari perusahaan ku."
"Hah! Yang benar, mas?" kali ini giliran Mawar yang terkejut, dan Luqman pun menganggukkan kepalanya.
"Mawar nyaman sekali pakai baju ini, mas. Tapi kalau di pakai sehari-hari sayang juga, takut kotor. Nanti saja lah kalau Mawar sudah menikah dengan orang kaya dan di rumah ada asisten rumah tangganya, tiap hari mau pakai baju seperti ini."
"Aamiin." balas mama Firda dan Luqman bersamaan.
__ADS_1
**
Keesokan paginya, Mawar bangun lebih pagi lagi. Di saat majikannya belum bangun, ia sudah bangun duluan.
Tujuannya adalah membuat seisi rumah bersih sebelum berangkat ke perusahaan bersama majikan laki-lakinya.
"Mawar, jam berapa kamu bangun?" tanya mama Firda, sambil memperhatikan kanan dan kirinya yang sudah tampak rapi dan bersih.
"Jam tiga, Tante."
Mama Firda manggut-manggut mendengarnya. Setelah itu, ia bergerak mendekati sarapan yang sudah terhidang di meja makan.
Pagi itu Mawar juga telah menyiapkan beberapa menu sarapan. Pikirnya ia harus makan lebih banyak, sebagai tenaga untuk membersihkan perusahaan majikannya yang pasti besar.
"Mawar, Tante minta tolong untuk memanggil Luqman ya."
"Baik, Tante."
Mawar segera mempercepat gerakannya mencuci peralatan dapur. Setelah itu barulah ia berjalan menuju kamar majikannya. Tak berapa lama kemudian setelah ia mengetuk pintu, terdengar suara daun pintu di buka.
"Mawar, ada apa?"
Bukannya menjawab, Mawar justru menghirup dalam-dalam aroma wangi dari tubuh sang majikan. Hingga ia memejamkan matanya.
Meskipun kehidupan Mawar selalu di kelilingi oleh para lelaki, tapi sebenarnya dia merasa ilfill ketika melayani mereka. Dan hanya Luqman lah laki-laki pertama yang tidak membuatnya ilfill, bahkan ia justru kecanduan dengannya.
"Eh, iya mas. Tante Firda mengajak mas Luqman untuk menikmati sarapan pagi bersama."
"Iya, sebentar lagi aku juga akan turun. Oh iya, kamu juga harus bersiap-siap. Aku jadi mengajakmu ke kantor."
"Baik, mas. Mawar akan segera bersiap-siap."
Setelah menganggukkan kepalanya, gadis itu berlalu pergi. Ia segera mandi dan bersiap-siap.
Meskipun hanya sebagai tukang bersih-bersih, ia juga ingin tampak rapi di hadapan orang lain.
Kali ini ia memakai celana kulot warna cappucino, t-shirt lengan panjang warna putih dan jilbab instan berwarna senada dengan celananya.
Setelah memastikan penampilannya rapi, gadis itu ikut bergabung dengan majikannya untuk menikmati sarapan pagi bersama.
**
Luqman dan Mawar berpamitan pada mama Firda. Tak lupa keduanya juga mencium punggung tangan wanita anggun itu.
Setelah itu, barulah Luqman melajukan mobilnya menuju kantornya. Sepanjang perjalanan, Mawar tampak memperhatikan kanan dan kiri jalan. Ia di buat takjub dengan suasana kota yang ramai.
__ADS_1
Menempuh perjalanan satu jam, akhirnya perlahan mobil memasuki pelataran perusahaan. Mawar di buat terpana dengan tampilannya yang besar dan terlihat megah.
"Ayo, turun." ajak Luqman.
"Eh, iya mas."
Majikan dan asisten rumah tangga itu segera keluar dari mobil. Keduanya berjalan beriringan memasuki gedung kantor.
Mawar memperhatikan setiap sudut ruangan yang luas, rapi, bersih dan banyak lalu lalang orang yang tengah bekerja.
Karena terlalu takjub, hingga tak sadar Mawar menubruk tubuh Luqman yang mulai berjalan di depannya.
Gadis itu reflek memeluk tubuhnya dari belakang. Tentu saja hal itu mengundang perhatian yang lebih dari para karyawan. Bahkan mereka mulai saling berbisik sambil senyum-senyum sendiri. Karena selama ini bos nya tidak pernah membawa seorang wanita ke kantor.
"Eh, maaf mas. Tidak sengaja."
Mawar meringis menatap Luqman yang sudah berwajah tegang. Untung saja pria itu tidak marah, dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke ruangannya.
"Apa ini ruang kerja mas Luqman? Kenapa kecil sekali?" tanya gadis itu, sambil memperhatikan sudut dalam lift yang hanya berukuran dua kali dua meter.
"Jelas bukan, Mawar. Ini namanya lift. Di rumah juga ada, memang kamu belum pernah memakainya?"
Mawar menggelengkan kepalanya, dan tiba-tiba ia memeluk erat lengan Luqman sambil memejamkan matanya, karena itu adalah pertama kalinya ia masuk lift.
"Astaga, mas. Mawar takut."
"Tenang, ada aku di sini. Kamu tidak perlu takut." Luqman meletakkan tangannya di atas tangan Mawar, yang masih memegangnya dengan erat.
"Sudah sampai. Ayo keluar." ajak Luqman, sambil menggandeng tangan Mawar.
Perlahan gadis itu membuka matanya, lalu ikut melangkah keluar lift.
"Nah, ini baru ruang kerjaku." ucap Luqman, saat keduanya menginjakkan kaki di ruang direktur utama.
"Wow, benar-benar bagus." Mawar memindai seisi ruangan dengan takjub. Sedangkan Luqman, duduk di kursi kebesarannya sambil menghubungi salah satu karyawannya melalui panggilan intercom.
"Mawar, duduklah dulu sambil menunggu karyawan ku."
Mawar pun menganggukkan kepalanya, lalu duduk di depan Luqman. Sejenak ia mengamati benda-benda yang ada di atas meja depannya.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Luqman mempersilahkan masuk. Tampak seorang karyawan wanita yang berpakaian sopan, masuk ke dalam ruangan.
"Selamat pagi, tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Amel perkenalkan, ini Mawar. Dia yang akan menggantikan Linda untuk menjadi model kita. Hubungi pihak fotografi untuk menyiapkan segala sesuatunya."
__ADS_1
"Baik, tuan."
"Model? Model apa? Bukannya Mawar di ajak kesini untuk bersih-bersih perusahaan?" gumam gadis itu, yang membuat Amel, sang sekretaris Luqman mengernyitkan dahi. Sedangkan Luqman memijit pelipisnya pelan. Ia heran, kenapa Mawar selalu saja asal ceplos kalau berbicara.