Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
41. Pemikiran Mawar


__ADS_3

"Assalamu'alaikum." Ucap Farida.


"Wa'alaikumussalam." Balas mama Firda dan Mawar. Kedua wanita itu menoleh ke ambang pintu.


Terlihat Farida tersenyum, lalu berjalan menghampiri keduanya, dengan diikuti oleh Luqman.


"Ma, perkenalkan ini adalah Farida, putri dari pak Burhan, salah satu rekan bisnis papa." Luqman memperkenalkan Farida pada mamanya.


"Saya Farida, Tante." Gadis itu kembali mengurai senyum, sambil mencium punggung tangan mamanya Luqman.


"Saya Firda, mamanya Luqman." Balas mama dengan senyuman pula.


"Oh, kenapa nama kita hampir sama? Apakah kemungkinan kita akan berjodoh?" Canda Farida, disertai kekehan kecil.


"Bisa jadi, mbak. Tante dan kamu kan sama-sama cantik, baik, anggun, sholihah..."


"Mawar, banyak sekali sih kamu memuji, Tante?"


"Hihihi, kenyataan kok, Tante. Mawar suka melihat penampilan kalian yang anggun dalam balutan gamis muslimah."

__ADS_1


'Kamu juga kelihatan tambah anggun, kalau memakai baju muslimah seperti saat pemotretan itu, Mawar. Memang kamu tidak menyadarinya?' bisik Luqman dalam hati.


"Tante, makan apa? Biar Farida bantu menyuapi?"


"Bubur kacang hijau bikinan, Mawar. Tapi sudah habis kok."


"Tante mau buburnya lagi? Kalau iya, biar Mawar ambilkan. Nanti di suapin sama mbak Farida."


"Oh, tidak perlu Mawar. Tante sudah kenyang."


"Ya sudah, Mawar ijin keluar dulu, Tante. Mau mengerjakan tugas lainnya."


Setelah kepergian Mawar, kini giliran Farida yang duduk di tepi ranjang dekat dengan mama Firda. Sementara Luqman menarik sebuah kursi dan ikut duduk di samping keduanya.


"Tante, ini Farida bawakan kue. Nanti bisa di makan ya." Farida meletakkan box kue yang ia bawa, di atas nakas.


"Terima kasih, nak. Nanti Tante akan makan." Mama Firda mengulas senyum pada gadis muda di hadapannya.


Mama Firda memang seorang wanita yang humble, ia mudah akrab dengan siapa saja. Begitu juga ketika berbicara dengan Farida, meskipun keduanya baru bertemu pertama kali.

__ADS_1


Sebagai seorang asisten rumah tangga, Mawar tidak perlu di beri tahu lagi. Ketika ada tamu yang datang, sudah selayaknya ia menyajikan minuman ataupun cemilan.


Ia pun menyiapkan keduanya dan membawanya menuju ke kamar majikannya.


"Permisi. Ini cemilan dan minumannya. Biar tambah asyik ngobrolnya." Mawar memasuki kamar majikannya dan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.


Luqman yang melihat hal itu, segera mengangkat box kue dan barang lainnya yang ada di atas nakas. Agar Mawar bisa meletakkan minuman dan cemilan yang ia bawa.


"Mawar, bawa ini ke bawah ya." Luqman menyerahkan box kue dari Farida, pada Mawar.


"Lhoh, itu kuenya kan buat cemilan mama kamu, mas." Protes Farida terlihat tak suka.


"Maaf, di sini tempatnya kan sudah tidak muat. Nanti juga akan aku ambilkan untuk mama. Kamu tenang saja, Farida. Setiap makanan yang ada di rumah ini, tidak pernah berakhir di tong sampah. Karena makanan adalah sebagian rezeki dari Tuhan."


"Iya, mas. Maafkan aku, sudah berburuk sangka padamu."


Setelah menyelesaikan tugasnya melayani tamu, Mawar keluar dari ruang kamar itu. Sedangkan mereka bertiga yang ada di kamar juga terdengar kembali bercerita.


"Bukan kah wanita harus menjaga rasa malunya? Lalu, kenapa mbak Farida berani datang ke rumah mas Luqman? Harusnya mas Luqman dong yang datang ke rumahnya. Atau kalau mbak Farida mau main ke sini, paling tidak membawa seorang teman yang sejenis, agar tidak timbul fitnah. Aku saja yang cuma seorang mantan wanita kupu-kupu malam, tahu. Masa mbak Farida, tidak." Gumam Mawar pelan, sebelum pergi dari ambang pintu.

__ADS_1


__ADS_2