
Sesampainya di kantor, Luqman mempelajari sejenak apa yang akan dibahas dengan kliennya. Hingga sebuah suara dering telepon membuatnya menghentikan aktivitasnya.
Pria itu mengangkat gagang telepon, dan menempelkan ditelinga nya.
"Hallo, pak."
"Iya, hallo. Ada apa Sonya?" tanya Luqman pada sekretarisnya.
"Ini klien anda sudah datang, pak. Dan sekarang sedang menunggu di lobby."
"Oh, baiklah. Antarkan dia masuk ke ruang meeting."
"Baik, pak."
Setelah panggilan terputus, Luqman segera merapikan berkas-berkasnya, lalu membawa berkas penting itu menuju ruang meeting.
Saat keluar dari lift pribadi, ia berpapasan dengan kliennya yang juga baru keluar dari lift untuk umum. Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan. Setelah itu, barulah mereka berjalan bersama menuju ruang meeting.
Acara meeting pada siang hari itu, dihadiri oleh lima orang kliennya. Dan masing-masing dari mereka membawa seorang sekretarisnya. Termasuk seorang pria yang membawa anaknya yang sangat cantik dan berpakaian muslimah. Gadis itupun sejenak menjadi sorotan atau pusat perhatian. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Luqman. Pria itu terlihat biasa saja.
Setelah semua siap, meeting itupun dimulai. Luqman memimpin meeting pada siang hari itu.
Pria tampan dan matang itu mempresentasikan rancangan bajunya. Para kliennya sangat antusias mendengarkan presentasinya. Apalagi saat ini baju muslim memang menjadi salah satu trend belakangan ini.
Salah satu dari kliennya, yang bernama pak Burhan bersedia memasok bahan baku, untuk memperlancar proses produksi.
Kliennya yang lain, yang bernama pak Bima akan membeli hasil produksinya jika nanti sudah jadi. Selain akan dipasarkan di dalam negeri, juga akan di kirim keluar negeri.
__ADS_1
Kliennya yang lainnya juga bersedia memberikan suntikan dana.
Melihat antusiasme para kliennya, Luqman sangat bersyukur dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Setelah meeting selesai, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama.
Beberapa orang office boy mengantarkan menu makan siang yang lezat untuk mereka yang mengikuti rapat itu.
Luqman mempersilahkan mereka untuk menikmati menu yang telah disediakan.
Setelah mereka menghabiskan makanannya, satu persatu dari kliennya berpamitan pulang. Tapi ada seorang kliennya yang masih betah duduk di tempatnya sejak tadi. Ialah pak Burhan.
Pak Burhan adalah salah satu rekan kerja papanya Luqman, sejak awal merintis karirnya dalam dunia industri.
Oleh karena itu, dia sudah cukup akrab dengan keluarga Luqman. Kedua pria itu bercakap-cakap cukup lama. Sedangkan putri pak Burhan juga masih ada disitu dan menyimak setiap ucapan yang keluar dari mulut kedua pria beda usia itu.
Dalam hati ia begitu mengagumi sosok pria dihadapannya yang begitu tampan, matang dan berkharisma.
Karena begitu terpesona, gadis berjilbab toska itu sampai menjatuhkan bolpoin yang sejak tadi ia mainkan. Sontak hal itu mengalihkan perhatian papanya dan Luqman.
"Oh iya, sampai lupa belum mengenalkan putri om sejak tadi." ucap pak Burhan.
"Perkenalkan, ini putri om satu-satunya. Namanya Farida. Dia baru saja pulang, setelah menempuh pendidikan di luar negeri."
Kedua muda-mudi itu saling beradu pandang, menyunggingkan senyum dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Setiap kali ada acara bisnis, memang pak Burhan dan papanya Luqman tidak pernah mengajak ikut serta anak-anak mereka. Karena bocah-bocah itu lebih suka bermain dengan teman-temannya. Jadi bisa disimpulkan, itu adalah pertemuan pertama keduanya.
__ADS_1
Luqman tidak banyak bertanya soal Farida. Karena takut gadis itu akan mengambil suatu kesimpulan yang lain. Bagaimana pun juga keduanya berlawanan jenis.
Setelah sekian menit berlalu, pak Burhan dan Farida pamit pulang. Luqman mengantar mereka sampai lobby kantornya.
Pria itu memutar badannya, masuk ke dalam kantor lagi, setelah pak Burhan dan Farida masuk mobil. Tak disangka gadis ayu itu justru menatap punggung kekarnya tanpa kedip.
"Kenapa kamu menatapnya seperti itu, Farida?" tanya pak Burhan, mengetahui anaknya tengah diam tanpa kedip.
"Eh, siapa maksudnya pa?" balas gadis itu sedikit tegang.
"Kamu sedang menatap Luqman kan?"
"Tidak. Farida hanya memperhatikan bentuk depan kantornya saja pa." kilah gadis itu, terpaksa berbohong. Tentu saja ia malu dengan papanya.
Namun pak Burhan justru manggut-manggut sambil menyunggingkan senyum. Farida yang melihat papanya seperti itu, semakin tak nyaman. Gadis itu menebak papanya sudah mengetahui jika dirinya tengah berbohong.
"Asal kamu tahu, Farida. Sebenarnya papa dan papanya Luqman dulu sudah menjodohkan kalian berdua, sejak pertemanan kami memasuki usia tiga tahun."
"Apa! Dijodohkan?" pekik Farida sambil menatap papanya dengan raut wajah merah padam.
"Iya." pak Burhan menganggukkan kepalanya, sambil menatap putrinya.
"Apa kamu keberatan?"
Farida menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi, dengan pandangan yang menatap lurus ke depan.
'Siapa yang bakal menolak, jika dijodohkan dengan pria sebaik dia? Mungkin hanya wanita bodoh saja yang akan menolaknya.' batin Farida.
__ADS_1