Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
58. Keadaan Mawar


__ADS_3

Luqman dan mama Firda mengikuti Mawar yang didorong menuju ke ruang operasi. Sesampainya di sana, keduanya tidak diijinkan masuk, dan menunggu di luar. Mereka berdo'a dan berharap semoga Mawar baik-baik saja.


Tidak dapat dipungkiri, Luqman begitu menyesal, karena tidak mengikuti perkataan gadis itu. Dimana ia menyuruhnya untuk memperkerjakan seorang supir. Padahal itu sebenarnya juga demi kebaikannya.


Ia berjanji, setelah Mawar keluar dari rumah sakit, akan memperkerjakan seorang supir. Ia tidak ingin lagi melakukan hal yang bisa membahayakan nyawa orang lain.


"Ma, apa kamu yakin, jika Mawar akan baik-baik saja?" Setelah sekian menit berlalu dalam keheningan, akhirnya Luqman angkat bicara.


Mama Firda menatap putra satu-satunya dengan seksama, lalu menganggukkan kepalanya, agar putranya tenang.


"In syaa Allah mama yakin, Mawar akan baik-baik saja. Kamu juga harus yakin. Ingat, dia adalah seorang gadis yang kuat." Mama Firda menggenggam tangan Luqman dengan erat, untuk memberinya kekuatan.


"Ma, Luqman sangat menyesal. Kenapa tidak sejak dulu saja, aku mengikuti perkataan Mawar. Jika aku mengikuti ucapannya sejak dulu, tentu tidak akan jadi begini jadinya."


"Penyesalan memang selalu datang terlambat, Luqman. Jadikanlah sebagai sebuah pelajaran. Orang menasehati kita, demi kebaikan kita juga. Dan sekarang, yang terpenting kita harus terus berdo'a, semoga Mawar bisa segera melewati masa kritisnya, dan bisa sehat seperti sedia kala." Mama Firda memeluk Luqman dan mengusap lembut bahunya untuk memberi kekuatan.


"Terima kasih, ma. Meskipun dalam keadaan seperti ini, mama tidak memarahi Luqman."

__ADS_1


"Sama-sama, sayang."


Setelah sekian menit berlalu, dokter keluar dari ruangan IGD, dan kebetulan melintas di depan Luqman dan mamanya. Pria itu pun segera menghentikan langkah team medis itu.


"Maaf, dok. Bagaimana keadaan pasien yang saya tabrak tadi?"


"Seperti apa yang saya katakan tadi, keduanya masih syok dengan keadaan yang baru saja dialami. Dan memang harus di rawat di sini untuk sementara waktu, agar bisa mengoptimalkan masa pemulihannya."


"Baiklah dok, tolong rawat keduanya di kamar yang paling bagus dan terdapat tiga tempat tidur pasien. Karena satu tempat tidur, untuk pasien yang sedang di operasi. Agar memudahkan saya untuk memantau perkembangan kondisi mereka bertiga."


"Baik, akan kami sediakan yang terbaik untuk setiap pasiennya, ustadz."


"Tidak perlu seperti itu, ustadz. Karena semuanya sudah menjadi tanggung jawab kami sebagai seorang team medis. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Silahkan dokter. Sekali lagi, saya ucapkan beribu-ribu ucapan terima kasih."


Dokter mengulas senyum pada Luqman dan mama Firda, sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Setelah kepergian sang dokter, pasangan ibu dan anak itu kembali duduk dan hanyut dalam pikiran masing-masing.


Barulah setelah satu jam lebih berlalu, lampu indikator ruang operasi padam. Tak berapa lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruang itu.


Luqman dan mama Firda seketika bangkit berdiri dan bergegas menghampiri sang dokter.


"Bagaimana keadaan Mawar, dok?" Luqman tampak panik dan tidak sabar mengetahui keadaan asisten rumah tangganya.


"Operasi telah berjalan dengan lancar. Sekarang tinggal menunggu pasien sadar saja."


"Syukurlah." Mama Firda dan Luqman mengucap syukur bersamaan.


"Kapan pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan, dok?" Luqman mencerca dokter dengan pertanyaan.


"Sekarang, karena perawat sedang merapikan peralatannya."


"Syukurlah, terima kasih dokter, untuk semua pertolongannya."

__ADS_1


"Anda lebih tahu, kepada siapa harus mengucapkan terima kasih, ustadz."


"Iya dok, saya tidak akan melupakan hal itu." Luqman tersenyum tipis, yang diikuti oleh dokter dan mama Firda.


__ADS_2