
"Betul apa yang kamu katakan, Luqman. Farida memang selalu membuatkan kami susu kurma setiap hari. Rasanya memang enak. Saya yang tidak suka susu saja, bisa doyan." ucap pak Burhan.
Mendengar pujian yang terus-menerus dilontarkan oleh kedua pria yang ada di hadapannya, membuat Farida tersipu malu, hingga wajahnya kembali merona.
"Maaf, Farida mau mandi dulu." pamit gadis itu, sengaja memberi kesempatan pada kedua laki-laki di hadapannya untuk bercakap-cakap dengan nyaman.
Sesampainya di kamar, Farida meletakkan tas kerja ke tempatnya. Lalu mengambil baju ganti dan membawanya ke kamar mandi.
Tak ingin menunggu terlalu lama, Farida sudah keluar dari kamar mandi. Lalu menghadap ke cermin rias.
Ia sisir rambutnya yang panjangnya sepinggang, lalu mengucirnya dengan kencang . Agar saat memakai jilbab tetap terlihat rapi.
Layaknya remaja, ia juga merias wajahnya dengan pulasan make up. Terakhir ia mengenakan jilbab instan nya.
Kini gadis itu sudah kembali segar dan percaya diri. Ia mengenakan gamis berwarna grey dan jilbab berwarna merah.
Setelah memastikan penampilannya rapi, ia segera turun ke bawah. Untuk membantu mamanya menyiapkan makan malam.
Sesampainya di dapur, terlihat mama sedang menyusun makanan di atas meja. Farida segera membantunya.
"Kamu cantik sekali sayang." puji mama Berta.
"Mama kan cantik. Jadi cantiknya menurun ke Farida. Terima kasih ya ma, sudah mewariskan wajah cantiknya."
Farida tersenyum sambil memeluk mamanya. Ia menutup mata sejenak dengan hati yang diliputi rasa syukur.
"Terima kasih itu pada Allah, Farida."
__ADS_1
"Iya, ma. Farida tahu kok. Sudah pasti itu Farida lakukan."
"Oh iya, makanan sudah siap. Kamu panggil papa sekarang."
"Siap, ma." Farida menempelkan ujung jarinya ke pelipis. Setelah itu ia berjalan menuju ruang tamu, untuk memanggil papanya.
"Pa, semuanya sudah kami siapkan." papa menganggukkan kepalanya.
"Iya, Farida. Terima kasih. Nak Luqman, ayo kita ke belakang." pandangan pak Burhan, beralih dari Farida ke Luqman.
"Baik, pak." balas Luqman sambil menganggukkan kepalanya.
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju ruang makan. Sesampainya di sana, mereka duduk dengan saling berhadapan. Mama berhadapan dengan papa. Sedangkan Farida berhadapan dengan Luqman.
"Ayo, silahkan kamu ambil makanan yang menggugah selera mu, Luqman. Di habiskan juga tidak apa-apa. Saya justru akan sangat senang. Itu artinya, kamu menyukai masakan istri saya." kekeh pak Burhan.
Ketika ia tersenyum, terlihat jelas lesung pipinya. Sehingga membuatnya semakin menawan. Lagi-lagi hal itu membuat Farida begitu terpana.
Tangan Luqman bergerak ingin meraih sendok yang digunakan untuk mengambil cumi asam manis. Tanpa sengaja Farida juga ingin mengambil menu makanan yang sama dengannya.
Sehingga kini tangan keduanya saling bersentuhan, dan sepasang netra keduanya saling beradu pandang. Mama dan papa yang melihat keduanya, tersenyum tipis sebelum akhirnya berdehem.
"Eh, Maaf." ucap Farida dan Luqman bersamaan, sambil melepas sendok itu. Sejenak keduanya merasa canggung dan merasa tidak enak.
"Silahkan kamu ambil duluan." ucap Luqman, pada Farida.
"Tidak. Kamu saja yang mengambilnya duluan. Kamu kan tamu yang harus di muliakan."
__ADS_1
"Kamu juga wanita yang harus di muliakan."
Setelah saling mendebat, akhirnya Luqman lah yang mengambil cumi asam manis duluan. Kedua orang tua Farida menoleh sekilas ke arah pria itu dengan tatapan yang sama kagumnya.
Mereka makan malam bersama sambil sesekali bercerita.
**
Di kediaman Luqman, di waktu yang bersamaan. Sore itu sebenarnya mama berniat memasak untuk makan malam bersama.
Tapi ternyata Luqman memberi kabar padanya, bahwa ada acara makan malam bersama dengan rekan bisnisnya.
Karena hanya berdua dengan Mawar, di tambah stok sayur dan bahan makan mulai menipis, mama mengajak Mawar untuk pergi ke supermarket.
Tentu saja hal itu membuat Mawar kegirangan. Gadis itu segera berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Mama Firda yang melihatnya, menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, melihat kelakuan Mawar yang seperti anak kecil itu.
"Mawar."
"Iya, Tante." gadis itu membalikkan tubuhnya sambil menatap mama Firda.
"Nanti coba latihan pakai jilbab ya." sejenak Mawar terdiam, lalu menganggukkan kepalanya.
Selama sebulan lebih bekerja di tempat Luqman, Mawar memang belum pernah sekali pun memakai penutup kepala. Tapi meskipun begitu, ia sudah mulai membiasakan memakai baju dan celana kulot serba panjang. Atau sesekali dia juga memakai gamis pemberian dari mama Firda.
Baik mama Firda atau Luqman memang tidak langsung mengubah penampilan Mawar menjadi wanita Sholihah, yang memakai pakaian serba lebar dan panjang.
__ADS_1
Tapi mereka mengubahnya secara pelan-pelan. Karena keduanya tahu, untuk merubah suatu kebiasaan yang sudah mendarah daging itu tidaklah mudah. Perlu pelan-pelan, agar gadis itu merasa nyaman.