Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
16. Do'a Mawar bikin ngakak


__ADS_3

Mawar berjalan pelan keluar dari kamar Luqman. Ia merasa aneh, kenapa dua kali ia bisa jatuh di atas tubuh majikan prianya. Hingga ia tidak menyadari, jika mama Firda yang baru saja keluar dari kamarnya tengah menatapnya.


"Mawar, ada apa?" tanya wanita itu, ketika Mawar melintas dihadapannya.


"Eh, tante." Mawar mendongakkan kepalanya dan menatap majikannya yang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ada apa? Kenapa mukamu seperti itu? Apa Luqman melakukan sesuatu padamu?"


"Tidak kok, Tante. Mas Luqman itu kan baik, mana mungkin mau menyakiti hati Mawar."


"Lalu, kenapa matamu sedikit memerah?"


"Ini kejatuhan debu, Tante. Sepertinya Mawar harus lebih rajin membersihkan debu di rumah Tante deh."


"Iya, betul apa katamu. Ayo sekarang bersihkan debunya. Pakai alat menyedot ya."


"Baik, Tante."


Mawar segera turun melewati anak tangga, lalu berjalan ke gudang, untuk mengambil alat penyedot debu. Sedangkan mama Firda menatap kepergian Mawar sambil geleng-geleng kepala.


"Gadis itu benar-benar kuat. Semoga aku juga bisa sekuat dirinya, dalam menghadapi segala pekerjaannya yang belum pernah beres sama sekali." gumam mama Firda, dan berlalu turun pula.


**


Sedangkan di dalam kamar, setelah kepergian Mawar, Luqman duduk lesehan bersandar ranjang tempat tidurnya.

__ADS_1


Ia menekan dadanya kuat, merasakan detak jantungnya yang sejak tadi berdegup kencang karena ulah gadis itu.


"Seumur hidupku, baru kali ini aku bertemu dengan perempuan sekonyol dia. Apa aku kuat menghadapi tingkah konyolnya setiap hari? Tiga hari tinggal disini saja, sudah membuatku nano-nano rasanya. Apalagi jika dia tinggal lebih lama disini. Tapi jika dia tidak tinggal disini, mau tinggal dimana dia? Apalagi dengan pakaian yang seperti itu? Yang ada dia justru akan diterkam oleh laki-laki buas."


Huft ....


"Sepertinya aku harus kuat. Anggap saja ini ujian untukku, setelah lama tidak diberi ujian oleh Tuhan."


Luqman pun bangkit berdiri, dan memakai baju gantinya. Setelah memastikan penampilannya rapi, pria itupun bergegas keluar kamar.


Ia berjalan menuruni anak tangga untuk menikmati sarapan pagi bersama mamanya. Tak sengaja matanya menangkap bayangan Mawar yang tengah membersihkan lantai dengan alat penyedot.


"Semoga dia tidak bikin masalah lagi." gumamnya pelan. Lalu mempercepat langkahnya menuju ruang makan.


"Kenapa kamu lama sekali? Bukan kah hari ini kamu ada meeting dengan klien?" tanya mama Firda, ketika Luqman baru saja duduk di kursi sampingnya.


"Eh, tadi mama lihat Mawar matanya sembab habis dari kamarmu. Ada apa sih?"


Luqman mengernyitkan dahi sejenak sambil berpikir.


Ia mengingat dengan jelas, gadis itu matanya berkaca-kaca ketika ia menyuruhnya untuk keluar kamar. Tapi gadis itu berpikir ia disuruh keluar dari kediamannya.


"Tapi Luqman tidak apa-apa kan dia kok, ma. Yang membawanya kesini kan Luqman, masa tega Luqman tega menyakitinya."


"Iya juga sih. Tadi Mawar juga bicara seperti itu kok."

__ADS_1


Keduanya pun mulai menikmati sarapannya. Setelah selesai, Luqman berpamitan pada mamanya, dengan mencium punggung tangannya. Lalu ia menyambar tasnya dan berjalan menuju carport.


Saat melewati tempat yang sedang dibersihkan Mawar, ia berhenti sejenak. Ia teringat dengan ucapan mamanya.


Hatinya maju mundur untuk mengucapkan kata maaf, atas sikapnya tadi. Walau sebenarnya ia juga sudah meminta maaf.


Agar hatinya lebih tenang, akhirnya pria itupun kembali mengucapkan kalimat permintaan maaf.


"Mawar."


Gadis itu seketika menghentikan aktivitasnya, dan mendongakkan kepalanya. Ia terkejut ketika suara yang sangat dikenalinya memanggilnya. Dengan pelan, ia memutar badannya ke belakang.


"Iya, mas. Ada apa?" tanyanya sambil menundukkan pandangannya.


"Maaf ya, tadi aku sedikit berbicara keras padamu. Em, aku tadi cukup syok, atas peristiwa tak sengaja yang menimpa kita. Apalagi sewaktu kamu akan mengambil...."


"Tenang saja, aku tidak akan mengambil sesuatu yang berharga dari mas Luqman. Teringat akan besarnya kebaikan yang sudah mas dan Tante lakukan pada Mawar. Lagian itu kan haknya calon istri mas Luqman, masa Mawar tega mengambilnya." Mawar mengulas senyum, yang membuat hati Luqman merasa lega.


"Terima kasih ya, Mawar. Kamu sudah mau memaafkan ku."


Sekali lagi gadis itu menyunggingkan senyum dan menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, kalau begitu aku pamit mau ke kantor dulu."


"Iya. Hati-hati, mas. Mawar do'akan semoga pekerjaan mas Luqman lancar. Pulang-pulang bawa uang sekarung."

__ADS_1


Luqman mengaminkan doa itu, sambil terkekeh geli. Jika ia mendapatkan untung, tentu saja uang itu akan masuk ke rekeningnya. Bukan berwujud uang sekarung, seperti apa yang diucapkan oleh Mawar.


Pria itu menyadari Mawar begitu jauh tertinggal dengan peradaban, karena terkurung belasan tahun dalam rumah bordil. Sehingga ia perlu pelan-pelan mengenalkan teknologi padanya.


__ADS_2